Masyarakat di Sekitar DAS Citarum Belum Nikmati Aliran Listrik

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/01/27/okffp2365-masyarakat-di-sekitar-das-citarum-belum-nikmati-aliran-listrik

Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Masyarakat Jawa Barat yang tinggal di daerah aliran sungai (DAS) Citarum nyatanya banyak yang belum menikmati aliran listrik. Padahal Sungai Citarum banyak digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar setelah sebelumnya sempat membahas hal tersebut dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta. "Tanggung jawab elektrifikasi di sekitar PLTA. Karena kan di sekitar PLTA ada desa-desa yang tidak teraliri listrik. Ini akan dibahas khusus tentang itu," kata Deddy, Jumat (27/1).

Dalam pertemuan Kamis (26/1) kemarin Wagub meminta Pemerintah, maupun Kementerian terkait, untuk juga memperhatikan masyarakat di sekitar Sungai Citarum yang belum menikmati aliran listrik di rumahnya. Ini karena mereka tinggal di sungai yang sebenarnya dimanfaatkan untuk aliran listrik.

Khusus Jawa Barat, kata Deddy, Sungai Citarum sedang sakit, jadi ia meminta kesediaan perusahaan ikut ambil andil dalam pemeliharaan. Apalagi mereka menggunakannya untuk kebutuhan pasokan pembangkit listrik. Ia meminta bukan hanya lewat dana CSR saja. Tapi juga harus masuk dalam operasional. 

"Pak Menteri (ESDM) minta surat khusus untuk itu, karena bagaimana pun PLTA ini sangat diperlukan," ungkapnya. Dengan demikian, ujarnya, manfaat yang diperoleh dari Sungai Citarum akan lebih meluas. Perusahaan juga bisa meningkatkan keuntungan karena sungai yang terjaga kualitasnya.

Pemprov Jabar Serius Tangani Sungai Citarum

http://fokusjabar.com/2017/01/25/pemprov-jabar-serius-tangani-sungai-citarum/

BANDUNG, FOKUSJabar.com : Pemerinah Provinsi Jawa Barat semakin serius menangani Sungai Citarum untuk menuju Citarum Bestari hingga airnya bisa dikonsumsi langsung oleh warga Jawa Barat.

Komitmen tersebut dibentuk Pemerintah Provinsi (Pemrov) Jawa Barat bukan hanya dengan Pemerintah Kabupaten/Kota dan pusat, namun kali ini dengan perusahaan pemanfaat Sungai Citarum.

Salah satunya, PT. Indonesia Power, sebuah perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di waduk Saguling dan Cirata yang berada dibawah PLN.

Pemrov Jawa Barat mengajak berkomitemen dengan perushaan tersebut karena memang bergantung pada aliran Sungai Citarum.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar (Demiz) mengatakan, sejumlah perusahaan dalam memberikan perhatian terhadap Sungai Citarum jangan hanya dengan Corporate Social Responsibility (CSR) saja, karena jumlahnya sedikit. Artinya, pihak perusahaan harus memasukan anggaran operasional.

” Pemanfaat sangat bergantung sekali kepada aliran sungai. Jika aliran sungai sudah tercemar parah, maka akan merugikan perusahaan itu sendiri,” kata Deddy di Gedung Sate, Rabu (25/1/2017).

Saat ini pihaknya baru mengumpulkan lima perusahaan yang berada dibawah PLN.  Itupun yang hanya pemanfaatan terhadap aliran sungai. Kedepannya akan mengumpulkan perusahaan yang menggunakan, memanfaatkan dan yang membuang limbah ke Sungai Citarum.

“Semua akan diajak berkomitmen untuk benar-benar menjaga Citarum dan mengendalikan limbah agar tidak semua masuk Sungai Citarum,” ucap Deddy.

Selain itu, pihaknya akan membuatkan Rencana Aksi Multifungsi Implementasi Pekerjaan (RAM IP) berasama pemerintah pusat, Kota/Kabupaten, aparatur hukum.

Sebelumnya RAM IP dibuat hanya untuk penanggulangan banjir. Kedepannya, betul-betul untuk limbah menciptakan air Sungai Citarum yang bersih. Kemudian yang akan ditekankan adalah pada penegakan hukum.

