Cerita dari Tepi Citarum

Sebagaimana peradaban manusia yang dibangun mengikuti aliran sungai, menyusuri Sungai Citarum dari titik awal Jembatan Haji Syukur di Majalaya menuju ke arah Kampung Kondang pun tidak berbeda (22/3/13). Sungai Citarum bagaikan menjadi saksi akan pergulatan hidup anak-anak manusia yang tinggal di tepiannya.

Pemulung Usia Senja
Dari sisi usia, Mak Emeh (67 tahun) dan Mak Acih (70 tahun) sudah memasuki usia pensiun. Keduanya adalah warga RT1/RW 8 Kampung Ciwalengke, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya. Namun, bagi kedua perempuan ini, menghabiskan masa pensiun dengan menjaga cucu dan bersantai, belumlah dapat dilakukan. Kondisi ekonomi keluarga yang belum memadai ditambah anggota keluarga yang menganggur membuat kedua perempuan ini harus tetap bekerja. “Kami sekarang ini kerjanya memulung sampah yang dibuang di tepi Citarum ini” kata Mak Emeh. Jam kerja kedua perempuan ini mulai dari jam 8 hingga jam 4 sore. Sampah yang dicari dan dikumpulkan yaitu kardus, botol air kemasan yang bisa dijual dengan harga Rp 2.000/kilogramnya.

Penampungnya adalah tetangga mereka di kampung. Dalam seminggu, penghasilan mereka rata-rata berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 50.000. Dengan penghasilan itu, mereka bersyukur karena masih dapat membantu ekonomi rumah tangga anak-anak mereka dengan cucu yang masih kecil-kecil. “Di kampung ini hanya kami berdua ditambah satu laki-laki yang menjadi pemulung. Sampah di sini sangat banyak, tapi kami tidak bisa memaksakan diri untuk mengambil sebanyak-banyaknya, maklumlah karena usia juga sudah senja” kata Mak Acih, sambil mengikat karung hasil pekerjaannya memulung. Jika tidak kuat mengangkatnya, maka bergantian dengan Mak Emeh, mereka berdua akan menghelanya hingga sampai ke kampung.

Tiga Puluh Tahun Menyeberangi Citarum

Among (70 tahun), tukang perahu yang menyeberangkan penumpang antara Kampung Kondang dengan Karang Anyar yang dipisahkan oleh aliran Sungai Citarum. Sudah tiga puluh tahun lebih Among menjadi tukang perahu. Jaman dulu, sebelum bendungan dibangun di Sungai Citarum, Among sempat merasakan sungai ini menjadi sarana transportasi untuk menjual panen bambunya ke Karawang dengan cara mengalirkannya mengikuti aliran Citarum.

Kini Among berprofesi tetap menjadi tukang perahu atau yang dikenal dengan eretan, karena caranya persis seperti sedang mengeret bendera. Tali atau kawat dibentangkan di kedua sisi sungai, lalu Among mengendalikannya dengan cara menarik perahu dengan bantuan kedua tangannya bergerak di sepanjang bentangan tali. Persis seperti sedang mengerek bendera.

Jumlah penumpangnya bisa mencapai lebih dari 40 orang dalam sehari. Among mulai mengoperasikan perahunya setelah habis Subuh hingga malam hari, tergantung kondisi fisik beliau. Tarifnya pun tidak dipatok, seikhlas pemberinya. Biasanya penumpang memberi dari Rp 500 hingga Rp 1.000. Namun tak jarang kalau penumpangnya anak sekolah, maka Among membebaskannya dari biaya, karena tidak tega mengetahui sebagian besar dari mereka hampir sama dengan dirinya, yaitu hidup dalam kemiskinan.

Pengalaman Among membuatnya peka dengan sifat sungai yang menjadi bagian dari hidupnya. Among tahu kapan sungai ini akan banjir, sehingga ia dan istrinya bersiap-siap “cuti” dengan menarik perahunya ke tepian. Among juga mengenal sifat arus sehingga ia piawai menentukan lokasi titik penyeberangan perahunya.

Rumah Doyong di Tepi Citarum

Min (56 tahun) adalah istri pertama dari empat istri Among, sang pengemudi perahu. Ketiga istri Among lainnya telah meninggal, sehingga Emi kembali menjadi satu-satunya. Memiliki 3 anak hasil perkawinannya dengan Among, 7 anak tiri dan 17 cucu, bagi Min hidup semakin sulit, karena mereka semua hidup dalam kemiskinan. Rata-rata anaknya bersekolah hingga kelas 3 SD, sehingga pilihan lapangan pekerjaan hanyalah kerja buruh yang tidak mempertanyakan ijazah sekolah formal. Bertani pun mereka tidak memiliki tanah.

Keluarga Min dan Among menempati sebuah rumah mungil yang dibangun di sisi Sungai Citarum. Sekali melihat, maka terlihat jelas bahwa rumah itu tidak proposional. Bagian sampingnya miring ke kiri seolah-olah kapan saja rumah itu akan tergelincir ke saluran yang persis terletak di sisinya. Di bagian depan dibangun “kamar mandi” yang terbuat dari 4 batang bambu dengan kain bekas yang bentuknya tidak lagi mampu melindungi siapapun yang berada di dalamnya. Menjenguk ke bagian dalam, maka dinding dari bilik bambu itu sudah terlihat meregang. Atapnya  doyong (miring) ke bawah dan jika hujan, maka rumah ini berubah menjadi kolam. Ukurannya tidak sampai 3 x  4 meter. Itu pun harus menampung 7 anggota keluarganya. “Rumah kami tahun 2010 hampir seluruhnya dirubuhkan oleh back hoe yang bekerja mengeruk sungai. Tanah ini memang milik PJKA, kalau banjir besar seperti tahun 2010 atau awal 2013 lalu, air Citarum bisa sampai 2 meter di sini. Tapi untuk pindah, kemana lagi kami harus pergi kalau bukan disini?”.

