Perjalanan Panjang Hadirnya Air Bersih di Ciwalengke

Sejak masuk pemberitaan salah satu jaringan televisi milik Amerika, CNN pada awal tahun 2010 lalu, Kampung Ciwalengke, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya, mulai ramai masuk dalam pemberitaan media massa nasional akibat kualitas airnya yang buruk. Kampung Ciwalengke ini pun sering didatangi pengunjung dari luar, baik dari instansi pemerintah, mahasiswa, peneliti baik dari dalam dan luar negeri, wartawan hingga masyarakat umum yang ingin melihat kondisi kampung ini.

Kampung kecil padat penduduk ini “tersembunyi” di balik tembok-tembok pabrik dan hamparan sawah yang berada di belakangnya. Memasuki Gang Hasan yang terletak di sisi sebuah supermarket kecil untuk mencapai Kampung Ciwalengke ini, disisi kanan jalan terdapat aliran air berwarna coklat yang dibatasi oleh tembok pabrik.

Ada dua WC terbuat dari seng berukuran 2 x 1 meter itu berada persis di atas aliran air. Cerobong asap menguarkan asap hitam dari pipa pembuangan pabrik, terkadang busa putih ikut “mewarnai” cokelatnya air di sepanjang aliran. Di sisi aliran itu terdapat sampah yang menumpuk. Pemandangan yang “nyaris” menjadi pemandangan biasa bagi warga kampung itu.


Keterangan foto: Penyakit kulit yang banyak ditemui oleh warga Ciwalengke.

Apa yang membuat orang datang ke Kampung Ciwalengke, khususnya ke RT 2 RW 10? Tak lain karena di tempat ini kualitas air yang buruk telah menampakkan bukti bagi kesehatan.

Penyakit kulit seperti gatal-gatal, kurap dan koreng merupakan hal umum yang mudah ditemui di RT 02 ini. Salep gosok penghilang gatal hampir merupakan “wajib” punya bagi penghuninya yang rata-rata pendatang dan mengontrak di rumah-rumah petak 2 x 3 meter persegi ini.

Sekitar 86 KK dengan perkiraan total 225 jiwa penghuni RT 02 ini menggunakan sumber air dari aliran air di sisi pabrik tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Selain mandi, cuci dan kakus, beberapa warga menggunakan air ini untuk minum.

“Kami masih gatal-gatal kok” Kata Rohimah (45 tahun) penghuni rumah kontrakan di RT 02 ketika ditemui di Ciwalengke pertengahan tahun 2012 lalu(28/6/12). “Sekarang ini sedang tidak gatal, tapi nanti gatal lagi. Kata dokter saya harus tes laboratorium untuk mengetahui penyebab gatal-gatal ini”.

Rohimah menjadi salah satu warga RT 02 yang paling sering diwawancarai oleh media selama periode pemberitaan media massa 2009 hingga 2013 ini. Karena keterbatasan biaya, suami yang baru meninggal pada awal 2013 ini, sehingga nyaris tidak memiliki penghasilan, tentu saja Rohimah menolak untuk memeriksakan dirinya lebih lanjut.

“Harga air bersih per-jerigen Rp 3.000. Terlalu mahal untuk saya dan keluarga. Jadi saya pakai air yang ada” Kata  Ema (34 tahun). Dengan suami buruh pabrik tekstil dengan tanggungan anak lima orang, keluarga ini harus membayar kontrakan rumah petak sebesar Rp 115.000/bulan.

Keterangan foto: (kiri atas) Rohimah menunjukkan sumber airnya dari aliran air tercemar limbah. (tengah) air ini yang digunakan warga untuk mandi, cuci, kakus dan memasak. (kiri bawah) Tim CRP menguji hasil penyaringan air pada Februari 2013.

Ema memilih untuk menampung dan menyaring air dari sumur di dekat rumahnya menggunakan kain yang diikatkan di mulut keran untuk kemudian dimasak menjadi air minum. Kain penyaring itu tidak pernah bertahan lama umurnya karena terlalu “berat” menyaring lumpur.

Iwa Detiyani (42 tahun), pekerja sosial dan warga RT2 RW 10 yang aktif mendampingi kegiatan-kegiatan kemasyarakatan mengatakan bahwa sulit untuk mendapatkan data riil dari jumlah penduduk yang terkena penyakit kulit di RT-nya tersebut.

Alasan pertama adalah karena penduduk di kawasan ini mayoritas pengontrak yang berpindah-pindah dan hanya sedikit yang merupakan penduduk atau penghuni tetap. Kedua adalah sulit mengakses data penderita penyakit kulit atau penyakit lainnya akibat buruknya kualitas air dan lingkungan di kawasan tersebut dari Puskesmas setempat.

Deni Riswandani, Ketua Komunitas Elemen Lingkungan menyebutkan “Kampung Ciwalengke ini adalah salah satu zona industri di Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya. Setidaknya ada 15 industri yang beroperasi di Desa Sukamaju ini dan sebagian besar limbahnya dibuang langsung ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu”.

Air Bersih yang Terganjal Masalah

Keterangan foto: Media trip oleh Indonesia Power, Juni 2012

Gencarnya pemberitaan media lokal, nasional hingga internasional seperti Korea, Amerika dan Perancis menggerakkan pihak-pihak yang ingin membantu dan melihat kondisi langsung, baik dari pihak pemerintah, akademisi dan swasta.

