Bicara Tentang Pengelolaan Banjir Ideal
Ketika banjir terjadi, fokus kita segera berubah untuk segera memberi respon dan pertolongan, khususnya kepada warga yang terkena banjir. Jika kita mengingat tahun 2010 yang lalu dimana curah hujan yang tinggi membuat kejadian banjir menjadi tajuk-tajuk utama berita di media massa. Banjir akibat luapan Sungai Citarum menjadi pemberitaan media nyaris sepanjang tahun 2010, karena banjir terjadi merata, baik di daerah hulu, tengah dan hilir.
Bagi sebagian besar warga yang tinggal di daerah-daerah “langganan” banjir Citarum, baik di bagian hulu, tengah maupun hilir, prioritas keinginan warga tentu adalah daerahnya tidak lagi mengalami banjir.
Menangani banjir dengan segudang permasalahan sebagaimana layaknya yang terjadi di Sungai Citarum bukanlah pekerjaan satu malam. Masalah saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Demikian pula dengan penyelesaiannya. Jika ditangani secara terpisah dan parsial, maka masalah banjir tidak akan pernah tuntas.

Dalam pengelolaan banjir, idealnya penanganannya terbagi atas tiga hal, yaitu (1) Perencanaan yang meliputi rencana mitigasi, (2) Respon ketika banjir terjadi dan (3) Pemulihan pasca banjir. Dalam ketiga penanganan ini perlu dilakukan upaya-upaya yang bersifat struktural dan non-struktural.
Pada Perencanaan, penanganan struktural meliputi peningkatan dan pemeliharaan aliran sungai, serta upaya pengendalian laju erosi, yang mengakibatkan masuknya tanah ke dalam sungai dalam jumlah besar. Sedangkan dalam upaya non-struktural pada Perencanaan, dapat dilakukan pemetaan terhadap daerah-daerah rawan banjir, yang diharapkan dapat membuat perencanaan mitigasi banjir dan membuat sistem peringatan dini bagi masyarakat di daerah-daerah tersebut. Selain itu membuat simulasi model curah hujan, simulasi banjir, serta membuat regulasi penggunaan lahan.
Pada respon penanganan ketika banjir terjadi, maka upaya struktural yang dilakukan adalah membuat tanggul-tanggul penahan luapan air sementara di pinggir sungai, terutama yang berbatasan langsung dengan permukiman. Sedangkan upaya non-struktural yang dilakukan misalnya dengan melakukan evakuasi warga ke daerah-daerah yang lebih aman.
![]() |
BBWS Citarum melakukan pelatihan mitigasi banjir untuk masyarakat di Bale Endah dan Dayeuh Kolot. Juni 2011 |
Sedangkan pada pemulihan pasca banjir, upaya struktural yang dilakukan adalah rekonstruksi prasarana yang terkena banjir. Rekonstruksi ini terbagi lagi ke dalam penanganan darurat dan permanen, misalnya membuat tanggul dan parapet untuk masa tanggap darurat.
Hal ini bertujuan untuk mengurangi laju kerusakan jika dalam waktu dekat terjadi banjir kembali. Sedangkan dalam penanganan permanen, diperlukan perencanaan yang lebih matang untuk membuat prasarana fisik yang dapat bermanfaat pada jangka waktu yang lebih panjang.
Upaya non-struktural dalam masa pemulihan pasca banjir, diperlukan upaya seperti mempersiapkan lokasi-lokasi pengungsian, merencanakan logistik dan mobilisasinya ketika banjir terjadi, terutama pengadaan makanan dan air bersih.
Jika kita berbicara mengenai gambaran besar pengelolaan banjir ideal, maka diagram berikut ini menunjukkan gambaran tersebut.

