Uji Coba Kukuyaan di Citarum

Kertasari, Kab.Bandung – Puluhan komunitas penggiat sungai di Kota Bandung melakukan melakukan uji coba pengarungan sungai dengan menggunakan ban dalam yang biasanya disebut sebagai permainan “Kukuyaan” di hulu Sungai Citarum di akhir bulan Juni (30/06/13).

“Kukuyaan” dalam Bahasa Sunda berarti kura-kura, karena penumpang ban biasanya telungkup dan mengayuh dengan dua tangan seperti layaknya kura-kura. Permainan ini dipopulerkan kembali oleh komunitas penggiat sungai di Sungai Cikapundung, salah satu anak Sungai Citarum yang melintasi Kota Bandung.

Lokasi yang dipilih sebagai titik turun ban yaitu di aliran Sungai Citarum di Desa Cibeureum. Kegiatan ini diikuti oleh warga Desa Tarumajaya dan Desa Cibeureum (Kec.Kertasari, Kabupaten Bandung) yang dilintasi oleh aliran Sungai Citarum pada aliran 0-4 kilometer dari mata air Sungai Citarum di Situ Cisanti (Desa Taruma Jaya).

Selain uji coba kukuyan, akan dilakukan penanaman pohon di beberapa lokasi di sepanjang aliran Sungai Citarum. Pohon yang ditanam di lapangan bola di dua desa tersebut sudah mencapai tinggi sekitar 2-3 meter dan dinamakan sesuai dengan nama warga atau keluarganya yang menanam.

Turut hadir dalam acara ini antara lain Dr. Ir. Arie Setiadi Moerwanto, M.Sc, Direktur Bina Penatagunaan Sumber Daya Air Kementerian PU beserta Ibu, Ir. Dewi Nur Hayati, M.Si, BPLHD Propinsi Jawa Barat, Perhutani, Camat Kertasari serta juga perwakilan dari Dinas Kesehatan Kab.Bandung yang ada di Kec.Kertasari (Program ICWRMIP) serta team leader PCMU, Jean Marc Roussel.


Keterangan foto: Dr. Ir. Arie Setiadi Moerwanto, M.Sc, Direktur Bina Penatagunaan Sumber Daya Air Kementerian PU, (30/06/13)

 


Keterangan foto: Komunitas bersiap turun ke sungai Citarum di Kampung Baru Di, Desa Cibeureum, Kec.Kertasari, Kab.Bandung (30/06/13)

The Clean Citarum 10K Project
Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan pilot “The Clean Citarum 10K Project” yang dilakukan oleh Tim Komunikasi Citarum Roadmap Coordination Management Unit (RCMU) Integrated Citarum Water Resources Management & Investment Program (ICWRMIP) bekerjasama dengan Tim Citarum Recovery Program (CRP). Pemetaan dan pendataan juga bekerjasama dengan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Propinsi Jawa Barat. Pelaksanaannya melibatkan warga dari desa tempat dilakukannya pemetaan.

Harapannya setelah data dan informasi dari hasil pemetaan lengkap, nantinya para pemangku kepentingan di Wilayah Sungai Citarum yang ingin bekerja di wilayah ini sudah dapat langsung bekerja berdasarkan rekomendasi dari prioritas penanganan permasalahan yang ada.

Kegiatan ini dilakukan sejalan dengan kegiatan pembaharuan Roadmap untuk Citarum yang memerlukan upaya downscaling Roadmap. Upaya ini diharapkan dapat menjadi penghubung antara perencanaan makro dengan perencanaan mikro di Wilayah Sungai Citarum yang fokus pada prioritas lokasi, permasalahan serta potensi dalam kerangka program ICWRMIP. Untuk membantu downscaling Roadmap ini, maka data dan informasi yang komprehensif dan rinci diperlukan dalam menilai prioritas intervensi program berdasarkan identifikasi permasalahan dan pendekatan holistik dalam mencari solusi.

