Semangat Organik Petani Rawamerta

Sebagai daerah sentra padi, sawah dan areal pertanian di Kabupaten Karawang selama bertahun-tahun diolah untuk budidaya pertanian. Disinyalir kini kondisi kesuburan lahan sawah di Karawang mengalami penurunan (leveling down).

Beberapa penyebabnya antara lain adalah penggunaan pupuk kimia dalam jangka waktu panjang mengubah struktur tanah. Para petani seringkali menggunakan pupuk urea secara berlebihan, dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas panen, namun dalam jangka waktu panjang pemakaian pupuk menjadi tidak lagi seimbang dengan kebutuhan dan kondisi tanah.

Menurut Sekretaris Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karawang, Ir. Zainal Mutaqin, untuk pengolahan lahan dan penanaman, biasanya petani di Karawang menerapkan pola tanam padi dua kali dalam setahun, diselingi dengan satu kali musim tanam untuk palawija.

Tetapi ternyata dengan pergiliran komoditas tanaman tersebut masih belum cukup maksimal untuk mengembalikan unsur hara tanah. Karena itu penanaman padi dengan metode SRI diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif solusi yang bijak di dalam pengelolaan lahan dan air. Pola penanaman padi metode SRI dengan organik penuh diharapkan dapat mengembalikan unsur hara tanah hingga dapat menjadi subur kembali.

Di Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, penanaman padi metode SRI program ICWRMIP yang dilakukan pada periode 2009 hingga 2011 meliputi 13 desa, melibatkan 22 kelompok petani dengan luas lahan sekitar 440 hektar. Luas lahan sawah yang ada di Kecamatan Rawamerta adalah 4,191 hektar.

Pak Umar, petani di Kecamatan Rawamerta yang kami temui hari itu (25/1/2012)  merupakan salah satu petani yang termasuk dalam program penanaman padi dengan metode SRI program ICWRMIP.

“Saya mulai dari diri sendiri, sejak 5 tahun ini atau sudah 10 musim tanam, saya sudah tidak lagi pakai pupuk kimia dan hanya pakai bahan-bahan alami saja untuk lahan saya” Kata Haji Umar Said, Ketua Kelompok Tani Mukti 2, Desa Panyingkiran, Kecamatan Rawamerta.

Pak Umar adalah petani yang gemar membaca dari berbagai literatur, informasi pengolahan lahan secara organik juga awalnya merupakan hasil dari kegemarannya membaca. Saat ini Pak Umar sedang bereksperimen dengan tanaman eceng gondok yang menurut referensi yang dibacanya, dapat berfungsi sebagai penyaring alami air.

“Kita kan tahu kalau Sungai Citarum sudah tercemar, meski air sudah diolah di waduk, saya ingin uji coba saja di lahan saya sendiri, semoga berasnya dapat lebih sehat lagi” Kata Pak Umar, yang membuat saluran sepanjang 40 meter untuk ditanami eceng gondok.

Antusiasme dengan penanaman padi dengan metode SRI organik, Kelompok Tani Mukti 2 bahkan ikut berkontribusi senilai dengan Rp 30 juta untuk mengembangkan rumah kompos dan mendirikan Organic Center di desa Panyingkiran.

Demikian pula dengan Kelompok Tani Srijayamukti di desa Pasir Kalilki. Pak Raskar, anggota kelompok Srijayamukti, menunjukkan batang padi dengan cara mencabut salah satu rumpun padi  dari lahan yang siap panen dalam waktu sebulan ke depan. “Lihat batang padinya lebih jangkung dan kalau dicabut juga lebih susah dan berat” Kata Pak Raskar.

Hari itu dengan bangga, Haji Dedi Supriyadi dan anggota kelompok tani Srijayamukti lainnya, menunjukkan simulasi tahapan cara pembuatan pupuk organik dengan bahan baku kotoran sapi dan mendemonstrasikan cara mesin pencacah jerami untuk kompos bekerja, hingga menggiling padi menjadi beras dan memasukkan beras ke dalam kemasan siap jual.

