Gowes Memahami Lingkungan Hulu Ci Tarum

Hulu Ci Tarum dikenal di Gunung Wayang, pegunungan di selatan Bandung, dan dinamakan Cisanti. Cisanti merupakan suatu mata air yang airnya bergejolak keluar dari dalam tanah. Begitu besarnya mata air ini sehingga menggenang menjadi sebuah danau kecil yang dikenal dalam Bahasa Sunda sebagai situ. Namanya kemudian menjadi Situ Cisanti.

Situ Cisanti berada di Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Untuk menuju hulu Ci Tarum ini, kita dapat mencapainya dengan menggunakan kendaraan roda empat dari Kota Bandung melalui Ciparay. Dari Ciparay yang selalu hiruk pikuk, kita mengambil jalan ke arah selatan yang menanjak melalui Maruyung dan Pacet. Jalan ini menanjak berliku-liku hampir sejajar dengan aliran Ci Tarum yang bergradien terjal. Sebagian besar jalan telah mengalami pembetonan walaupun longsor tebing di musim hujan kadang-kadang menutup badan jalan.

Melalui jalur ini kita bisa menikmati pemandangan yang menakjubkan ke lembah Ci Tarum, terutama di sekitar lembah Gunung Dogdog. Gunung ini yang terlihat berbentuk kerucut tererosi, merupakan rangkaian barat timur dari deretan gunung api tua di selatan Bandung, berbatasan dengan Garut. Pada jajaran ini termasuk Gunung Malabar yang mempunyai tiga puncak (Haruman, Puntang, dan Malabar sendiri), jajaran Wayang-Windu-Bedil, Gunung Kendang, Gunung Rakutak (bersebelahan dengan Gunung Dogdog) dan ke arah barat Kompleks Gunung Pangkalan (Kawah Kamojang) yang berakhir di Kompleks Gunung Guntur, Garut.

Gunung-gunung api ini berada pada fase tidak aktif, menampakan puncak-puncaknya dengan lereng terjal. Sayangnya kebun-kebun palawija (kentang, wortel, bawang) telah merambah hingga ke lereng-lereng tinggi dan menghilangkan hutan yang seharusnya lebih menjaga kelestarian tanah. Walaupun tidak aktif, justru menjadikan gunung-gunung api tua ini berpotensi menjadi ladang panas bumi yang beberapa di antaranya telah berproduksi, yaitu di Kamojang dan di Wayang-Windu.

Gowes Wayang-Windu – Kertasari - Cisanti
Ada cara kedua untuk menuju Cisanti, yaitu melalui Pangalengan. Dari arah sini terdapat pencapaian yang lebih menantang, yaitu dengan bersepeda. Tentu saja jalan untuk kendaraan roda empat tersedia, tetapi dengan bersepeda (gowes) akan memberikan pengalaman yang lebih asyik.


Start dari Lapangan Panas Bumi Wayang Windu Star Energy

Gowes dapat dimulai dari pasar Pangalengan. Namun jalan turun naik akan kita hadapi. Tentu saja bagi yang sekadar untuk bersenang-senang, maka gowes down-hill lebih menjadi pilihan. Jika ini pilihannya, maka sepeda harus diangkut dulu sampai lapangan terbuka helipad pada kompleks panas bumi Wayang-Windu yang dikelola oleh Perusahaan Star Energy.

Dari sini kita akan menuruni jalan yang berliku-liku menurun di antara kebun teh yang berhawa segar. Sementara itu di belakang kita, profil Gunung Wayang-Windu menjadi pemandangan yang siap ditinggalkan. Maka, jangan lupa untuk sekali-kali berhenti dan menengok ke belakang. Pemandangan yang luar biasa dengan kepulan asap uap panas bumi berwarna putih yang terpancar ke langit, dengan latar belakang gunung berhutan yang hijau dan langit biru atau abu-abu.