” Kami akan membuat Samsat Citarum yang didalamnya ada aparatur hukum termasuk TNI, Pemrpv Jabar, Pemkab/Pemkot serta akademisi,” kata dia.

Menurut Demiz, sebetulnya saat ini sudah ada perubahan dari Sungai Citarum dari beberapa tahun sebelumnya setelah program Citarum Bestari digalakan tahun 2014. Meski begitu, belum sesuai dengan apa yang diharapkan.

” Tahun ini kami semakin serius menuju Citarum Bestari. Pasalnya, Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang dan wajah peradaban di Jawa Barat. Karenanya, wajib untuk mengambalikan Sungai Citarum bersih,” ucap Demiz.

General Manager PLTA Saguling, Hendra Swain mengatakan, kondisi air waduk Saguling yang teraliri dari sungai Citarum satu tahun kebelakang mengalami degradasi yang cukup tinggi. Saat ini, air waduk tersebut berada pada kategori D tidak layak untuk konsumsi dan perikanan, air waduk Sagguling itu hanya cocok untuk industri.

” Dengan kondisi tersebut air Sungai Saguling sudah tidak bisa dugunakan air untuk Cooler (pendingin) mesin, kemudian juga berpengaruh kepada turbin,” kata dia.

Dengan begitu, perlu normalisasi air yang betul-betul bersih untuk PLTA.

” Jika kondisi air terus seperti ini, PTLA hanya mampu mengaliri listrik Kota Bandung saja 35 tahun, padahal beberapa belas tahun kebelakang harusnya bisa mengaliri listrik sampai 50 tahun termasuk untuk Bandung Selatan dan Cibinong,” pungkasnya.

Bupati Bandung Larang Pendirian Pabrik tak Miliki IPAL

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/01/25/okccr7365-bupati-bandung-larang-pendirian-pabrik-tak-miliki-ipal

Bupati Kabupaten Bandung Dadang M Naser

REPUBLIKA.CO.ID, SOREANG -- Bupati Bandung Dadang M Naser menegaskan tidak akan mengeluarkan izin pendirian pabrik dan menghasilkan limbah cair yang tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang baik. Saat ini yang merusak sebagian yang eksisting dan akan dibenahi hingga Citarum bersih. 

Namun menurutnya, akibat kebijakan tersebut sejumlah pengusaha mengancam akan mengalihkan investasinya ke daerah lain. Namun, dirinya melakukan itu demi terciptanya lingkungan yang lebih baik di Kabupaten Bandung.

"Memang kita butuh investasi untuk penyerapan tenaga kerja, tapi kalau ada limbahnya dan diolah secara asal, langsung gebrus ke Citarum, saya tidak mau," ujarnya, Rabu (25/1).

Menurutnya, sejumlah pengelola pabrik yang nakal langsung membuang limbah cair yang belum dikelola benar ke Sungai Citarum atau anak-anak sungainya. Itu menyebabkan Sungai Citarum menjadi tercemar, menjadi sungai terkotor di dunia.

Dirinya menambahkan pihaknya mempermudah berbagai perizinann dan memberikan pendampingan dari sejumlah dinas di Pemerintah Kabupaten Bandung untuk UKM. "10 persen anggaran Kabupaten Bandung untuk peningkatan pembangunan ekonomi masyarakat, di antaranya UKM," ungkapnya.

Ia menuturkan, jika terdapat yang memperlambat perizinan, maka bisa segera dilaporkan. Kecuali untuk pembuatan PT dan yang izinnya ke pusat atau provinsi. Saat ini, terdapat sekitar 10 ribu UKM di Kabupaten Bandung. Sebagian besar mendapat pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Bandung, di antaranya melalui pelatihan mengenai produksi, pengemasan, dan pemasaran.

Geber Gerakan Citarum Bestari, Pemprov Panggil 5 Perusahaan

http://www.inilahkoran.com/berita/bandung/65898/geber-gerakan-citarum-bestari-pemprov-panggil-5-perusahaan

INILAH, Bandung -Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus mendorong upaya normalisasi sungai Citarum melalui Gerakan Citarum Bersih, Hijau dan Lestari (Bestari) guna mengoptimalkan fungsi sungai sebagai peradaban masyarakat Jawa Barat.
 