“Kami juga bereksperimen dengan bahan-bahan alami untuk mikroorganisme lokal dan pestisida alami untuk bahan penyemprot tanaman dari ekstrak rebusan kentang atau tanaman pohon Maja yang banyak di desa kami. Kami juga coba menggunakan keong emas yang dinilai sebagai hama, kami gunakan untuk pupuk, baunya ternyata  bisa menghalau tikus datang ke sawah” Kata Pak Dedi sambil tertawa.

Menurut Ade Hidayat, Kepala Balai Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Rawamerta, dalam program ICWRMIP di kecamatan ini, rata-rata satu kelompok tani terdiri dari 20 hingga 25 anggota, dengan total lahan garapan seluas 20 hektar.

“Idealnya kebutuhan pupuk organik untuk satu hektar sawah adalah minimal 10 ton. Namun yang ideal untuk hasil yang sangat baik adalah sekitar 20 ton per hektarnya” Jelas Pak Rudi. Dari tiga sapi bantuan program, jika satu sapi menghasilkan 20 kilogram kotoran, maka dalam sehari petani dapat mengumpulkan sekitar 60 kilogram kotoran hewan.

Pengolahan pupuk organik perlu dilakukan dari jauh hari, karena kotoran hewan membutuhkan proses fermentasi untuk menjadi pupuk.

Menurut Didin Suryadi dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karawang, kebutuhan pupuk organik di Karawang cukup tinggi. Bahkan bahan baku kotoran sapi pun sudah didatangkan dari daerah lain. “Para anggota kelompok tani pun masih berusaha memenuhi kebutuhan pupuk organik untuk dipakai di lahan garapannya sendiri, sehingga menurut cerita petani di sini, tawaran untuk membeli pupuk dalam jumlah besar pernah ditolak oleh petani, karena petani sendiri masih memerlukan pupuk organik” Kata Pak Didin menjelaskan.

Karena itu Pak Didin dan para anggota kelompok tani yang kami temui hari itu nyaris tidak mempercayai ketika mendengar informasi bahwa di daerah hulu sungai seperti Sungai Citarum dan Sungai Cikapundung, yang juga merupakan kawasan peternakan sapi, kotoran sapi ini sebagian besar belum diolah dengan baik, malah masih langsung dibuang ke sungai.

Antusias Dengan SRI

Para petani yang kami temui hari itu rata-rata mengungkapkan antusiasmenya di dalam menerapkan penanaman padi dengan metode SRI.

“Pada metode konvensional, biasanya kita perlu benih padi sekitar 25 kilogram per hektarnya, sedangkan dengan cara SRI, hanya perlu benih 5 kilogram per hektar, kan banyak penghematannya” Kata Pak Umar.

Hasil produksi panen padi yang meningkat merupakan insentif yang baik di dalam upaya petani untuk melakukan penanaman padi dengan metode SRI. Misalnya, di Kecamatan Rawamerta saja, pada tahun 2011 produksi padi  di Kecamatan Rawamerta meningkat menjadi 73,98 juta ton/hektar, sedangkan sebelumnya yaitu 69,61 juta ton/hektar.

Antusiasme para petani di dalam mengembangkan SRI sungguh patut mendapatkan dukungan. Apalagi dengan luas lahan pertanian Karawang yang begitu besar, tentunya membuka peluang besar untuk menerapkan budidaya pertanian produktif dan efektif serta ramah lingkungan sebagaimana yang telah dibuktikan selama ini oleh penanaman padi dengan metode SRI.

Penulis: Diella Dachlan, Nancy Rosmarini/ Foto: Ng Swan Ti/Doc.Cita-Citarum

Artikel ini merupakan bagian dari Laporan Foto
Produksi Padi Meningkat, Air Lebih Hemat
http://www.citarum.org/upload/knowledge/document/SRI_Produksi_Padi_Meningkat_Air_Lebih_Hemat.pdf