Energi panas bumi secara ringkas adalah energi yang dihasilkan dari tekanan uap yang dihasilkan akibat pemanasan air tanah oleh sumber-sumber volkanik yang masih ada. Air yang seolah-olah mendidih di bawah permukaan tanah menghasilkan panas yang akan cenderung naik ke permukaan. Panas ini yang terjebak di dalam reservoir menghasilkan tekanan uap yang tinggi. Dengan cara pengeboran, tekanan akan dialirkan sedemikian rupa untuk memutar turbin dan mengubah energi potensial menjadi energi kinetik untuk menghasilkan energi listrik. Tekanan yang dimanfaatkan dapat berupa air panas, dikenal sebagai sistem panas bumi basah, atau berupa uap air (gas panas) dan dikenal sebagai sistem panas bumi kering. Panas bumi Wayang-Windu merupakan sistem basah.

Meneruskan gowes menuruni bukit, kita akan dengan mantap mengayuh sepeda kita di atas jalan aspal hotmix mulus yang sayangnya tidak terlalu jauh. Berikutnya kita akan memasuki jalan makadam. Jenis jalan ini merupakan jalan dengan lapisan pasir dan batu yang diratakan dan dipadatkan. Penemunya kemungkinan besar bernama MacAdam, sehingga orang Indonesia mengenalnya jalan makadam. Umumnya jenis jalan ini cepat rusak memperlihatkan batu-batunya yang tajam. Akhirnya di kita menjadi salah kaprah, jalan batu yang rusak sering disebut jalan makadam.

Mengayuh sepeda di jalan makadam yang rusak perlu kehati-hatian tinggi, apalagi dengan turunan bergradien cukup miring sehingga peranan rem menjadi penting. Untungnya sepeda-sepeda MTB jaman sekarang umumnya telah dilengkapi dengan rem cakram yang lebih efektif untuk berdown-hill, dan lebih lengkap ditambah dengan pertukaran roda gigi. Setelah beberapa kilometer perjalanan di atas makadam akhirnya akan bertemu dengan jalan aspal utama Pangalengan – Malabar – Sedep.

Jalur ini tidak semuanya down-hill. Dari perkebunan Sedep menuju Santosa, jalur jalan aspal melewati tanjakan-tanjakan panjang yang melelahkan. Inilah tantangan di jalur ini. Beberapa kali istirahat dan tidak memaksakan bergowes terus adalah cara yang terbaik. Berpura-puralah memotret pemandangan atau sekedar membuat catatan agar tidak disangka kecapaian. Aha.

Jika di Perkebunan Santosa mendapati masjid besar di sebelah kanan, penderitaan jalan menanjak berarti telah berakhir. Biasanya di halaman masjid ini kita dapat beristirahat sejenak dan baiknya dirancang tepat sekitar jam makan siang. Bagi muslim bisa melaksanakan ibadah sholat terlebih dahulu.

Jalur berikutnya adalah kembali bersenang-senang. Menuju Perkebunan Kertasarie (ditulisnya entah mengapa seperti itu dengan tambah huruf e di belakangnya), kita akan melewati objek wisata kolam air panas Cibolang. Sayang di tahun 2013, jalannya amburadul. Inilah jalan makadam yang super hancur. Untungnya hanya sekitar 3 km lebih untuk kemudian memasuki Perkebunan Kertasari, kita dimanja dengan jalan menurun yang beraspal hotmix mulus hingga Cisanti.


Pabrik Teh Kertasarie dengan ikonnya: stoomwals kuno

Cibolang merupakan manifestasi panas bumi. Dalam eksplorasi panas bumi, salah satu ciri jika di kawasan gunung api tua berpotensi mempunyai kandungan panas bumi adalah dengan munculnya mata air panas seperti di Cibolang ini. Di Cibolang yang datar, kita juga dapat sedikit menikmati rumah-rumah karyawan kebun teh yang antik, yaitu rumah-rumah bergaya Tudor, yang biasanya dicirikan dengan palang-palang dinding kayu yang diagonal.

Di pabrik teh Kertasarie, kita juga dapat berhenti sejenak di monumennya berupa kendaraan perata jalan stoomwals kuno. Begitu pula bangunannya yang merupakan peninggalan Belanda masih belum banyak mengalami perubahan. Perkebunan ini sekarang dikelola oleh PT London Sumatra dan Indofood.

Dan ... gowes melaju nikmat di jalan mulus. Di kiri kita terlhat Gunung Wayang yang berhutan hijau dengan lereng-lereng rendahnya dihiasi perkebunan teh yang terawat baik. Perkebunan teh yang dipangkas rendah itu bagaikan hamparan permadani hijau yang empuk. Di sebelah kanan kita tampak di kejauhan Gunung Kendang yang juga masih berupa hutan yang cukup baik.