Dikatakan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar sungai yang membentang di sepanjang Jawa Barat ini terus mengalami kerusakan kualitas air yang diakibatkan oleh sampah organik dan juga sampah non organik yang diakibatkan oleh aktifitas masyarakat dan juga aktifitas industri.
 
Sehingga pihaknya mengambil langkah dengan memanggil lima anak perusahaan pembangkit listrik milik negara PLN untuk ikut berpartisipasi dalam upaya normalisasi sungai Citarum yang nantinya akan berpengaruh juga terhadap kualitas produksi listrik.
 
"Kita panggil perusahaan-perusahaan yang berkaitan langsung pemanfaatan air sungai Citarum," ungkapnya usai melakukan Pengarahan pada rapat koordinasi dengan pimpinan Perusahaan Pemanfaatan Utama Sumber daya Air dalam rangka kemajuan gerakan Citarum Bestari, di Gedung Sate, Bandung, Rabu (25/1/2017).
 
Ia menuturkan pertemuan ini merupakan langkah penarikan komitmen dari perusahaan dan OPD yang berkaitan dengan pemanfaatan air sungai Citarum, sebab kata dia jika permasalahan ini terus berlarut dan tidak ada tindak lanjut, akan berakibat kompleks. Bukan saja banjir, pencemaran limbah, hingga nanti berpengaruh pada hasil produksi listrik di waduk-waduk yang dialiri oleh air Citarum.
 
"Supaya percepatan gerakan citarum Bestari semakin cepat, dengan komitmen pengusaha juga bukan hanya mengoptimalkan seoptimal mungkin, juga pemeliharaan agar tidak merugikan dirinya sendiri, ujarnya.
 
Maka dengan dibentuknya Samsat Citarum Bestari, diharapkan akan mencapai keberhasilan seperti halnya yang dicapai pada saat penyelesaian permasalahan Waduk Jati Gede.
 
Pertemuan kali ini kata dia, merupakan awal untuk perencanaan aksi multipihak, serta didukung oleh peran dari pengusaha yang memanfaatkan air dari Citarum, masyarakat juga akademisi. Sehingga penyelesaian permasalahan Citarum akan lebih cepat.
 
"Ini hanya awal saja, selain itu baru penegakan hukum," jelasnya.
 
Terlebih ia menilai Sungai Citarum merupakan sebagian wajah peradaban Jawa Barat, sebab Citarum mengaliri berbagai Kabupaten/Kota di Jabar, selain itu Citarum juga menghidupi jutaan masyarakat.
 
Oleh karena itu, langkah ini sangat penting dilakukan agar Citarum lebih cepat normalisasinya. Sebelumnya kata Demiz, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi sampah kasat mata. Seperti halnya membentuk 190 komunitas Ecovilage, membangun desa dengan berbasis lingkungan, bersama TNI melakukan pembersihan sampah kasat mata.
 
"Sampah dibersihkan selama 6 bulan, bekerja sama dengan TNI bersama masyarakat, dan itu signifikan mengurangi sampah, namun masih belum bisa mengubah perilaku masyarakat," imbuhnya.
 
Ia mengakui dalam menyelesaikan permasalahan Sungai Citarum merupakan pekerjaan yang tidak mudah, sebab bukan hanya mengembalikan kondisi sungai Citarum, tapi juga memperbaiki pola pikir masyarakat. Terlebih kata dia pemerintah pusat sudah menaruh perhatian lebih terhadap permasalahan Citarum, itu terbukti dengan gelontoran anggaran untuk normalisasi Sungai Citarum dan Hulu Cimanuk.
 
Sementara Kepala BPLHD Jawa Barat Anang Sudarna menyebut keinginan pihaknya agar perusahaan tidak menganggarkan dalam dana CSR, namun ia meminta perusahaan yang memanfaatkan air Citarum untuk menganggarkan normalisasi Citarum dalam anggaran operasionalnya.
 
