Mengembalikan Mata Air Ciburial
Bandung. Mata air berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Hal ini terjadi di mata air Ciburial yang terletak di Desa Cibeureum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, yang termasuk daerah hulu Sungai Citarum. Dulu masyarakat desa Cibeureum dan sekitarnya memanfaatkan mata air ini sebagai sumber air bersih. Namun sejak tahun 1984, ketika masuknya pipanisasi air, mata air Ciburial tidak lagi digunakan. Berangsur-angsur fungsinya berubah menjadi tempat pembuangan sampah.
“Di seputar daerah ini banyak potensi sumber air yang bisa menjadi tampungan air.” Kata Dede Jauhari, penggiat lingkungan yang aktif membuat embung-embung (kolam dalam Bahasa Sunda) di seputar Kecamatan Kertasari, yang terletak di kaki Gunung Wayang.
“Di daerah ini padahal terdapat 44 titik mata air yang tertampung dalam 11 embung” Kata Deni Riswandani, penggiat lingkungan yang aktif terlibat dalam upaya pemulihan Citarum.
![]() |
Kondisi awal mata air Ciburial, 2011. |
Beberapa mata air terutama yang berada di kawasan hulu Sungai Citarum, selain Situ Cisanti, sebenarnya menyimpan potensi sebagai cadangan suplai air bersih dan kolam-kolam retensi. Namun, saat ini keberadaannya belum difungsikan secara optimal bahkan terbengkalai.
Masyarakat desa Cibeureum mengajukan kegiatan penyelamatan mata air Ciburial. Usulan ini mendapat sambutan dan dukungan dari Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC). Sejak November 2011, survey dan sosialisasi dengan masyarakat sekitar dilakukan.
“Pelaksanaan kegiatan dilakukan sejak Februari hingga bulan Maret 2012, dan dilakukan bersama masyarakat, terutama untuk pembersihan kawasan seputar mata air. Ini merupakan bagian kegiatan dari Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA)” Kata R.Yayat Yuliana, dari Operasional dan Pemeliharaan BBWSC.
Lingkup kegiatan penyelamatan mata air Ciburial ini termasuk sosialisasi bersama para pemangku kepentingan setempat, pembersihan mata air dari sampah, membuat tempat pembuangan sampah sementara, penanganan sampah, pembangunan rumah kompos dan penanaman pohon.
![]() |
Mata air Ciburial yang bersih dan jernih kembali. |
Saat ini di seputar lokasi mata air Ciburial, kondisinya relatif Bersih dari sampah. Pohon-pohon baru sudah ditanam di sekitar lokasi. Dari mata air Ciburial, terdapat beberapa kolam-kolam air yang digunakan sebagai tampungan. Terlihat petani memanen selada air yang tumbuh di salah satu kolam, dan anak-anak kecil bermain air di kolam yang jernih.
“Kolam atau embung seperti ini, meskipun dalam skala-skala kecil, perannya sangat penting dalam dalam mengatasi permasalahan Sungai Citarum saat ini”, ujar Dr. A.Hassanudin.ME, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) ketika melakukan peninjauan lapangan ke Ciburial dan Situ Cisanti (24/4/12). Kunjungan lapangan ini diikuti oleh staf BBWSC, para penggiat lingkungan, serta pers.
Selain bisa dimaanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan, sumber air bersih ini bahkan bisa dimanfaatkan sebagai suplai air baku bagi masyarakat Kota Bandung apabila dikelola dengan baik. Embung-embung sebagai tempat penampungan air juga dapat dijadikan sebagai kolam-kolam retensi untuk menahan run off aliran air ke kawasan hilir.
“Banjir yang terjadi di Kawasan Bandung semata-mata bukan hanya terjadi karena daya tampung sungai yang menurun karena sedimentasi akibat erosi di kawasan hulu. Namun, aliran run off atau air permukaan yang tidak tertahan di kawasan hulu menyebabkan debit yang diterima kawasan hilir juga tinggi” demikian imbuh Hassanudin.
BBWS saat ini sedang melaksanakan Pekerjaan Rehabilitasi Pengendali Banjir Sungai Citarum yang dilakukan dari Sapan hingga Nanjung. Namun kegiatan normalisasi Sungai Citarum ini harus bersinegi dengan penanganan kawasan hulunya. “Banyaknya hutan produksi yang berubah menjadi perkebunan di sekitar hulu Citarum membuat tangkapan air semakin berkurang. Penggundulan hutan di sekitar hulu Citarum akan semakin membuat tanah di sekitarnya tergerus. Akibatnya, sedimentasi akan semakin tinggi dan pendangkalan Sungai Citarum semakin cepat juga” Hasanudin menjelaskan.
Selain pembangunan dan perbaikan infrastruktur, penanganan permasalahan Citarum salah satunya dilakukan dengan mengembalikan fungsi-fungsi kawasan hulu sesuai dengan tata ruangnya serta tentunya harus ada kerjasama semua pihak untuk mewujudkan tata kelola wilayah Sungai Citarum.
“Pemulihan Sungai Citarum harus dilakukan secara terpadu, bekerjasama antara instansi. Hal ini sedang kita lakukan di Tahap 1 Pelaksanaan Integrated Citarum Water Resources Management and Investment Program (ICWRMIP). Kita harus memadukan program di antara para pemangku kepentingan. Untuk tahap selanjutnya, kita berharap agar Perhutani bisa ikut serta dalam program ini” Kata Hasanudin.
![]() |
Kepala BBWSC, Dr.A Hasanudin, ME berdiskusi dengan jurnalis dari berbagai media di Situ Cisanti |





