Kami Masih Gatal-Gatal Kok
Sejak awal 2010, Kampung Ciwalengke ramai masuk dalam pemberitaan media massa akibat kualitas airnya yang buruk. Hingga saat ini, kampung yang terletak di Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung sering didatangi pengunjung dari luar.
Kampung kecil padat penduduk ini “tersembunyi” di balik tembok-tembok pabrik dan hamparan sawah yang berada di belakangnya. Memasuki Gang Hasan yang terletak di sisi sebuah supermarket kecil untuk mencapai Kampung Ciwalengke ini, disisi kanan jalan terdapat aliran air berwarna coklat yang dibatasi oleh tembok pabrik.
Ada dua WC terbuat dari seng be
rukuran 2 x 1 meter itu berada persis di atas aliran air. Cerobong asap menguarkan asap hitam dan dari pipa pembuangan pabrik, terkadang busa putih ikut “mewarnai” cokelatnya air di sepanjang aliran.
Apa yang membuat orang datang ke Kampung Ciwalengke, khususnya ke RT 2 RW 10? Tak lain karena di tempat ini kualitas air yang buruk telah menampakkan bukti bagi kesehatan.
Penyakit kulit seperti gatal-gatal, kurap dan koreng merupakan hal umum yang mudah ditemui di RT 2 ini. Salep gosok penghilang gatal hampir merupakan “wajib” punya bagi penghuninya yang rata-rata pendatang dan mengontrak di rumah-rumah petak 2 x 3 meter persegi ini.
Keterangan foto: (atas) air tercemar untuk mencuci beras. (bawah) Rohimah dan anaknya, difoto pada Desember 2009.
Sekitar 86 KK dengan perkiraan total 225 jiwa penghuni RT 2 ini menggunakan sumber air dari aliran air di sisi pabrik tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Selain mandi, cuci dan kakus, beberapa warga menggunakan air ini untuk minum.
“Kami masih gatal-gatal kok” Kata Rohimah (45 tahun) penghuni rumah kontrakan di RT2 ketika ditemui di Ciwalengke (28/6/12). “Sekarang ini sedang tidak gatal, tapi nanti gatal lagi. Kata dokter saya harus tes laboratorium untuk mengetahui penyebab gatal-gatal ini”
Karena keterbatasan biaya, ditambah suami yang sedang dirawat di rumah sakit, sehingga nyaris tidak memiliki penghasilan, tentu saja Rohimah menolak untuk memeriksakan dirinya lebih lanjut.
“Harga air bersih per jerigen Rp 3,000. Terlalu mahal untuk saya dan keluarga. Jadi saya pakai air yang ada” Kata Ema (34 tahun). Dengan suami buruh pabrik tekstil dengan tanggungan anak lima orang, keluarga ini harus membayar kontrakan rumah petak sebesar Rp 115,000/bulan.
Ema memilih untuk menampung dan menyaring air dari sumur di dekat rumahnya menggunakan kain yang diikatkan dimulut keran untuk kemudian dimasak menjadi air minum. Kain penyaring itu tidak pernah bertahan lama umurnya karena terlalu “berat” menyaring lumpur.
Iwa Detiyani (42 tahun), pekerja sosial dan warga RT2 RW 10 yang aktif mendampingi kegiatan-kegiatan kemasyarakatan mengatakan bahwa sulit untuk mendapatkan data riil dari jumlah penduduk yang terkena penyakit kulit di RT-nya tersebut.
Alasan pertama adalah karena penduduk di kawasan ini mayoritas pengontrak yang berpindah-pindah dan hanya sedikit yang merupakan penduduk atau penghuni tetap. Kedua adalah sulit mengakses data penderita penyakit kulit atau penyakit lainnya akibat buruknya kualitas air dan lingkungan di kawasan tersebut dari Puskesmas setempat.
Keterangan foto: Ema, warga RT2 RW 10 Kampung Ciwalengke
Kecamatan Majalaya berada di kawasan hulu Sungai Citarum, dengan jarak kurang dari 10 kilometer dari sumber mata air Citarum di Situ Cisanti. Kawasan ini dulunya terkenal akan industri tekstil pada masa kejayaannya pada periode tahun 1960-1980-an dan menyumbang untuk perekonomian dan devisa negara ini.
Kini dengan tingginya laju pencemaran di Sungai Citarum akibat limbah industri dan rumah tangga, kerugian ekonomi, kesehatan dan lingkungan mulai dirasakan.
Salah satu contohnya adalah yang dialami Pengelola Waduk Saguling Indonesia Power yang harus menambah anggaran pemeliharaannya sebesar Rp 1 milyar setiap tahunnya untuk mengolah air tercemar ini.
Industri di Majalaya
Keterangan foto: Deni Riswandani, Iwa Detiyani dan Elingan menunjukkan limbah yang dibuang ke sungai di daerah Kondang, Majalaya (28/6/12)
Menurut Deni Riswandani dari Komunitas Elemen Lingkungan (ELINGAN), ada 174 industri (104 industri kecil dan 70 industri besar) di Kecamatan Majalaya. Deni mengatakan penyakit kulit bukan hanya terdapat di Ciwalengke, melainkan juga desa-desa lain yang berada di tepi anak Sungai Citarum yang diduga sebagai tempat pembuangan limbah cair.
Desa-desa tersebut antara lain Desa Sukamaju (8 perusahaan), Desa Padamulya dan Sukamukti
(15 perusahaan) dan Desa Padaulun (12 perusahaan).
Gencarnya pemberitaan media lokal, nasional hingga internasional seperti Korea, Amerika dan Perancis menggerakkan pihak-pihak yang ingin membantu dan melihat kondisi langsung, baik dari pihak pemerintah, akademisi dan swasta.
Kunjungan demi kunjungan ke kawasan ini seringkali membuat timbulnya harapan penduduk di kawasan ini untuk dibangunnya fasilitas air bersih untuk mereka.
“Sudah banyak yang datang kemari, tapi tidak ada perubahan disini. Tidak ada air bersih untuk kami, kami tetap pakai air tercemar itu entah sampai kapan” Kata Teteh Iwa.
Meskipun pengunjung datang silih berganti ke kampung Ciwalengke, wawancara demi wawancara dilakukan dengan penduduk dan pengambilan sampel air beberapa kali telah dilakukan, upaya pelaksanaan pengadaan air bersih untuk Kampung Ciwalengke, khususnya di RT9 RW 10 ini belum bisa terlaksanakan.
Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh para calon pemberi bantuan antara lain permasalahan tanah, pembuatan sumur artesis di lokasi tersebut belum dinilai efektif karena kondisi lingkungan air di sekeliling kawasan tersebut sudah tercemar,
pipanisasi yang dinilai terlalu mahal, dan lain sebagainya.
“Kami belum putus harapan kalau suatu hari nanti akan ada bantuan air bersih untuk kami. Hanya itu yang kami inginkan” Kata Teh Iwa.
Teks: Diella Dachlan/Foto: Ng Swan Ti, Diella Dachlan/Dok. Cita-Citarum


