Walhi Pertanyakan Efektivitas Danau Retensi di Cieunteung

http://www.inilahkoran.com/berita/bandung/54736/walhi-pertanyakan-efektivitas-danau-retensi-di-cieunteung

20 Maret 2016 19:09

 

INILAH, Bandung - Rencana pembangunan danau retensi sebagai tempat parkir air dari luapan Sungai Citarum di Kampung Cieunteung, diragukan efektivitasnya. 

Jika volume air yang bisa ditampung di danau tersebut hanya sedikit, keberadaan danau tersebut akan menjadi percuma dan tidak menyelesaikan permasalahan banjir di Bandung Selatan.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat Dadan Ramdan mengatakan, kapasitas daya tampung danau atau kolam retensi itu tergolong kecil, karena luasnya hanya sekitar seluas 12 hektare. Dengan luas seperti itu, tidak akan mampu menampung debit air Citarum yang sangat besar. Apalagi jika intensitas hujan cukup tinggi.

"Saya rasa untuk konteks Baleendah, Bojongsoang, dan Dayeuhkolot, danau retensi ini tidak akan menyelesaikan masalah banjir," kata Dadan, Minggu (20/3/2016).

Dia menilai, persoalan di sana sudah sangat kritis. Apalagi maraknya alih fungsi lahan di wilayah cekungan Bandung sudah sangat parah dan marak. Alih fungsi lahan ini pun, kata dia, dengan berbagai macam cara. Seperti yang semula hutan menjadi lahan pertanian, bangunan komersial, dan yang semula pertanian menjadi pemukiman.

"Sebenarnya ini yang perlu disegerakan penanganannya. Yakni bagaimana caranya membuat perlindungan terhadap kawasan konservasi," ujarnya.

Alih fungsi lahan ini, kata Dadan, banyak terjadi di wilayah hulu Sungai Citarum, seperti di Kecamatan Kertasari. Lalu di kawasan Gunung Patuha, Gunung Manglayang, Gunung Wayang, Gunung Geulis, Gunung Tangkubanparahu, dan Gunung Burangrang.

"Kondisi di masing-masing hulu ini juga kritis. Apalagi Kawasan Bandung Utara (KBU), yang juga sebagai wilayah hulu juga sama, kritis," katanya.

Apalagi, kata Dadan, 70% debit air di sungai Citarum itu dipasok dari KBU. Jika persoalan di KBU belum selesai, pembangunan danau retensi tersebut tidak menjamin bisa mengatasi persoalan banjir di dataran terendah cekungan Bandung.

"Jadi kalau nanti ada Bandung Teknopolis dan kereta cepat, itu justru akan memperparah banjir di Bandung Selatan. Upaya yang perlu dilakukan dalam jangka panjang adalah mengkaji kembali Rencana Tata Ruang Wilayah pada tiap wilayah kabupaten/kota yang berada di kawasan cekungan Bandung. Sedangkan untuk jangka pendeknya, membatasi perizinan di kawasan resapan air, dan merehabilitasi lahan yang kritis," jelas dia.

Selama ini, langkah pemerintah pusat dalam menangani banjir yang disebabkan oleh luapan Citarum ini hanya sebatas pembangunan fisik. Seperti membuat sodetan, kirmir, dan pengerukan. Cara ini dinilai Dadan hanya memboroskan anggaran dan tidak menyelesaikan persoalan banjir.

"Jadi hanya proyek, bukan program yang mengatasi masalah. Makanya harus diubah programnya. Bukan pada fisik, tapi lebih pada upaya merehabilitasi lahan, mengedukasi masyarakat," ujarnya.

Kinerja Balai Besar Wilayah Sungai Citarum pun dinilai lemah. Dadan menilai, BBWS Citarum gagal menangani banjir. Kinerja BBWS hingga kini sebatas pengerukan, pembuatan kirmir, dan pembangunan bendungan. Pekerjaan itu, lanjutnya, tidak menyelesaikan masalah banjir.

Kepala Pusat Pengelolaan Risiko dan Peluang Iklim wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Institut Pertanian Bogor, Rizaldi Boer menuturkan, pembangunan danau retensi perlu diimbangi dengan upaya merehabilitasi wilayah-wilayah tangkapan hujan di kawasan cekungan Bandung. 

Jika danau retensi dibangun tapi wilayah tangkapan hujannya tidak berfungsi, bahkan mengalami banyak kerusakan, danau itu akan kesulitan menampung limpahan air yang berasal dari hulu. Akibatnya, tetap saja aliran sungai Citarum meluap sehingga membuat banjir kawasan sekitarnya.‬

‪"Jika tidak didesain untuk mampu menampung kelebihan air limpahan yang begitu besar, itu tidak akan efektif," kata Rizaldi.

‪Rizaldi menambahkan, saat ini di wilayah tangkapan hujan, khususnya yang berada di area tebing-tebing curam, banyak ditanami tanaman holtikultura. Menurut dia, ini justru malah memperbesar potensi terjadinya bencana.

Di mata Rizaldi, penanaman holtikultura di lahan-lahan yang curam harus dialihkan dengan penanaman agroforesti, seperti kopi dan bambu. Jenis tanaman ini bahkan bisa membuat warga mendapatkan pendapatan yang lebih besar dari sebelumnya.

"Tapi ini perlu didukung pemerintah dengan membuat pasarnya, supaya petani mau beralih," ujarnya. [hus]