Model Desa Konservasi di Pangalengan

Sekitar 30 warga Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung mengikuti kursus kepemimpinan yang bertemakan “Desa Untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati” yang diadakan di balai desa setempat, Selasa (28/5).

Acara tersebut berlangsung mulai tanggal 28-30 Mei. Dari 30 peserta yang terlibat, 8 diantaranya adalah perempuan. Selama 3 hari mereka dibekali dengan materi-materi, antara lain terkait kepemimpinan, pengenalan fungsi dan peranan kawasan  konservasi, keanekaragaman hayati dan peraturan perundang-undangannya. Selain itu materi juga mencakup identifikasi masalah dan potensi desa dalam konservasi keanekaragaman hayati serta rencana tindak lanjut.

Kegiatan ini merupakan bagian dalam Program Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu di Wilayah Sungai Citarum (ICWRMIP) yang dilaksanakan oleh Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung (Dit. KKBHL),   Direktorat  Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan. Program ini disebut  sebagai Citarum Watershed Management and Biodiversity Conservation Project (CWMBC). Pelaksanaan program ini didukung oleh Asian Development Bank (ADB) melalui mekanisme hibah dari Global Environmental Fund (GEF). Pelaksanaan program ini termasuk dari 9 kegiatan dalam Tahap 1 Program ICWRMIP (2009-2014).

Sebagai pelaksana program, yaitu Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat (BBKSDA) dan  Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dibantu oleh tim konsultan. Lokasi program CWMBC ini meliputi 20 desa di 14 kecamatan dan 6 kabupaten di Propinsi Jawa Barat, yaitu  BBKSDA Jabar (12 Desa), TNGGP (8 Desa) di Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Kab.Purwakarta, Kab.Subang, Kab.Sumedang, Kab. Cianjur.

Ada 8 lokasi target area program, yaitu: (1) Cagar Alam Gunung Tilu; (2) Cagar Alam Gunung Burangrang; (3) Cagar Alam Kawah Kamojang;  (4) Cagar Alam Gunung Tangkuban Parahu; (5) Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi; (6) Taman Wisata Alam Kawah Kamojang; (7) Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu; (8) Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

“Di kampung kami, 70 persennya itu hutan, makanya saya ikutan kegiatan ini agar bisa ikut menjaga hutan,” ujar Ace Hermawan (30). Sementara Yoga (30), yang memiliki kebun kopi mengaku, harga kopi yang jatuh beberapa waktu lalu memicunya untuk mengikuti kursus ini.

Makna konservasi memang belum sepenuhnya dipahami masyarakat yang ada disekitar hutan kawasan konservasi  di 8 target area. Hal ini diakui oleh Toni Ramdani, Kepala Sub-bagian Perencanaan dan Kerjasama  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. “Program kepemimpinan seperti ini menjadi penting untuk menyadarkan warga akan pentingnya hutan. Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan dapat turut aktif mengambil manfaat dari hutan tanpa merusaknya. Ini yang sedang kita kembangkan,” ujarnya disela-sela kunjungan kerja bersama Kementerian Kehutanan, BKSDA Jabar dan  Asean Development Bank (ADB) (28/5/13).

Desa Sugihmukti, Kec. Pasir Jambu  yang berada di sekitar kawasan Cagar Alam Gunung Tilu terpilih menjadi salah satu desa percontohan penyadaran masyarakat. Sebelumnya kursus kepemimpinan ini telah diselenggarakan di tiga Desa berbeda di kawasan wilayah konservasi Gunung Tilu yakni, Desa Mekarsari di Kecamatan Pasir Jambu, Desa Sukaluyu dan Desa Margaluyu di Kecamatan Pangalengan.


Keterangan foto: Suasana pelatihan kepemimpinan di Desa Sugihmukti, Kec.Pasir Jambu (28/5/13)

Kunjungan Ke Desa Sukaluyu
Pada hari yang sama kunjungan kerja Kementerian Kehutanan, BBKSDA Jabar dan ADB dilanjutkan menuju Desa Sukaluyu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Desa seluas 1.748 hektar ini berada di sekitar kawasan Cagar Alam Gunung Tilu, dengan 2.726  Kepala Keluarga (KK) dan jumlah penduduk mencapai 8.838 orang. Kursus kepemimpinan telah berlangsung tiga hari sebelumnya di desa ini, dan dikabarkan sebagian besar pesertanya adalah mantan perambah hutan.

