Data Status Mutu Air Anak Sungai Citarum di Kota Bandung 2020, Sungai Ciwastra Terburuk

Link: Data Status Mutu Air Anak Sungai Citarum di Kota Bandung 2020, Sungai Ciwastra Terburuk | BandungBergerak.id

Penulis Sarah Ashilah2 Januari 2022
Editor: Tri Joko Her Riadi



Sungai Ciwastra berstatus cemar sedang. Sungai Cikapundung, anak Sungai Citarum terpanjang di Kota Bandung yang pernah tercemar berat, kini berstatus cemar ringan.


BandungBergerak.id -  Sungai Citarum yang melintas di beberapa kabupaten dan kota di Jawa Barat merupakan sungai terpanjang ketiga di pulau Jawa setelah Sungai Bengawan Solo di Jawa Tengah dan Sungai Brantas di Jawa Timur. Sungai ini mengalir sejauh 290 kilometer dari hulu yang terletak di Situ Cisanti, Kabupaten Bandung, hingga hilir di Pantai Muara Bendera, Kabupaten Bekasi.

Sungai Citarum hingga hari ini menjadi nadi kehidupan bagi jutaan urang di sepanjang alirannya. Selain memasok sumber air bersih dan menyediakan mata pencaharian, sungai ini juga menjadi andalan produksi listrik yang mencukupi kebutuhan penduduk Jawa dan Bali.

Namun, Sungai Citarum juga tidak pernah luput dari masalah. Alih fungsi lahan membuat air makin sering meluap di musim hujan, memicu banjir tahunan. Sungai Citarum juga pernah menyandang julukan "Sungai Terkotor di Dunia" akibat banyaknya volume sampah dan limbah yang dibuang ke alirannya. Inilah permasalahan serius yang tidak kunjung tuntas tertangani oleh sekian banyak program, dengan jumlah anggaran yang fantastis, yang telah digulirkan pemerintah. 

Di Kota Bandung, merujuk dokumen Kota Bandung Dalam Angka 2021, terdapat 10 anak Sungai Citarum yang memiliki status mutu air tercemar, dengan status ringan hingga sedang per 2020. Sungai Cikapundung, yang merupakan anak Sungai Citarum terpanjang di Kota Bandung, yakni 28 kilometer, berstatus cemar ringan. Sementara itu, kondisi mutu air terburuk di tahun 2020, yakni cemar sedang, ditemukan di Sungai Ciwastra.

Faktor Pencemaran

Merujuk artikel "Kajian Penghitungan Beban Pencemaran Air Sungai di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung dari Sektor Domestik" yang ditulis oleh Yushi Rahayu, Iwan Juwana, dan Dyah Marganingrum, terbit di Jurnal Rekayasa Hijau Nomor 1 Volume 2, Maret 2018, diketahui bahwa Sungai Cikapundung pernah berstatus cemar berat pada 2015. Namun setahun kemudian, sungai yang membelah pusat Kota Bandung ini memiliki kriteria mutu air cemar sedang pada bulan kering dan cemar ringan pada bulan basah. 

Masih menurut jurnal yang sama, yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung itu, status mutu air sangat dipengaruhi oleh musim dan curah hujan. Kemarau yang berlangsung panjang dapat mempengaruhi kualitas air karena terjadi penumpukan zat pencemar yang melebihi daya tampung air. 

Keadaan lingkungan di sepanjang aliran sungai pun sangat berpengaruh pada status mutu air. Di ruas-ruas sungai yang melewati permukiman padat atau kawasan industri, kualitas airnya akan lebih buruk jika dibandingkan dengan kawasan lainnya.

Tercemarnya sungai di perkotaan banyak dipengaruhi oleh sektor domestik, khususnya kotoran manusia yang dihasilkan oleh aktivitas mandi, cuci, kakus (MCK) penduduk. Lalu ada juga bahan pencemar yang berasal dari sektor industri, pertanian, dan peternakan.

 

DLH Jabar matangkan rencana pembangunan etalase Sungai Citarum

Jumat, 13 Agustus 2021 17:30 WIB

https://www.antaranews.com/berita/2325186/dlh-jabar-matangkan-rencana-pembangunan-etalase-sungai-citarum

Pewarta : Ajat Sudradjat
Editor: Agus Salim

Bandung (ANTARA) - Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat Prima Mayaningtias menuturkan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) terus mematangkan rencana pembangunan etalase Sungai Citarum.

