Kegiatan Ekonomi dan Pendidikan di Seputar Kawasan Konservasi

“Kami sedang belajar mengolah teh dari perkebunan kami sendiri. Kalau dulu daunnya langsung dijual ke pengepul, sekarang kami kecil-kecilan belajar membuat teh celup sendiri” kata Ibu Ina, ketua kelompok perempuan di Desa Kebunpeteuy, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, sambil menunjukkan produk teh hitam yang dihasilkan oleh kelompoknya.

Tidak hanya teh celup yang variannya dibuat menjadi teh tarik kemasan, kelompok Ibu Ina juga belajar membuat ramuan jamu bersalin, ramuan untuk datang bulan bagi perempuan, manisan, jus jambu kemasan dan juga pengolahan ramuan herbal untuk kecantikan. Semua bahan didapatkan dari pekarangan sendiri dan tanaman di desa. Ibu Ina dan ibu-ibu lainnya menanam kunyit, temu lawak, jambu dan lain sebagainya. Jadi bahan baku sebagian besar sudah mudah didapat dari seputar tempat mereka tinggal.

Desa Kebunpeuteuy merupakan salah satu desa dari sekitar 68 desa yang tersebar di seputar kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Kawasan seluas 22.851,03 ha ini secara administratif meliputi Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Cianjur. Kawasan ini merupakan penyangga penting untuk tangkapan air bagi 4 Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Ciliwung, Cisadane dan Cimandiri di Propinsi Jawa Barat.

Dalam Program Pengelolaan Citarum Terpadu (ICWRMIP), TNGGP merupakan salah satu lokasi kerja Kementerian Kehutanan dalam program Citarum Watershed Management and Biodiversity Conservation Project (CWMBC). (lihat artikel: TN Gunung Gede Pangrango dalam Program Citarum Terpadu).

Kelompok Ibu Ina adalah salah satu dampingan dalam program CWMBC untuk memberikan pelatihan dan pendampingan ekonomi bagi warga desa di seputar kawasan TNGGP sebagai alternatif mata pencaharian. Pendampingan pendidikan dan ekonomi ini tidak terlepas dari tangan dingin para pendampingnya.

Keterangan foto: Lukman (kiri) dan Ibu Ina (kanan) memeragakan pengemasan teh celup.

Salah satunya Ika Rosmalasari, staf fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dan Lukman Nulhakim. Lukman merancang program-program pendampingan alternatif ekonomi masyarakat.

“Konsepnya sederhana, ini semacam agribisnis di tingkat keluarga. Bapak menanam, ibu mengolah dan semoga anak-anak bisa mengemasnya. Bahan baku harus mudah didapat di seputar tempat mereka tinggal. Lalu, meskipun masih dalam tahap perintisan, inginnya pemasaran utama dapat diserap oleh orang-orang desa sekitar. Misalnya bekerjasama dengan bidan dan puskesmas untuk menggunakan ramuan herbal yang dibuat oleh kelompok ibu-ibu di sini” Kata Lukman ketika ditemui sedang mendampingi kelompok Ibu Ina di Desa Kebonpeteuy (21/11/13).

Contoh produk hasil produksi masyarakat, misalnya ditunjukkan oleh Dahyelis, Kepala Bidang Pengelolaan TNGGP Wilayah 1. “Manisan tomat ini produksi warga tani Gegerbentang desa Cimacan. Bahan bakunya sangat mudah didapat disana. Kita masih perlu lakukan uji coba rasa apakah sudah bisa diterima oleh selera kebanyakan orang, lalu meningkatkan pengemasan dan pemasaran” Kata Dahyelis.

Alternatif mata pencaharian bagi penduduk di seputar kawasan konservasi idealnya memang yang tidak menggunakan basis lahan apalagi yang sampai masuk ke dalam kawasan taman nasional. Karenanya di dalam konteks program CWMBC ini, TNGGP menggagas upaya-upaya pelatihan dan pendampingan bagi warga di 8 desa di seputar taman nasional, yaitu di Desa Sukatani, Ciputri, Tegalega, Kebonpeteuy, Padaluyu, Cimacan, Cipendawa dan Sukamulya.

Memanfaatkan Bahan Yang Ada

Keteranngan foto: (atas) media tanam menggunakan bahan yang ada, batang pisang bahkan sepatu bekas ikut diujicobakan Masanaakil dan teman-temannya sebagai media tanam (bawah) uji coba dan mencatat oleh murid-murid kelas 5 SDN Nyalindung.

Selain pendampingan untuk kelompok perempuan, tim TNGGP dan CWMBC juga melakukan pendampingan antara lain diperuntukkan untuk murid-murid sekolah dasar. Salah satunya di  SDN Nyalindung, Desa Nyalindung, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.

Anak-anak sekolah disini dalam kegiatan ekstrakurikulernya belajar untuk menanam sayuran di media-media tanam yang ada. “Ini kami belajar menanam kangkung di sepatu bekas” Kata Masanaakil, murid kelas 4 SD menunjukkan sepatu yang digunakan sebagai media tanam. Kelompok lainnya menanam di bekas batang pisang yang dilubangi dan pipa paralon, juga kaleng bekas dan bekas kemasan makanan. Murid-murid juga belajar untuk membuat kompos serta pemanfaatan biogas.

Memanfaatkan bahan-bahan yang ada adalah salah satu strategi Lukman sebagai pendamping untuk memicu kreativitas anak-anak sekolah dasar yang diharapkannya dapat memanfaatkan waktunya untuk bermain sambil belajar.

“Ini seperti praktek langsung dari teori-teori pelajaran ilmu pengetahuan alam”Kata Ika. “Meskipun masih rintisan, anak-anak ini nantinya yang akan meneruskan kegiatan ekonomi keluarga mereka. Harus mulai merintis upaya-upaya pendidikan dan ekonomi agar dapat terus harmoni dengan upaya konservasi taman nasional.”

Teks: Diella Dachlan, Foto: Deden Iman/Dok.Cita-Citarum

Artikel Terkait:
TN Gunung Gede Pangrango dalam Program Citarum Terpadu

Tentang Program Hibah Kementerian Kehutanan ICWRMIP
http://www.citarum.org/node/1326

Kunjungan Kerja ke Cagar Alam Gunung Tilu
http://www.citarum.org/node/1349

Model Desa Konservasi di Pangalengan
http://www.citarum.org/node/1328