"Jika Harus Dipindahkan, Kami Siap"

Kampung Leuwi Bandung, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuh Kolot, ikut dihebohkan oleh datangnya air yang dalam sekejap menggenangi desa pada 22 Desember 2012 lalu. Letak desa yang berada di muara sungai Cikapundung dan bersisian dengan aliran Citarum, membuat tempat ini mendapat limpasan air dari dua sisi. Menurut Jatmiko (22), warga RT 01 RW 01 yang ikut menjadi anggota karang taruna desa, biasanya datang air bisa diperhatikan. Naik secara bertahap. Namun sekarang, datang langsung deras. “Grukk..Gruk.. Grukk.., kayak banjir bandang gitu,” jelas Miko.

Keterangan foto:
Kaswati (51) memperlihatkan bekasi tinggi air yang menggenangi gang menuju rumahnya di RT 03 RW 14 di Kampung Leuwi Bandung.

Susi (30), warga RT 03 RW 14, mengaku tidak sempat menyelamatkan perabotan rumahnya. Air yang tiba-tiba tinggi membuatnya takut dan memutuskan untuk keluar rumah. Dalam keadaan air yang mencapai leher, ia berpegangan pada tembok menyusuri gang-gang untuk mendapatkan bantuan. Wanita yang bekerja pada pabrik garmen ini, kini merasakan gatal-gatal yang hebat pada tangannya. Tangannya memerah dan mulai mengelupas. “Ini baru dari puskesmas. Awalnya gatel-gatel, digaruk, malah jadinya ngelupas gini,” ujarnya.

Leuwi Bandung 04

Keterangan foto:
Susi (30) memperlihatkan penyakit kulit akibat banjir yang menggenangi Kampung Leuwi Bandung. Kampung ini berada di pertemuan antara Sungai Cikapundung dan Sungai CItarum.

Leuwi Bandung merupakan kawasan padat penduduk. Rumah-rumah penduduk diapit oleh gang-gang kecil. Akses jalan keluar dari kampung ini hanya satu, yakni melewati jembatan yang melintasi sungai Cikapundung. Ketika banjir datang, tempat ini menjadi sulit diakses. Jatmiko mengaku, mendekati jembatan, arus sangat deras. Dirinya sampai harus memasang tali agar warga tidak terbawa arus saat proses evakuasi.

Karena sulit diakses, Menurut Ketua RW 01, Rahman Suhaemi (47), kampung ini pun sering luput dari perhatian. Padahal tinggi banjir di tempat ini mencapai 2 (dua) meter. Ketiadaan alat, membuat evakuasi dilakukan dengan menggunakan ban atau jolang (baskom besar). Yaya (37), warga RT 04 RW 14, masih ingat bagaimana pada banjir tahun 2005 lalu dirinya diangkut menggunakan baskom dalam keadaan hamil besar. “Udah takut bakal lahir, karena paginya habis dari bidan buat persiapan lahiran,” ujarnya.

Ketiadaan perahu pun turut membuat proses evakuasi semakin sulit. Warga ingin meminjam kepada desa tetangga, namun semua perahu dipakai untuk mengamankan desanya masing-masing. Akhirnya, warga melibatkan nelayan-nelayan pencari sampah di sungai Cikapundung. Selama musim banjir, mereka beralih profesi sebagai ojeg perahu dan ikut menyusuri gang-gang untuk menyelamatkan warga. Namun warga harus mengeluarkan kocek lebih. Kuraesin (70), warga RT 01 RW 01 mengaku diselamatkan perahu nelayan ketika terjebak di rumahnya. “Bayarnya Rp 3.000 satu orang,” ujarnya.

Pak Iing (46), yang ditemui tengah mengail sampah di muara sungai Cikapundung, mengaku telah ikut mengevakuasi warga banjir sejak tahun 1986. Ia bisa mendapatkan Rp 50.000 dalam sehari saat terjadi banjir. Meski banjir tetap tinggi, namun warga merasakan adanya perubahan. Dalam dua hari, air sudah surut sehingga mereka tidak perlu berminggu-minggu untuk mengungsi ke rumah saudara atau kerabat, mengingat kampung yang dihuni sekitar 7.000 jiwa ini tidak memiliki tempat pengungsian sendiri. Pasca dua hari banjir, warga terlihat tengah bekerja bakti membersihkan kampung dari sisa-sisa banjir. Lumpur bercampur sampah terlihat memenuhi selokan hingga ketinggian 50 cm.

Ariyanto (53), warga RT 03 RW 14, terlihat tengah membersihkan tiga kamar kontrakan. Ia mengaku telah lama membiarkan kamar itu kosong. “Ya gimana, kalau ada banjir kita pun engga bisa nolong, kalau ada yang mau, tak jual kabeh” ujarnya dalam bahasa Jawa. Hal yang sama banyak dilakukan oleh tetangganya. Banjir telah membuat usaha kontrakan di kampung ini terbunuh.

Bantuan yang datang pun sekedarnya. Menurut Yanto, pada banjir tanggal 25 Desember 2012 lalu, warga RT-nya yang berjumlah 73 KK hanya mendapat bantuan 7 kg beras dan 1 (satu) kardus mie instan. Agar tidak menimbulkan kecumburuan sosial, ia bersama pak RT membagi-bagikan satu genggam beras dan satu buah mie instan kepada setiap keluarga. Walau belum dirasakan maksimal, Rahman mengaku, warga di kampungnya sudah merasakan manfaat pengerukan. Air memang lebih cepat datang, namun penurunannya pun cepat. Meskipun untuk pengurangan debit air dan radius air masih tinggi. Namun Rahman mengaku warganya sudah stress. “Kalau memang harus dipindahkan atau dibangun polder, kami siap,” ujarnya.

Teks: Iffah Rachmi, foto: Deden Iman/Dok.Cita-Citarum