Kunjungan demi kunjungan ke kawasan ini seringkali membuat timbulnya harapan penduduk di kawasan ini untuk dibangunnya fasilitas air bersih untuk mereka. “Sudah banyak yang datang kemari, tapi tidak ada perubahan di sini. Tidak ada air bersih untuk kami, kami tetap pakai air tercemar itu entah sampai kapan” Kata Iwa.

Di sisi lain, beberapa permasalahan yang dihadapi oleh para calon pemberi bantuan antara lain permasalahan tanah, pembuatan sumur artesis di lokasi tersebut belum dinilai efektif karena kondisi lingkungan air di sekeliling kawasan tersebut sudah tercemar, pipanisasi yang dinilai terlalu mahal, dan lain sebagainya.

Tahun 2010 Bappenas sempat membuat studi kecil mengenai alternatif-alternatif pengadaan air bersih untuk kampung Ciwalengke. Dari hasil studi singkat tersebut, pilihannya antara lain dengan pembuatan pipanisasi, daur ulang air limbah rumah tangga, menampung air hujan dan membuat sumur bor dengan kedalaman lebih dari 200 meter.

Di akhir tahun 2010, ada sumbangan individu untuk distribusi filter air sederhana bagi beberapa warga di RT 02 tersebut. Namun jumlahnya tidak seberapa dan usia unit filter berbentuk ember tersebut hanya dapat digunakan maksimal 1 tahun.

Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) misalnya berniat membantu warga dengan pengadaan sumur dalam pada tahun 2012. Namun realisasinya terganjal permasalahan tanah karena tanah yang direncanakan untuk titik lokasi pembangunan tersebut harus dibeli dan tidak bisa dihibahkan oleh pemiliknya. Lalu konsekuensi berikutnya adalah perawatan pompa dan listrik setelah sumur terbangun yang biayanya cukup mahal bagi warga ekonomi lemah yang tinggal di daerah ini.

Penjernih Air Sederhana untuk Ciwalengke
Tak putus harapan untuk mencari alternatif pengadaan air bersih untuk warga, Iwa, Deni dan Fitri dari Komunitas Elingan terus mengontak pihak-pihak dari luar yang diharapkan bersedia membantu. Lalu harapan itu datang.

Pada awal Maret 2013 lalu, Komunitas Elingan bersama beberapa individu yang terpanggil secara swadaya membuat rancangan sebuah penjernih air sederhana atau water ultrafiltrasi. Alat ini dirancang dengan sederhana hanya membutuhkan waktu kurang dari dua minggu untuk membuatnya menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di RT 02 yang padat permukiman.

Keterangan foto: pemasangan filter air pada 22 Maret 2013 di Ciwalengke

Alat ini tidak memerlukan listrik, pengoperasiannya cukup dengan semacam engkol yang digerakkan dengan tangan. Air berwarna kecokelatan dari saluran air yang juga merupakan buangan pabrik yang biasa digunakan warga kampung itu dimasukkan ke dalam bak penampungan, lalu air masuk ke dalam tabung yang tingginya kurang lebih 1 meter. Kapasitas penyaring air ini adalah sekitar 500 liter per-jamnya, cukup untuk memenuhi kebutuhan warga yang tinggal di daerah tersebut.

Ketika alat penyaring air ini terpasang, anak-anak kecil langsung mengujicobanya dengan memutar engkol tabung penjernih. Teriakan kegirangan mereka terdengar begitu air jernih keluar mengalir dari bagian bawah tabung. “Orang luar RT ini yang mau pakai air bersih ini juga kami persilahkan” Kata Rohimah dengan wajah berseri-seri. Rohimah dan warga RT 02 yang mengontrak rumah petak di kampung itu ikut memantau uji coba pemasangan unit penyaring ini (22/3/13).

Uji coba pemasangan water ultrafiltrasi ini kebetulan bertepatan dengan Hari Air Dunia 22 Maret ini dan ikut dihadiri oleh Camat Majalaya, Kepala Desa Sukamaju, Dinas Kesehatan dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Kabupaten Bandung serta organisasi dan komunitas seperti Greenpeace dan Cikapundung Rehabilitation Program (CRP) serta mahasiswa dari University of Queensland.

Keterangan foto: pertemuan pada pemasangan filter yang bertepatan pada Hari Air Dunia 2013, 22 Maret lalu.

Menyaksikan keceriaan warga yang berkerumun mencoba alat penyaring air ini, Fitri tidak dapat membendung rasa harunya. “Bayangkan, untuk mendatangkan alat ini, kami membutuhkan waktu hampir 4 tahun. Saya bahagia sekali melihat warga Ciwalengke akhirnya bisa menggunakan air bersih”.

Selain di RT 02 RW 10, hampir di seluruh kampung Ciwalengke, Desa Sukamaju ini memiliki permasalahan yang sama, yaitu menggunakan air dengan kualitas air yang buruk, misalnya di RT 3 RW 8 di dekat Mesjid, dimana warga menggunakan air dalam kolam untuk mandi, mencuci hingga mencuci bahan makanan.

Karenanya perjalanan panjang air bersih untuk Ciwalengke belumlah berakhir hingga di sini.

Tulisan: Diella Dachlan, Foto: Ng Swan Ti, Diella Dachlan/Dok.Cita-Citarum
Konsep grafis: Nancy Rosmarini. Peta:  Anjar Dwi Krisnanta

Tulisan ini merupakan bagian dari Laporan Foto Warna-Warni Citarum di Majalaya
Download Laporan Foto Warna-Warni Citarum di Majalaya, PDF 25 MB