Dalam kunjungan tersebut diadakan dialog dengan warga yang telah selesai mengikuti kursus kepemimpinan. Ujang Rochmat, salah satu warga yang pernah ikut merambah mengaku menjadi lebih paham daerah konservasi dan hukumnya setelah mengikuti kursus tersebut. Sebenarnya dirinya sadar jika apa yang dilakukannya merusak hutan, namun ketiadaan alternatif pekerjaan membuatnya tetap bertahan untuk merambah. “Makanya lewat kegiatan ini saya ingin mencari solusi supaya kita semua bisa berubah dan bisa ikut sama-sama merawat hutan,” ujarnya.

Menurut Dadang Kurniawan, Sekretaris Desa Sukaluyu, mereka telah melakukan pendataan. Di desanya terdapat 112 perambah di lahan seluas 12 hektar. Mereka akan dilibatkan dalam diskusi dan program sosialisi warga untuk diberi pemahaman dan dicarikan alternatif pekerjaan.

“Kita semua sebenarnya sudah sadar dari dulu, tetapi tidak paham harus bagaimana. Begitu ada program ini, kami seperti  mendapat jalan keluar. Semoga bisa berjalan dengan baik,” jelas Dadang.

Kursus Kepemimpinan merupakan langkah awal dari kegiatan CWMBC. Menurut Bambang Agus Kusyanto, konsultan Kementerian Kehutanan, konsep yang dikembangkan ke depannya adalah model desa konservasi. Dari hasil kursus, masyarakat akan diarahkan membuat master plan untuk lima tahun ke depan dan diwujudkan dalam bentuk aksi per satu tahun. Penguatan kelembagaan dan organisasi desa pun akan dilakukan disertai latihan kewirausahaan untuk mengarah pada alternatif pekerjaan yang tidak berbasis lahan.

Menurut Bambang, desa-desa yang terpilih untuk mengikuti kursus ini ditentukkan berdasarkan indikator kerusakan kawasan, tingkat perambahan dan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap  lahan yang tinggi.

“Kami sadar apa yang kami lakukan bukan berada di wilayah inti sungai Citarum. Tapi ini merupakan hulu Sungai Citarum yang musti dijaga kawasaanya. Kegiatan ini akan menjadi semacam tindakan preventif dan menjadi indikator kesehatan kawasan,” ujarnya.


Keterangan foto: Suasana perkebunan teh di kaki Cagar Alam Gunung Tilu (28/5/13)

Sekilas melihat Cagar Alam Gunung Tilu dan Restorasi kawasan
Cagar Alam Gunung Tilu merupakan kawasan yang dikelilingi kebun teh, perkebunan kina dan perkebunan sayur rakyat. Cagar Alam ini memiliki luas lahan mencapai 8000 Ha, meliputi wilayah Kecamatan Ciwidey, Pasir Jambu, Pangalengan di Kabupaten Bandung. Gunung Tilu memiliki tipe hutan hujan dataran tinggi dengan jenis tanaman yang mendominasi kawasan ini adalah rasamala, puspa, saninten, kiputri.Sementara satwa liar yang berada di kawasan ini adalah macan tutul, bajing, owa, dan surili.

Dalam kunjungan kerja Selasa (28/5), patok-patok baru terlihat tertancap dikawasan konservasi ini. Menurut Kepala Resort Cagar Alam Gunung Tilu, Abdul Halim, patok tersebut baru dipasang Oktober 2012 kemarin dan sebagai penanda batas baru dari cagar alam. “Ini setelah dilakukan tata batas pengukuran ulang tapal batas karena sebelumnya  sudah dilakukan tata batas oleh Kanwil Kehutanan akan tetapi berita acaranya belum tuntas,” ujarnya.  Karena itu dilakukan Tata Batas ulang oleh Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah XI Jawa Madura baru sebatas penetapan luasan kawasan. “Diperkirakan kawasan cagar alam ini telah berkurang sekitar 100 hektar, tetapi ada beberapa areal kawasan Perum Perhutani  masuk ke wilayah Cagar Alam Gunung Tilu,” tambah Abdul Halim.