Rencananya etalase yang merepresentasikan contoh hasil penanganan Sungai Citarum dan upaya pemerintah dalam program pengendalian pencemaran dan kerusakan DAS Citarum melalui program Citarum Harum itu berada di kawasan Sub DAS Citarik Kabupaten Bandung.

"Saat ini sudah ada dua desa yang akan menjadi lokus pembangunan etalase Citarum. Kami akan menindaklanjuti dengan menyusun grand desain etalase Citarum ini karena grand disain ini harus disusun untuk pengaplikasian rencana jangka panjang atau long term plan," kata Prima dalam rapat virtual stakeholder Citarum di Bandung, Jumat.

Prima mengatakan, saat ini pihaknya akan melaju pada rencana penyusunan grand desain atau masterplan etaalse Citarum tersebut. Pihaknya menargetkan pada 2022 etalase Citarum tersebut dapat diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat.

Hadir pula dalam rapat virtual tersebut, Kepala Bidang Penilaian Kantor Wilayah DJKN Jawa Barat, Acep Irawan, PPK Tatalaksana Satker BBWS Citarum, R Yayat Yuliana, Tim Ahli Satgas Citarum Taufan Suranto, Bappeda Jabar, Dinas Permukiman dan Perumahan Jabar, dan BP2D Jabar.

Prima mengatakan sebelum melangkah pada rencana penysunan masterplan pihaknya meminta DJKN untuk memastikan status lahan yang akan menjadi lokus pembangunan etalase Citarum.

Sementara itu, Kepala Bidang Penilaian Kantor Wilayah DJKN Jawa Barat, Acep Irawan mengatakan DJKN ingin menjadikan etalase Citarum di Citarik sebagai ekowisata, kampung tematik, dan menjadikan amsyarakat sadar lingkungan, optimalisasi oxbow, wisata air, dan infrastruktur seperti bangunan pusat informasi Citarum Harum, dan community center/cultural center.

Lina Yulianty dari Bappeda Jabar menambahkan, meski rencana kegiatan tersebut tidak eksplisit ada di Rencana Aksi penanganan Citarum, namun sejalan dengan program-program Citarum.

Tim Ahli Satgas Citarum Taufan Suranto menambahkan, rencana etalase Citarum jika terwujud akan menjadi catatan sejarah di Citarum karena menerapkan skema kerjasama bersama multipihak. Hal itu selain pemerintah daerah tapi juga melibatkan pemerintah pusat hingga pihak luar dalam hal ini Monash University dan juga kalangan akademisi lainnya.

Tim Ahli Satgas Citarum Taufan Suranto menambahkan, rencana etalase Citarum jika terwujud akan menjadi catatan sejarah di Citarum karena menerapkan skema kerjasama bersama multipihak. Hal itu selain pemerintah daerah tapi juga melibatkan pemerintah pusat hingga pihak luar dalam hal ini Monash University dan juga kalangan akademisi lainnya.

"Selain itu juga ada proses menarik melibatkan masyarakat, dan ada keterlibatan aparatur pusat," ujar dia.

Taufan berharap selain etalase yang hanya fokus di lokus tertentu, pihaknya berharap Satgas membangun skema yang lebih besar lagi.

 

Hari Sungai Nasional, BBWS Citarum Minta Warga Lebih Peduli

 

Novianti Nurulliah


PIKIRAN RAKYAT - Peringati Hari Sungai Nasional 2021, Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWS Citarum) meminta masyarakat yang ada di daerah aliran sungai Citarum tetap peduli akan kelestarian sungai sepanjang 297 kilometer itu.

Tugas pemeliharaan sungai bukan hanya BBWS semata, melainkan masyarakat dan elemen lainnya.

Kepala BBWS Citarum Anang Muchlis mengatakan, pada momentum Hari Sungai Nasional tahun 2021, situasi masih memprihatinkan. pihaknya tetap berharap masyarakat peduli terhadap sungai-sungai yang ada di sekitar mereka.

“Kita semua tahu bahwa sungai-sungai kita yang melewati kota-kota besar ini cukup memprihatinkan. Kita mengajak masyarakat supaya sadar untuk memelihara sungai,” ucap Anang, Rabu 28 Juli 2021.

