Dialami Sungai Citarik dan Cikijing Kemarau, Airnya Hanya Tersisa Limbah

Kamis, 08 September 2011

http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20110908032618&idkolom=jatinangor

MEMASUKI musim kemarau, sejak tiga bulan terakhir ini, ribuan hektare sawah di wilayah timur Kab. Bandung, terancam kekeringan. Begitu juga debit air di sejumlah sungai, mulai menyusut. Seperti Sungai Citarik dan Sungai Cikijing di Rancaekek, Kab. Bandung, yang hanya menyisakan limbah cair pabrik.

Keringnya kedua sungai tersebut berimbas pada pemanfaatan lahan pertanian yang tidak bisa digarap maksimal serta stok pangan, khususnya beras.

Diperkirakan kekeringan akan kian parah jika paceklik air terus terjadi dan tidak ada solusi untuk mengatasinya. Kekeringan baru akan teratasi jika hujan kembali turun. Saat ini untuk kebutuhan air, sejumlah petani hanya berharap pada hujan.

Berdasarkan pemantauan "GM", Rabu (7/9), Sungai Citarik, Sungai Cikijing, dan subanak sungai lainnya tampak kering. Genangan air di sejumlah titik di Sungai Citarik tak lain sisa limbah. Itu pun setelah pihak pengelola membendungnya. Air tersebut kemudian dialirkan ke selokan untuk mengairi lahan sawah.

Para petani juga membendung aliran Sungai Citarum di muara Sungai Citarik untuk membuat tanggul agar bisa mengaliri sungai. Air tersebut diharapkan bisa disedot mesin diesel untuk dialirkan ke sawah.

Sebagian besar lahan pertanian di wilayah timur sendiri sudah dipanen. Meski ada juga yang belum dipanen, karena memang belum waktunya. Selama musim kemarau tanaman padi tersebut mendapat pasokan air dari Sungai Citarik. Sementara ribuan hektare lahan pertanian lainnya, baik yang sudah dipanen maupun yang belum, di Kec. Rancaekek, Solokanjeruk, Cikancung, dan Rancaekek terlihat retak-retak karena tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.

"Setiap musim kemarau, para petani membendung Sungai Citarum," kata Isar (57), petani penggarap di Blok Lembang Kotok, Desa Sukamanah, Kec. Rancaekek kepada "GM" saat memotong rumput untuk kambingnya, Rabu (7/9).

Menurutnya, selain membendung Sungai Citarik, para petani juga membendung aliran sungai di pertigaan Sungai Citarum-Sungai Citarik. "Tapi air yang mengalir di Sungai Citarik itu sudah bercampur limbah cair pabrik di wilayah hulu. Nantinya, air disedot dengan mesin diesel. Mesinnya milik pribadi tapi ada juga yang milik kelompok tani," katanya.

Menurutnya, sebagian besar lahan pertanian di DAS Citarum tidak terjangkau pasokan air dari anak-anak sungai tersebut. "Menghadapi musim kemarau ini, banyak petani yang menganggur karena lahannya kekeringan. Jadi harapannya segera turun hujan. Namun saat ini hujan sulit diprediksi," katanya. (engkos kosasih/"GM")**