Indonesia   |    English   

Akibat Sedimentasi Tinggi Target Produksi Listrik Saguling Anjlok

Pikiran Rakyat. Kamis, 28/06/2012

http://www.pikiran-rakyat.com/node/194010

BANDUNG, (PRLM).- Menurunnya debtl air Waduk Saguling membuat PT Indonesia Power mengoreksi target produksi listrik tahun ini.

Anak perusahaan PT PLN (Persero) tersebut menargetkan produksi listrik dari Waduk Saguling sepanjang 2012 sebesar 2.764 giga watt hour (gwh) atau setara dengan pendapatan Rp 193 miliar.

Angka tersebut turun 36 gwh dibandingkan dengan realisasi produksi 2011 yang mencapai 2.800 gwh.

Menurut General Manager Indonesia Power Waduk Saguling, Eri Prabowo penurunan target produksi listrik tersebut dikarenakan merosotnya kuantitas serta kualitas aliran Sungan Citarum dan Waduk Saguling.

“Sedimentasi air di sepanjang Sungai Citarum dan Waduk Saguling sudah sangat mengkhawatirkan. Ini menjadi penyebab utama penurunan target produksi kami,” katanya di sela-sela acara Tutur Citarum di Kabupaten Bandung, Kamis (28/6).

Padahal, menurut dia, produksi listrik Indonesia Power sangat tergantung pada debit air di Waduk Saguling yang bersumber dari aliran Sungai Citarum. Namun, beberapa waktu terakhir air yang masuk dari Sungai Citarum ke Waduk Saguling sudah banyak berkurang.

“Saat ini setiap harinya ada sekitar 4,2 kubik per detik pasir yang masuk Waduk Saguling. Sampah di aliran Sungai Citarum yang berada di wilayah Cihampelas juga sangat banyak, mencapai 10 ton per hari,” tuturnya.

Padahal, menurut dia, pengelola Waduk Saguling menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan produksi listrik guna menjamin pasokan dan keterjangkauan harga komoditas energi tersebut. Harga jual listrik yang diproduksi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar Rp 70 per kilo watt hour (kwh), sedangkan yang diproduksi diesel Rp 1.800 per kwh.

Kepala Bidang Komunikasi Corporate Indonesia Power, Luthfi Hani, mengatakan, menurunnya kualitas air Sungai Citarum menyebabkan daya tahan waduk berkurang sebanyak delapan tahun. Kondisi tersebut akan terus menyusut apabila kualitas air Citarum semakin buruk.

Di sisi lain, menumpuknya limbah, sampah, dan sedimentasi juga membuat biaya perawatan PLTA Saguling membengkak. Menurut Luthfi, saat ini biaya perawatan waduk tersebut mencapai Rp 70 miliar per tahun.

Sebanyak Rp 5 miliar diantaranya khusus untuk pemeliharaan waduk. Sisanya untuk pemeliharaan turbin, mesin pembangkit listrik, tenaga kerja, dan lainnya. Tingginya pengeluaran Indonesia Power, menurut dia, menyebabkan anjloknya pendapatan perusahaan

“Akibat penurunan kualitas Sngai Citarum, kami harus mengeluarkan biaya perawatan emsin hingga Rp 1 miliar per tahun. Kami pun menghadapi ancaman kerusakan mesin lebih awal dari kemampuan semestinya. Padahal, pergantian mesin akan memakan biaya cukup besar,” katanya.

Oleh karena itu, ia mengaku berharap agar warga Jawa Barat bersama-sama menjaga kualitas dan kuantitas air Sungai Citarum. Ia juga meminta agar pemerintah setempat lebih tegas dalam menerapkan aturan pemeliharaan sungai, khususnya terkait pembuangan limbah industri dan limbah rumah tangga.

Pemerhati Citarum dari Komunitas Elemen Lingkungan (Elingan), Deni Riswandani, mengatakan, selain limbah rumah tangga Sungai Citarum juga tercemar limbah industri yang salah satunya berasal dari kawasan Majalaya. Tidak sedikit pemilikpabrik tekstil yang membuang limbah pabrik ke Sungai Citarum tanpa diolah terlebih dahulu. (A-150/A-89)***