Diakui dia, saat ini masih banyak hunian-hunian liar yang ada di daerah aliran sungai.

Pihaknya bekerjasama dalam kegiatan Citarum Harum dengan Kodam III Siliwangi untuk menangani persoalan tersebut.

“Beberapa kali kemarin, sebelum wabah Covid meningkat tajam, kita sempat melaksanakan beberapa eksekusi lahan-lahan penertiban di sepanjang sungai. Kita juga mengerti bahwa jika kita melakukan hal seperti itu di saat ini rasanya kurang pas. Karena masyarakat juga sedang susah, maka kita tak bisa melakukan itu,” ucap Anang.

Selebihnya, dalam rangka memperingati Hari Sungai Nasional, BBWS CItarum menyalurkan sembako bagi pegawai harian lepas di lingkungan kantor BBWS dan juga masyarakat kurang mampu di sekitar kantor BBWS di Jalan Inspeksi Cidurian, Kota Bandung.

Percepat Pemulihan DAS Citarum, Jabar Gandeng Monash University

Penulis : Alifia Nuralita Rezqiana
Editor : Mikhael Gewati

 

KOMPAS.com – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengatakan, Pemprov Jabar berkolaborasi dengan Monash University untuk mempercepat pengendalian pencemaran dan kerusakan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Percepatan itu harus dilakukan mengingat DAS Citarum memiliki peran penting bagi masyarakat Jabar. “Jawa Barat provinsi terbesar di Indonesia. Kami memiliki 50 juta penduduk dan kami punya sungai terpanjang dengan 270 kilometer," ujar gubernur yang akrab disapa Kang Emil ini dalam acara penandatanganan letter of intent (LoI) dengan Monash University, Kamis (22/7/2021). Tidak hanya itu, melalui penandatanganan Lol tersebut, kata Kang Emil, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar juga ingin mengupayakan pertukaran ilmu dan data, guna mencari solusi lewat inovasi teknologi dan sosial dalam revitalisasi Sungai Citarum dan komunitas sekitarnya.

Sebagai informasi, sebelum pandemi Covid-19, Kang Emil sempat berkunjung ke Monash University di Melbourne Australia untuk membahas konsep co-design dan menguji pendekatan sosial, teknologi, serta ekonomi sebuah desa dekat Citarum.

Gubernur Jabar pun berharap kerja sama dengan Monash University tersebut dapat dikembangkan dan diperluas lagi. Menurutnya, kolaborasi antara Pemprov Jabar dan Monash University menjadi bukti sinergi pentaheliks, yaitu akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media, yang dilakukan dengan berbagai kampus. Adapun, selain Monash University, Pemprov Jabar juga menggandeng Universitas Indonesia (UI) untuk terlibat dalam kerja sama revitalisasi Sungai Citarum. Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum.

Menanggapi hal tersebut, Deputy Vice-Chancellor dan Vice-President (Global Engagement) Monash University Abid Khan mengaku antusias untuk bekerja sama dengan Pemprov Jabar. “Pandemi Covid-19 menjadi bukti bahwa akses air bersih dan kondisi lingkungan sekitar sangat penting untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com pada Jumat (23/7/2021). Menurut Abid Khan, kerja sama dengan Pemprov Jabar dapat menghadirkan perubahan nyata bagi jutaan orang yang hidupnya bergantung pada air sungai yang sudah tercemar. Adapun Direktur Informal Cities Lab, Fakultas Desain Seni dan Arsitektur Monash University Diego Ramirez-Lovering mengatakan, pihaknya ingin menggunakan desain perkotaan sebagai platform integratif untuk penanaman solusi berkelanjutan di DAS Citarum. Menurutnya, hal tersebut memungkinkan perkembangan aspek urban yang sejalan dengan modernisasi dinamika kesehatan bumi bisa tetap terjaga. Baca juga: Mengubah Limbah Ternak di Sungai Citarum Menjadi Bernilai “Pendekatan menyeluruh yang mengutamakan kualitas lingkungan dan kesehatan ekologis untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat merupakan hal yang penting. Terutama bagi mereka yang paling rentan terhadap perubahan iklim dan degradasi lingkungan,” papar Diego. Sementara itu, Ketua Tim Sosial Klaster Air Universitas Indonesia Reni Suwarso mengatakan, penanganan kesehatan sungai membutuhkan komitmen lintas sektor agar mencapai manfaat maksimal. “Kemampuan untuk mengakses dan mendapatkan manfaat dari air yang aman dan andal, memiliki kontribusi signifikan bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia, ekonomi, serta lingkungan,” katanya. Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jabar Prima Mayaningtyas menyatakan, pihaknya akan menjadi mitra pelaksana utama dalam kerja sama dengan Monash University, selama 12 bulan mulai Juli 2021.