Sepanjang melintasi cagar alam, tim kerja melihat banyaknya tanaman kopi yang tumbuh disisi jalan. Menurut Abdul, hal ini dikarenakan warga berpikir wilayah tersebut merupakan milik Perhutani. Kini, setelah dilakukan pengukuran ulang, warga keluar dari kawasan cagar alam dan tanaman kopi tersebut terlihat dibiarkan tumbuh tidak terurus.

Di Cagar alam ini ditemukan mata air dari gunung tilu.Kami melihat mata air itu mengalir deras dan terlihat sangat jernih.Mata air ini merupakan salah satu penyumbang air ke Sungai Citarum.


Keterangan foto: Pertemuan dua sungai di Cagar Alam Gunung Tilu (28/5/13)

Sedikit keluar dari kawasan cagar alam, perkebunan teh dan perkebunan sayur rakyat terhampar luas. Pola-pola perkebunan sayur di lereng terjal diterapkan warga dikawasan ini, yang dapat menyebabkan sedimentasi ke dalam sungai. Sampai di satu titik, tim kerja menemukan jalur pertemuan dua sungai. Disini  terlihat pencemaran mulai terjadi, satu sungai mengalirkan air yang sangat jernih, sementara sungai lainnya telah bercampur sedimentasi dengan warna coklat keruh.

Perjalanan dilanjutkan ke Blok Batu Belang-Sarongge di desa Sukaluyu, Kecamatan Pangalengan, salah satu batas luar cagar alam yang berbatasan langsung dengan  kawasan hutan Perum Perhutani dan lahan  warga.  Disana terlihat lahan di dalam kawasan cagar alam yang  telah dibabat dan dijadikan lahan garapan. Yang lebih unik lagi, terdapat satu kawasan yang terlihat baru saja ditanami pohon teh, yang diperkirakan berumur harian. Padahal patok batas telah tertanam disana sejak Oktober tahun lalu. “Ketika saya memantau bulan April kemarin, kawasan ini belum dibabat dan ditanami,” jelas Abdul.

Kawasan Cagar Alam Gunung Tilu hanya dijaga oleh  5 polisi hutan (Polhut). Untuk mengawasi 8000 hektar wilayah cagar alam, Abdul bersama kawan-kawannya mengaku kewalahan. Apalagi batas wilayah yang ditandai dengan patok-patok beton tidaklah jelas. “untuk mengusir perambah kita sering menjadi ragu, karena kebingungan terhadap batas area kawasan” ujarnya.

Setelah diukur ulang 2012 kemarin, patok-patok penanda wilayah telah dipasang di kawasan tersebut. Kini batasan area antara hutan konservasi menjadi lebih jelas.Namun perambahan hutan masih saja terus berlangsung karena sedikitnya personil dilapangan untuk mengawasi.

Dalam program kerja CWMBC, wilayah ini akan masuk dalam program restorasi kawasan. Bambang mengaku, restorasi kawasan ditujukan untuk merehabilitasi lahan untuk dikembalikan habitatnya, agar kembali menjadi hutan. Model yang akan dikembangkan berupa Restorasi Hutan Bersama Masyarakat (RHBM) dimana masyarakat dan penggarap lahan akan dilibatkan dalam perbaikan dan dicarikan alternatif pekerjaan. “Ini merupakan salah satu kelanjutan dari program kursus kepemimpinan, masyarakat sekitar hutan menjadi garda terdepan untuk menjaga hutan sehingga program ini dimulai dari masyarakatnya terlebih dahulu” jelas Bambang.

Perwakilan ADB, Project Officer (Water Sector), Helena Lawira mengaku mendukung proyek tersebut. “Ini penting dan harus dimulai saat ini juga, tentunya dengan sistem dan koordinasi yang baik dan pastinya harus berkelanjutan,” ujarnya.

Tulisan: Iffah Rachmi, Foto: Deden Iman/Dok.Cita-Citarum
Lihat tulisan lain: Tentang Program Hibah Kementerian Kehutanan ICWRMIP


Keterangan foto: Foto bersama tim kerja CWMBC dan ADB (28/5/13)