BPLHD Jabar: Pemkot Bandung Tak Becus Kelola Sampah

http://www.inilahkoran.com/berita/bandung/54776/bplhd-jabar-pemkot-bandung-tak-becus-kelola-sampah

Oleh : Dadi Haryadi21 Maret 2016

BPLHD Jabar: Pemkot Bandung Tak Becus Kelola Sampah

INILAH, Bandung - Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat menilai Pemerintah Kota Bandung tak becus mengelola sampah. 

Ini terlihat dari sampah yang menumpuk di anak Sungai Citarum, tepatnya di kawasan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Sampah tersebut merupakan kiriman dari kota yang berjuluk Parijs van Java itu.

Kepala BPLHD Jabar Anang Sudarna mengaku menemukan tumpukan sampah di muara Sungai Cikapundung. Sungai tersebut menjadi salah satu anak sungai Citarum. 

Tumpukan sampah terbilang fantastis karena punya panjang 150 meter dengan lebar 15 meter dengan ketebalan 1 meter. Adapun jenisnya sebagian besar merupakan sampah rumah tangga, streofoam, dan bahkan kasur.

"Volume sampahnya diperkirakan mencapai 500 ton. Saya sampai bisa berdiri di atas tumpukan sampah tersebut padahal di bawahnya aliran air. Diyakini sebagian besar dari Kota Bandung," ujar Anang kepada wartawan di Gedung Sate, Senin (21/3/2016).

Menurutnya, sampah menumpuk karena tersangkut pipa kabel listrik saat air sungai mengalami pasang akibat hujan deras. Tumpukan sampah ini dikeluhkan dan diprotes masyarakat yang tinggal di kawasan Bojongsoang.

Pihaknya sempat memfasilitasi keinginan masyarakat dengan menghadirkan instansi terkait dari Pemkab Bandung dan Pemkot Bandung. Dalam pertemuan ini, Pemkot berjanji akan membuat alat pengaman sampah sebagai langkah jangka pendek.

"Namun, kesepakatan ini tidak dilaksanakan oleh Pemkot karena masih banyak sampah di sungai sehingga kami menilai mereka gagal dalam pengelolaan sampah," katanya.

Anang mengaku tidak bisa melakukan penanganan masalah sampah secara langsung mengingat pengelolaannya berada di tangan pemerintah daerah. Ketentuan ini tercantum dalam Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup.

"Kita takut disangka intervensi, jadi diserahkan kepada mereka (Pemkot Bandung), tapi kalau tidak sanggup tinggal bilang saja," ucapnya.

Pemkot juga dinilai keliru melakukan pendekatan dan edukasi kepada masyarakat dalam pengelolaan sampah. Seharusnya, masyarakat mampu mengelola sampah hingga 60% sedangkan sisanya diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Dengan total penduduk sebanyak 2,7 juta orang dengan asumsi setiap individu menghasilkan 0,5-0,8 kg sampah per hari, maka sampah Kota Bandung diperkirakan mencapai 1.350 ton per hari.

"Mereka (Pemkot Bandung) punya banyak gerakan keren tapi belum berhasil mendidik masyarakat. Toh, masih banyak sisa sampah yang dibuang ke sungai," bebernya.

Melihat kondisi pengelolaan sampah yang masih carut marut, pihaknya mempertanyakan penghargaan Adipura yang diraih Pemkot Bandung.

Selain soal sampah, Pemkot juga belum berhasil memenuhi kebutuhan air bersih masyarakatnya. PDAM baru berhasil memenuhi sekitar 29 persen saja sedangkan 35 persen berasal dari air tanah dan sisanya masih tanda tanya.

"Sulitnya akses air bersih paling dirasakan oleh masyarkat yang tinggal di permukiman padat. Jika membuat sumur maka dipastikan airnya mengandung banyak bakteri e-coli karena dekat dengan septictank," jelasnya. [hus]

INILAH, Bandung - Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat menilai Pemerintah Kota Bandung tak becus mengelola sampah. 

Ini terlihat dari sampah yang menumpuk di anak Sungai Citarum, tepatnya di kawasan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Sampah tersebut merupakan kiriman dari kota yang berjuluk Parijs van Java itu.

Kepala BPLHD Jabar Anang Sudarna mengaku menemukan tumpukan sampah di muara Sungai Cikapundung. Sungai tersebut menjadi salah satu anak sungai Citarum. 

Tumpukan sampah terbilang fantastis karena punya panjang 150 meter dengan lebar 15 meter dengan ketebalan 1 meter. Adapun jenisnya sebagian besar merupakan sampah rumah tangga, streofoam, dan bahkan kasur.

"Volume sampahnya diperkirakan mencapai 500 ton. Saya sampai bisa berdiri di atas tumpukan sampah tersebut padahal di bawahnya aliran air. Diyakini sebagian besar dari Kota Bandung," ujar Anang kepada wartawan di Gedung Sate, Senin (21/3/2016).

Menurutnya, sampah menumpuk karena tersangkut pipa kabel listrik saat air sungai mengalami pasang akibat hujan deras. Tumpukan sampah ini dikeluhkan dan diprotes masyarakat yang tinggal di kawasan Bojongsoang.

Pihaknya sempat memfasilitasi keinginan masyarakat dengan menghadirkan instansi terkait dari Pemkab Bandung dan Pemkot Bandung. Dalam pertemuan ini, Pemkot berjanji akan membuat alat pengaman sampah sebagai langkah jangka pendek.

"Namun, kesepakatan ini tidak dilaksanakan oleh Pemkot karena masih banyak sampah di sungai sehingga kami menilai mereka gagal dalam pengelolaan sampah," katanya.

Anang mengaku tidak bisa melakukan penanganan masalah sampah secara langsung mengingat pengelolaannya berada di tangan pemerintah daerah. Ketentuan ini tercantum dalam Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup.

"Kita takut disangka intervensi, jadi diserahkan kepada mereka (Pemkot Bandung), tapi kalau tidak sanggup tinggal bilang saja," ucapnya.

Pemkot juga dinilai keliru melakukan pendekatan dan edukasi kepada masyarakat dalam pengelolaan sampah. Seharusnya, masyarakat mampu mengelola sampah hingga 60% sedangkan sisanya diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Dengan total penduduk sebanyak 2,7 juta orang dengan asumsi setiap individu menghasilkan 0,5-0,8 kg sampah per hari, maka sampah Kota Bandung diperkirakan mencapai 1.350 ton per hari.

"Mereka (Pemkot Bandung) punya banyak gerakan keren tapi belum berhasil mendidik masyarakat. Toh, masih banyak sisa sampah yang dibuang ke sungai," bebernya.

Melihat kondisi pengelolaan sampah yang masih carut marut, pihaknya mempertanyakan penghargaan Adipura yang diraih Pemkot Bandung.

Selain soal sampah, Pemkot juga belum berhasil memenuhi kebutuhan air bersih masyarakatnya. PDAM baru berhasil memenuhi sekitar 29 persen saja sedangkan 35 persen berasal dari air tanah dan sisanya masih tanda tanya.

"Sulitnya akses air bersih paling dirasakan oleh masyarkat yang tinggal di permukiman padat. Jika membuat sumur maka dipastikan airnya mengandung banyak bakteri e-coli karena dekat dengan septictank," jelasnya. [hus]