Sumber: Paparan Flood Management in the Upper Citarum Basin (Planning for Flood Intervention), BBWSC, Mei 2010
Comprehensive Flood Management

Sumber: Paparan Expectation for Flood Control Management in Upper Citarum River Basin (Urgent Plan and Long Term Plan), BBWSC, Oktober 2010
Tulisan ini merupakan bagian dari Laporan Foto Tantangan Banjir Sungai Citarum
http://www.citarum.org/knowledge_center/upload/document/Tantangan_Banjir_Citarum_26Mar2012.pdf
Peran dan Upaya BBWS Citarum

Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 26/PRT/M/2006. Badan ini bertugas untuk mengelola sumber daya air di Wilayah Sungai Citarum yang meliputi perencanaan, pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi, pengembangan dan pendayagunaan Sumber Daya Air (SDA).
Secara rinci fungsi dari BBWS Citarum adalah: (a) penyusunan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai; (b) penyusunan rencana dan pelaksanaan pengelolaan kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai; (c) pengelolaan sumber daya air yang meliputi konservasi sumber daya air, pengembangan sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air pada wilayah sungai; (d) penyiapan rekomendasi teknis dalam pemberian ijin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai; (e) operasi dan pemeliharaan sumber daya air pada wilayah sungai; (f) pengelolaan sistem hidrologi; (g) penyelenggaraan data dan informasi sumber daya air; (h) fasilitasi kegiatan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada wilayah sungai (BBWSC berperan penting sebagai sekretariat Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air atau TKPSDA); (j) pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. (Sumber: Citarum Stakeholders Analysis B1 Report Institutional Strengthening for IWRM in the 6 Cis RBT, Desember 2010).


Didalam kerangka Program Pengelolaan SDA Citarum Terpadu atau Integrated Citarum Water Resources Management and Investment Program (ICWRMIP), posisi BBWSC adalah sebagai manajemen pelaksana program atau disebut sebagai Project Coordination Management Unit (PCMU) dan juga sebagai Project Implementation Unit (PIU) untuk beberapa kegiatan di dalam tahapan pelaksanaan ICWRMIP ini. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh BBWSC di dalam kerangka program ICWRMIP antara lain rehabilitasi jaringan utama Tarum Barat, melakukan studi untuk peningkatan sumber air baku Bandung dan pengembangan kebijakan pokok dan strategi untuk pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Citarum.
Dalam penanganan banjir di bagian Citarum hulu, beberapa upaya yang dilakukan oleh BBWS Citarum antara lain:
Upper Citarum Flood Control Urgent Plan
Pada tahun 1987-1988, BBWSC dibantu dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) melakukan studi dan rencana utama di daerah hulu sungai Citarum. Rancangan teknis dari studi ini selesai dilakukan pada 1992-1993. Konstruksi tahap pertama dilakukan pada tahun 1994-1999. Sedangkan konstruksi tahap ke-dua dilakukan pada tahun 1999-2008. Konstruksi tahap ketiga masih berada dalam usulan.
|
Periode Desain Perencanaan Banjir
Return Period of Design Flood
|
Daerah Genangan Banjir
Areas of Flood Inundation
|
||
|
Sebelum Proyek
|
Setelah Penyelesaian Rencana Mendesak
|
Setelah Penyelesaian Proyek Jangka Panjang
|
|
|
1.5-tahun (equal to ’86 flood)
|
7,450 ha
|
945 ha
|
Nil
|
|
5-tahun
|
10,082 ha
|
2,948 ha
|
83 ha
|
|
20-tahun
|
11,547 ha
|
4,358 ha
|
309 ha
|
|
50-tahun
|
12,804 ha
|
5,265 ha
|
1,240 ha
|

Sumber: JICA, BBWSC
Pada tahun 2010, penanganan fisik yang dilakukan BBWS Citarum di Kabupaten Bandung, khususnya daerah yang terkena banjir. Upaya ini termasuk dalam upaya penanganan program darurat dan jangka pendek dalam menghadapi anomali cuaca yang menyebabkan banjir yang dikenal sebagai banjir Citarum 2010.
Upaya ini antara lain penanggulangan darurat akibat bencana alam banjir di Sungai Cikeruh, Cimande, Ciraab & Cisunggalah, Kabupaten Bandung. Pemeliharaan Prasarana Pengendalian Banjir Sungai Citarum di Cieunteung hingga Dayeuh Kolot, peninggian dan pembangunan parapet, pengerukan sedimen dari muara sungai Cikapundung sampai dengan muara Citepus (hal ini termasuk dalam program pemeliharaan sungai) dan penanganan darurat di hulu Cieunteung.
![]() |
Saluran di Cieunteung yang dipenuhi oleh sampah. April 2010 |
![]() |
Pekerjaan perbaikan saluran di Cieunteung setelah selesai.November 2011. |
![]() |