Hal itu lantaran demi optimalnya produksi listrik mereka. Ia membandingkan jika saja air Citarum sudah tidak bisa digunakan untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik maka untuk menggerakkan turbin di Waduk Saguling dibutuhkan 7500 Ton batu bara, sehingga jika di rupiahkan anggaran tersebut akan membengkak.
 
Berbeda halnya dengan dialihkan kepada normalisasi sungai Citarum, dampaknya akan dirasakan secara signifikan, bukan saja produksi listrik yang meningkat juga terhadap masyarakat Jawa Barat yang dapat memanfaatkan air Citarum untuk kehidupan sehari-hari.
 
"Itu yang harus dipikirkan oleh perusahaan," pungkasnya.

Pemprov Minta Perusahaan Terlibat Pemeliharaan Citarum

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/pemprov-jabar/17/01/26/okdmdt368-pemprov-minta-perusahaan-terlibat-pemeliharaan-citarum

Situ Cisanti yang menjadi hulu Sungai Citarum

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat meminta kesediaan perusahaan yang memanfaatkan air dari Sungai Citarum untuk membantu pemeliharaan Sungai Citarum. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat Annag Sudarna mengatakan pemprov meminta kesediaan terutama pada perusahaan pemanfaat air sungai. Seperti PLN, Indonesia Power, Perum Jasa Tirta II.

Anang menyebut bantuan ini bisa dilakukan perusahaan untuk mengalokasikan anggaran pemeliharaan sungai lewat dana operasional. Karena selama ini kontribusi terhadap pemeliharaan sungai hanya dalam sebagian bentuk dana corporate social responsibility (CSR).

"Sekarang kan mereka gratis memanfaatkan air. Tapi air ini mengalami penurunan kualitas. Tapi paling tidak kalau ada biaya operasi pemeliharaan yang dialihkan mengelola sampah supaya tidak masuk sana," kata Anang, Kamis (26/1).

Menurutnya dengan kontribusi lebih maka perusahaan bisa mengantisipasi kerugian akibat penurunan kualitas air akibat tercemarnya sungai. Pasalnya dalam rapat dipaparkan dari beberapa pelaku industri yang menyebutkan mesin mereka mengalami kerusakan karena air yang digunakan kotor.

Anang mengatakan biaya operasional yang bisa dikontribusikan tidak seberapa dibanding modal yang seharusnya dikeluarkan jika tidak menggunakan air sebagai pembangkit.

"Logikanya kalau harus membeli batu bara contoh Saguling kalau harus membangkitkan itu dengan batubara itu membutuhkan 7.500 ton kali 60 dolar AS per ton. Sehingga sebetulnya berapa besar uang yang harus dikeluarkan  untuk membangkitkan turbin yang mereka miliki. Sekarang kan dengan air itu gratis kan," kata dia.

Ia mengatakan dana operasional yang dianggarkan bisa digunakan untuk pengelolaan sampah agar tidak masuk kesana. Serta kegiatan menanam pohon di kawasan hulu untuk menjaga kelestarian lingkungan DAS. Dana operasional pemeliharaan Sungai Citarum dikatakannya tidak seberapa dibanding triliunan rupiah yang didapatkan perusahaan setiap tahunnya.

"Sekarang berapa triliun yang dihasilkan dari pemanfaatan sungai Citarum itu. Ada CSR itupun belum banyak. Itupun tidak jelas kemana. Kita inginkan memberikan dampak positif kesitu (Citarum)," ujarnya.

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar pun mendorong komitmen perusahaan berkontribusi memelihara Sungai Citarum. Sejalan dengan gerakan Citarum Bestari. Deddy menyebutkan jika tidak ada pemeliharaan sungai maka bahan utama perusahaan yang memanfaatkan air akan terus mengalami penurunan kualitas. Akibatnya, kerugian akan diderita perusahaan seperti rusaknya mesin yang digunakan.

"Mereka yang langsung berkaitan dengan pemanfaatan. Kalau nggak dikontrol pengusaha yang memanfaatkan seoptimal mungkin tapi pemeliharaannya tidak berlangsung malah merugikan sendiri," katanya.