“Kegiatan ini merupakan satu langkah kecil untuk menuju langkah yang lebih besar dalam upaya bersama pembenahan Citarum” Kata R.A.Budhi Santoso, ketua CRP. “Kita memerlukan acuan lokasi bekerja sebagai titik kerja yang kami harapkan nantinya dapat diukur. The Citarum 10K Project adalah kegiatan pilot dalam skala kecil yang terdiri dari beberapa komponen kegiatan yaitu pemetaan, pendataan informasi, dokumentasi, kampanye dan publikasi, lalu harapannya akan bisa dilakukan uji coba kegiatan pilot dalam skala kecil berdasarkan identifikasi prioritas permasalahan hasil identifikasi bersama dengan masyarakat dan pemerintah di Kecamatan Kertasari”.

Pada awal Juni lalu, diskusi bersama masyarakat di kedua desa sudah dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan dan potensi yang ada di desa tersebut. Untuk memperoleh gambaran lebih rinci lagi, maka kegiatan diskusi dan pemetaan langsung di sepanjang aliran Sungai Citarum masih akan terus dilakukan. Aliran Sungai Citarum sepanjang 10 kilometer ini yang menjadi titik acuan untuk pemetaan dan dokumentasi. Dari hasil awal pemetaan, aliran Sungai Citarum sepanjang 10 kilometer melewati 4 desa di Kecamatan Kertasari, yaitu Desa Tarumajaya, Desa Cibeureum, Desa Cikembang dan Desa Cihawuk. Namun sebagai awal, kegiatan difokuskan di Desa Tarumajaya dan Desa Cibeureum.

Dari identifikasi awal, permasalahan yang tampak di sepanjang aliran Sungai Citarum sepanjang 10 kilometer ini adalah pertanian sayuran yang dilakukan di lereng-lereng bukit. Di lereng-lereng bukit ini sangat minim tegakan pohon sehingga terdapat beberapa titik longsor yang cukup besar di sepanjang aliran. Selain itu permasalahan lain yang ditemui antara lain limbah peternakan dan rumah tangga yang langsung dibuang ke sungai dan volume tanah yang masuk ke dalam sungai. Potensi yang ditemui adalah banyaknya titik-titik mata air yang ditemukan di kedua desa ini serta potensi untuk pengembangan ekowisata dan pengembangan pertanian serta peternakan yang ramah lingkungan.

“Di masa mendatang, kami berharap agar hasil pemetaan ini nantinya dapat menjadi bahan masukan untuk perencanaan. Kami ingin agar Kecamatan Kertasari memiliki Rencana Tata Ruang sebagai acuan pembangunan” kata Dra. Cep Azis Sukandar M.Is.


Keterangan foto: Hari Kukuyaan (30/06/13), air sungai Citarum tak luput dari gelontoran dari kandang sapi yang dibuang langsung ke sungai

Lebih Bersih di Cikapundung?
Fian dari Komunitas Gejebur, salah satu peserta Kukuyaan mengungkapkan kesannya setelah mengarungi Sungai Citarum. “Pemandangan di Citarum ini indah sekali. Tetapi kok airnya lebih bersih di tempat kami bermain Kukuyaan di Cikapundung ya, padahal itu kan sungai kota”cetus Fian.  Pada hari Kukuyaan tersebut, air sungai tampak berwarna hijau tua tanda adanya limbah kotoran sapi yang sedang digelontorkan ke sungai.

Seperti praktek umumnya di hulu Citarum, peternak masih membuang limbah kotoran sapinya langsung ke Citarum. Agus Liadin, peternak dan penggiat komunitas Taruna Mandiri yang bergerak di pengolahan limbah kotoran sapi mengatakan “Dari data kami tahun 2013 ini, setidaknya ada sekitar 2000-an ekor sapi di desa Tarumajaya dan desa Cibeureum. Meskipun dengan upaya pengolahan limbah sapi yang sudah kami olah dengan mengambil kotoran sapi dari kandang-kandang di desa-desa sekitar ini, tetap saja masih ada warga yang membuang kotoran sapi langsung ke sungai”.  (Baca: Ketika Petani Hulu Hilir Citarum Bertemu Lewat Pupuk)

Teks: Diella Dachlan Foto: Deden Iman/Dok.Cita-Citarum


Keterangan foto: Pose bersama peserta Kukuyaan di Citarum di Balai Desa Tarumajaya (30/06/13)