Hidup dari Pasir Citarum

Ekon (34 tahun) hidup dari mengambil pasir di bawah jembatan Haji Syukur di Majalaya. Pada tahun 80-an ketika Ekon masih kecil, sungai Citarum tempatnya mencari nafkah saat ini adalah tempatnya bermain menghabiskan masa kecilnya dengan berenang dan memancing di sungai yang menurut Ekon dulu berair jernih.

Kini Ekon menggantungkan hidupnya dari Sungai Citarum dengan mengambil pasir. Jam kerjanya mulai dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Satu hari Ekon bisa bolak-balik mengangkut sekitar 40 pikul pasir untuk ditumpuk di sisi jembatan. Satu pikul pasirnya dihargai sekitar Rp 800. Sehari Ekon dapat mendapatkan uang antara Rp 30.000 hingga Rp 50.000 dari hasil pekerjaannya mengangkut pasir.

Gatal-gatal atau penyakit kulit lainnya akibat terkena air yang tercemar di tempatnya bekerja, Ekon mengaku sudah biasa. “Nanti juga sembuh sendiri, asal tidak sering digaruk biar tidak jadi koreng yang meluas” kata Ekon.

Sungai Masa Kecil yang Telah Hilang

Demikian yang dikatakan oleh Yayan (46 tahun) ketika ditemui (28/2/13). Sama seperti Ekon, Yayan (lahir di Majalaya dan menghabiskan masa kecilnya di sisi Sungai Citarum. Bersama teman-teman masa kecilnya, Yayan sering berenang dan memancing di Sungai Citarum. Ia juga mengingat bagaimana kaum perempuan menggunakan air sungai ini untuk mencuci bahan makanan.

Yayan kini telah berkeluarga dan memiliki anak-anak. Saat ditemui, Yayan tidak memiliki pekerjaan tetap dan kegiatan hariannya adalah membawa ternak kerbaunya untuk berendam dan minum di Sungai Citarum di dekat jembatan Haji Syukur. Tersembunyi di bawah jembatan, terdapat aliran limbah yang dibuang oleh pabrik. Limbahnya ikut mewarnai air sungai berubah menjadi hitam pekat atau merah darah. Ternak kerbaunya seperti sudah paham dan selalu memilih untuk berendam di lokasi sebelum pabrik tersebut.

Anak Yayan ikut menggembala kerbau dan menunggui mereka hingga selesai berendam. Tapi berbeda dengan Yayan, anaknya hanya menunggu di tepi sungai dan tidak diperbolehkan untuk menyentuh air sungai sama sekali, karena ia kuatir anaknya sakit kena limbah.

“Sungai Citarum yang saya kenal telah berubah, sungai tempat bermain saya dan teman-teman dimasa kecil telah hilang, apakah mungkin untuk selamanya?” kata Yayan dengan nada bertanya. Sebuah pertanyaan retoris untuk saat ini.

Makam dan Tugu Pahlawan yang Dikepung Sampah

Ketika berbincang dengan Min (22/3/13), istri pertama tukan perahu Among, di Kampung Kondang terdapat makam tua milik leluhur Majalaya. Untuk mencapainya, Among menawarkan jasa menyeberangkan kami dengan perahunya. Mendekati tepi Citarum di sisi Kampung Kondang, tumpukan sampah yang terlihat jelas dari sisi kampung Min dan Among, kini baunya yang menusuk hidung.

Menurut Min komplek perkuburan ini memiliki dua makam milik leluhur Majalaya, yaitu Eyang Demak dan Eyang Majalaya. Kedua makam ini ramai dikunjungi pengunjung dari luar pada waktu-waktu tertentu, untuk berziarah. Tak jarang pengunjung bermalam di tempat ini. Selain itu terdapat tugu pahlawan yang diperkirakan menjadi tempat gugurnya para pejuang kemerdekaan ketika bertempur di lokasi ini. Min mengatakan bahwa setiap peringatan 17 Agustus, orang dari luar masih mengadakan upacara di tempat ini.

Sayangnya ketika saat berkunjung, tidak ada satu orang pun yang ditemui yang dapat menceritakan secara jelas, baik tentang kedua makam tua yang diyakini sebagai makam leluhur tersebut dan juga tentang alasan mengapa tugu pahlawan dibangun di lokasi tersebut. Yang jelas, sebuah kesan tersisa dari kunjungan tersebut. Sampah berbau menusuk yang mendominasi area perkuburan tersebut menghilangkan kesan khidmat sebuah lokasi yang memiliki cerita sejarah.

Tulisan: Diella Dachlan, Foto: Ng Swan Ti, Diella Dachlan/Dok.Cita-Citarum
Konsep grafis: Nancy Rosmarini. Peta:  Anjar Dwi Krisnanta

Tulisan ini merupakan bagian dari Laporan Foto Warna-Warni Citarum di Majalaya
Download Laporan Foto Warna-Warni Citarum di Majalaya, PDF 25 MB