Atlas, Agenda dan Aturan Main untuk Roadmap Citarum
Jakarta. Sebagai lanjutan dari Workshop Sinkronisasi Roadmap Wilayah Sungai Citarum dengan Perencanaan Daerah yang dilaksanakan di Jakarta pada akhir Maret lalu (28/3/12), Roadmap Coordination Management Unit (RCMU) Bappenas menyelenggarakan lokakarya lanjutan pembahasan.
Lokakarya ini dilaksanakan pada tanggal 3 dan 4 Juli 2012 di Bogor, dihadiri perwakilan dari pemerintah tingkat pusat, propinsi dan 13 Kabupaten/Kota di Wilayah Sungai Citarum di Propinsi Jawa Barat. Lokakarya ini dilaksanakan dengan tujuan untuk pemutakhiran Roadmap Citarum melalui pendekatan Atlas, Agenda dan Aturan Main (Triple-A).
“Penyusunan Atlas Citarum ini dilakukan dengan partisipasi bersama tim kerja multi-stakeholders dengan menggunakan data yang sudah tersedia yang berisi fakta, trend dan faktor dengan dukungan peta, grafik, tabel serta foto dengan menyebutkan sumber data dan informasi tersebut” Kata Rik Frankel, Team Leader Konsultan RCMU yang juga Team Leader dari Konsultan Triple-A.
“Setelah pembahasan mengenai Atlas yang berisi data dan informasi relevan di Wilayah Sungai Citarum yang dikumpulkan secara sistematis, pada kesempatan kali ini kita bersama-sama akan melakukan verifikasi Atlas Citarum, sekaligus untuk menyampaikan konsep Agenda untuk mencocokkan dan mensikronisasikan strategi, rencana dan program yang ada di Citarum” jelas Direktur Pengairan dan Irigasi Bappenas sekaligus Kepala RCMU, Ir. M.Donny Azdan, MA. MS, PhD.
Verifikasi Atlas ini dilakukan dengan membagi kelompok diskusi kecil ke dalam lima kategori pembagian yaitu: (1) Tata Ruang dan data informasi (2) Sosial ekonomi (3) Prasarana dan kebencanaan (4) Kelembagaan dan sumber pendanaan serta (5) Kabupaten-Kota.
Agenda Untuk Citarum
Pada hari ke-dua lokakarya, dibahas pula mengenai penyusunan Agenda untuk Citarum. Setelah pengumpulan informasi verifikasi melalui Atlas, maka Agenda akan mencocokkan, menggabungkan dan mensinkronkan strategi, rencana dan program yang ada di tingkat daerah, propinsi dan nasional yang berhubungan dengan kegiatan di Wilayah Sungai Citarum.
Konsep pengembangan strategis ini dirumuskan dalam rencana yang komprehensif serta mengindikasikan pula alternatif untuk sumber pembiayaan kegiatan.
Agenda Citarum nantinya akan berisi mengenai (1) Potensi serta hambatan pengembangan, (2) Rencana yang ada dan program yang sedang berlangsung (3) Visi, Strategi dan Rencana Aksi bersama pengembangan Wilayah Sungai Citarum, serta (4) Rencana Pembiayaan Multi-Sumber.
Sebagai jembatan antara Atlas dan Agenda, para pemangku kepentingan dalam tim kerja ini akan melakukan analisis SWOT (Strength-kekuatan, Weaknessess-kelemahan, Opportunities-peluang dan Threats-ancaman) dan ASAP (Analisis, Strategi dan Action Plan).
Hasil Awal Tim Monitoring
Selain itu, pemaparan juga dilakukan untuk hasil kerja tim konsultan bantuan teknis Paket A untuk penguatan institusi dan kelembagaan, serta hasil pengamatan awal tim konsultan Independent, Monitoring & Evaluation (IME) juga dilakukan.
Tim IME melakukan kunjungan lapangan pada 7 – 31 Mei 2012 lalu. Dari beberapa hasil pengamatan, terkait koordinasi dan integrasi, tim ini menemukan bahwa koordinasi penyusunan program dan kegiatan secara terpadu antar instansi di pemerintahan Kabupaten dan Kota belum terlihat nyata.
Di beberapa Kabupaten, pemerintah daerah tidak memiliki program spesifik terkait Citarum, akibat adanya pembagian wewenang berdasarkan undang-undang nasional dan ketentuan yang membatasi tanggung jawab instansi tingkat pemerintah daerah.
Tim IME juga mengidentifikasi adanya peluang-peluang dan potensi replikasi praktik-praktik yang baik di antara para pemangku kepentingan di Wilayah Sungai Citarum, misalnya kerjasama antara petani di Kertasari untuk pupuk kandang dari kotoran sapi yang biasanya dibuang langsung ke Sungai Citarum dengan petani di Karawang yang membutuhkan pupuk organik.
Kerjasama ini difasilitasi oleh Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, sebagai salah satu pelaksana sub-komponen kegiatan ICWRMIP. Sedangkan kelompok petani di Kecamatan Kertasari merupakan kelompok tani dalam kegiatan yang didukung oleh RCMU Bappenas.
Sungai Citarum yang memiliki berbagai para pemangku kepentingan, baik di sepanjang daerah aliran sungai, maupun di wilayah Sungai Citarum, membutuhkan komunikasi, koordinasi dan mekanisme yang jelas antara para pemangku kepentingan untuk berbuat tindakan nyata bagi pemulihan Wilayah Sungai Citarum secara terpadu.