“Ke depannya, kami (akan) mendorong lebih banyak lagi pemerintah kota (pemkot), swasta, dan masyarakat setempat untuk ambil bagian dalam revitalisasi Sungai Citarum,” ujarnya. Prima berharap, kerja sama dengan Monash University bisa menjadi panutan bagi program revitalisasi sungai lain di Indonesia. Untuk diketahui, sejak 2018 para peneliti dari enam fakultas di Monash University telah bermitra dengan perguruan tinggi dunia, institut-institut global, dan pemerintah Indonesia guna menjalankan program penelitian yang berfokus di DAS Citarum. Peneliti tersebut berasal dari fakultas Arts, Monash Sustainable Development Institute, Art, Design and Architecture, Business and Economics, dan Engineering and Science.

Hii! Air Sungai Citarum di Karawang Berubah Hitam dan Bau

Source: https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5640817/hii-air-sungai-citarum-di-karawang-berubah-hitam-dan-bau

Karawang - Air Sungai Citarum di Sektor 7, Telukjambe, Kabupaten Karawang tampak berwarna hitam dan mengeluarkan bau tidak sedap. Petugas dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) turun melakukan kajian.
Berdasarkan kesaksian warga, kondisi air Sungai Citarum berubah menjadi hitam mulai, Minggu (11/7/2021) kemarin. Selain berubah menjadi hitam air sungai juga mengeluarkan bau tidak sedap.

"Dua hari lalu itu masih coklat tidak berbau. Tapi kemarin dan sekarang mirip got. (Warna) hitam pekat dan berbau," kata Makhrul Shodiq (30), warga sekitar saat diwawancarai di rumahnya yang berdekatan dengan Sungai Citarum, sektor 7 Telukjambe, Senin (12/7) siang.

Sementara itu, Kepala Dinas DLHK, Wawan Setiawan menjelaskan warna hitam dan bau di Sungai Citarum, dikarenakan sedimentasi lumpur yang terangkat kepermukaan akibat surutnya air sungai.

"Saya sudah koordinasi dengan Dansektor 7 dan dari hasil lapangan, serta alat ukur telemetri air, warna hitam dan bau itu bukan karena pencemaran, melainkan karena sedimentasi lumpur yang tampak kepermukaan akibat surutnya debit air sungai meski statusnya tercemar ringan," ucap Wawan saat dihubungi melalui aplikasi WhatsApp.

Dari alat ukur telemetri air, pada hari ini didapatkan BOD 9,25 dan COD 145, 12 mg/liter. Sesuai baku mutu max 100 mg/liter dan suhu 29,34 derajat celsius.

"Dari hasil alat uji air, nilai storet -10 atau bisa dikatakan tercemar ringan," katanya.

Dijelaskannya kembali, surutnya air di DAS Citarum, karena sudah mulai memasuki kemarau. Selain itu air bendungan diarahkan ke Tarum Timur, Kabupaten Subang dan daerah Karawang Utara.

"Jadi kenapa surut, karena sudah masuk musim kemarau, nah kalau di Citarum itu, karena air bendungan diarahkan ke Tarum Timur, Kabupaten Subang dan untuk mengairi irigasi di Karawang Utara," jelasnya.

Adapun warna hitam di beberapa titik Sungai Citarum disebabkan sedimen dasar sungai yang sudah menghitam akibat endapan lumpur. "Kalau hitam itu karena sedimentasi dasar sungai yang sudah terjadi tahunan," katanya.

Terkait hasil dugaan tercemar limbah industri, ia mengakui pengambilan uji sampel air telah dilakukan. Nantinya pihaknya akan melakukan pengujian lebih lanjut.

"Sudah diambil airnya oleh tim dari sektor 7, dan nanti akan diuji hasilnya seperti apa," tandasnya

(mso/mso)