Jalan menurun dari Cisanti ke Majalaya, menyusuri lembah Ci Tarum – Gunung Dogdog

Jalan menurun berliku akan menangkap pemandangan hamparan air di antara hutan-hutan pinus yang berdiri tegak di depan jalur kita. Itulah Situ Cisanti. Perjalanan gowes dapat dikatakan berakhir. Namun bagi yang masih belum puas, dapat diteruskan hingga Pacet dan terus turun ke Maruyung, Ciparay, bahkan ke Bandung. Jalan menurun menjadikan para pengayuh sepeda akan tergoda untuk terus melanjutkan hingga sedikit Ciparay di batas dataran Cekungan Bandung.

Lingkungan Hulu Ci Tarum yang Perlu Dijaga Bersama
Pengalaman bergowes jalur Pangalengan – Cisanti, apalagi diteruskan hingga Ciparay, dalam kondisi relatif menurun, memberi pengalaman kita akan betapa pentingnya menjaga lingkungan tetap asri. Bergowes dalam udara segar dan pemandangan menghijau memperkaya batin kita. Jika lingkungan tersebut sedikit saja berubah seperti misalnya kondisi lahan-lahan palawija di lereng terjal lembah Citarum di Pacet yang menampakan permukaan tanah berwarna kecoklatan, akan terasa mengoyak batin kita. Apalagi jika kita berpikir sedikit saja bahwa erosi pada lahan-lahan palawija tersebut menyumbang pelumpuran yang tidak sedikit di aliran Ci Tarum. Pelumpuran akan membawa pendangkalan saluran dan selanjutnya banjir yang “terkenal” terjadi setiap tahun di Bandung Selatan, tetap tidak akan tertangani.

Penanganan banjir yang hanya berkonsentrasi pada proyek-proyek di hilir sepert penyodetan dan normalisasi saluran, niscaya tidak akan mengatasi masalah banjir jika lingkungan di DAS hulu tidak ikut ditangani. Persoalan banjir adalah bagaimana mengatur pasokan air yang jatuh di hulu agar tidak begitu saja mengalir ke arah hilir. Konsep embung (waduk-waduk kecil) di hulu mungkin baik, tetapi pelaksanaannya sangat sulit menyangkut lahan dan pemeliharaannya. Menghutankan kembali hulu Ci Tarum adalah yang paling baik.

Apalagi ide memangkas Curug Jompong yang dianggap menghambat kelancaran aliran Ci Tarum merupakan ide konyol yang cenderung seperti membabi-buta dan seolah-olah frustrasi tidak dapat menangani banjir Bandung Selatan. Memang benar intrusi batuan dasit berumur Pliosen yang berada di Curug Jompong merupakan penghalang aliran Ci Tarum. Namun jika ini dipangkas, berarti akan menurunkan level erosi dan berarti akan terjadi intensifikasi erosi secara proporsional ke arah hulu pada saluran Ci Tarum dan seluruh jaringan anak sungainya.

Pamangkasan Curug Jompong alih-alih dapat menangani banjir, bahkan akan memicu kerusakan yang lebih parah di DAS Ci Tarum hulu. Ketika erosi vertikal semakin intensif, pelumpuran berarti semakin besar dan akhirnya pendangkalan saluran sungai akan terjadi juga. Ujung-ujung banjir akan tetap terjadi. Apalagi sekarang ditambah proses eksogen di hulu Ci Taru menjadi semakin parah.

Bukan tidak mungkin banjir lumpur dan gerakan tanah yang semakin kerap terjadi di Kabupaten Bandung, terutamna hulu Ci Tarum, dipicu oleh perubahan-perubahan rekayasa saluran Ci Tarum di daerah hilir. Menangani Ci Tarum memang tidak hanya memerlukan otak yang cerlang tetapi juga hati yang dingin, hati yang bersih.


Penulis di Cisanti (foto: Diella Dachlan)

Teks dan foto Budi Brahmantyo, staf dosen Teknik Geologi, FITB, ITB; koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB), penulis buku Wisata Bumi Cekungan Bandung.