Dilema Sapi Perah di Kertasari, Ketika Alih Profesi Menjadi Sebuah Pilihan

Siang itu, matahari enggan menampakan dirinya, kabut tipis mulai menyesap masuk dan mengaburkan rentetan bukit-bukit di sekitar kaki Gunung Wayang.Hujanpun turun dan seketika membasahi semua yang ada disana.

Walaupun siang hari, suhu tidak lebih dari 21 derajat celcius.Dalam dinginnya udara yang menusuk, Dede Saepudin (47) tertunduk di sofa tua berwarna hijau yang terletak di ruang tamu rumahnya.Matanya mulai berkaca-kaca, tatapannya tertuju kepada sebuah foto berukuran 20x30cm yang terpampang di dinding.Terlihat dede berpose dikandang sapi baru miliknya, hasil bantuan dari Belanda.Jumlah sapi yang ada di dalam foto itu berjumlah puluhan.

“Itu kisah dulu, ketika sapi sangat jaya disini,” ujar Dede yang beternak sejak tahun 1984.

Kini kandang  yang terletak di sisi rumahnya hanya menyisakan 17 ekor sapi. Meskipun jumlah tersebut cukup besar untuk ukuran peternak kecil, kekhawatiran terus bergelayut akan kondisi sapi-sapinya.“Biasanya satu sapi mampu menghasilkan susu 75 hingga 85 liter per hari.Sekarang menghasilkan 60 liter saja sulit, bahkan pernah mencapai 37 liter,” ungkap Dede berapi-api.


Keterangan foto: Dede saefudin (47). Peternak dan Ketua kelompok ternak Desa Cibereum, di depan kandang sapi bantuan dari Belanda.

Penurunan produksi susu membuat Dede harus menjual 3 ekor sapinya bulan lalu untuk menutupi biaya pemeliharaan yang tinggi. Dede mencoba bertahan dengan kondisi tersebut, namun ia khawatir jika terus seperti ini sapi-sapinya akan habis sama seperti peternak lain di desanya.

Layaknya kapal yang sedang terombang-ambing tak tentu arah, begitulah nasib peternakan sapi di desanya, Desa Cibeureum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.Dalam tiga tahun terakhir, jumlah sapi terus menurun dan diikuti dengan jumlah peternak. Menurut Dede yang juga Ketua kelompok Ternak Desa Cibereum, awalnya di Cibereum terdapat  7 kelompok ternak dimana satu kelompok memiliki 40 anggota.“Sekarang hanya tersisa 3 kelompok yang anggotanya 15 orang, bahkan ada yang 4 orang,” jelasnya.

Sebagai Ketua Kelompok Ternak, banyak anggota yang mengeluhkan keberlangsungan ternak sapi mereka kepadanya. Mereka bertanya kepada Dede, apakah harus meneruskan ternak sapi atau menjualnya saja.Dede telah berpugak-pugak mencari solusi, namun ketika gajian datang semua anggota mengeluh hanya merasakan lelahnya.


Keterangan foto: Hasil produksi susu sapi perah kian hari kian menurun jumlahnya.

Situasi ini tidak hanya terjadi di desa Cibereum, tetapi juga di delapan desa Kecamatan Kertasari bahkan sampai di Kecamatan Pacet yang menjadi tetangganya.Kandang-kandang sapi banyak yang terlihat kosong dan tidak terpelihara, seakan telah ditinggalkan lama oleh pemiliknya.Di Desa Tarumajaya, Aep Wahidin Kamal (32) terlihat tengah mencuci motor di kandang sapi miliknya. Kandang itu kosong, dan kini menjadi gudang dan tempat parkir motor.Dahulu terdapat 4 sapi disana, “Semuanya telah saya jual,”ungkap Aep.

Aep mengaku lelah, uang yang diperoleh dari penjualan susu habis untuk pakan ternak yang semakin mahal. Sementara produktifitas sapi terus menurun, dan harga pembelian susu dari koperasi pun tidak kunjung meningkat.

“Dahulu sapi sayabisa menghasilkan 35 liter/hari, namun terus menurun sampai 15 liter saja.Ketika itu saya putuskan langsung menjualnya, harga sapi masih bagus ketika produksinya masih 15 liter,” jelas bapak dua anak ini.

Apa yang dilakukan Aep merupakan bentuk kekecewaannya. Bukan tanpa usaha, sebelum memutuskan untuk menjual sapi, Aep telah membicarakan kondisi tersebut dengan kelompok ternak di desa. Tetapi semua orang merasakan hal yang sama dan belum menemukan solusi. Akhirnya Ia pun membicarakan dengan pihak Koperasi Susu Bandung Selatan (KPBS), Koperasi yang menampung susu sapinya. Namun jawaban yang didapat, dikembalikan untuk diputuskan oleh dirinya.


Keterangan foto: Kandang sapi yang kosong milik aep wahidin kamal (32) di Desa Tarumajaya.

Kini Aep mengojek di pasar.Ia beralih profesi. Dari uang penjualan sapi, ia membeli sepeda motor bekas untuk modalnya mengojek. Sementara untuk membantu keuangan keluarga, di sisi rumahnya yang terbuat dari kayu, istrinya, Eulis Aminah (30), membuka warung dan berjualan sembako.“Yang penting cukup buat anak sekolah dan beli susu buat si kecil,” ujar Eulis.

Kejayaan sapi di Kertasari seakan padam, tidak hanya Aep, banyak para peternak yang akhirnya menyerah dan menjual sapi-sapinya.Mereka beralih profesi menjadi petani, pedagang, bahkan menjadi buruh tani.Padahal sapi perah pernah menjadi primadona di desa pegunungan ini.Dari sapi, Dede mengaku mampu membangun rumah dan menyekolahkan ketiga anaknya.Cerita kejayaan sapi di Kertasari tidak hanya dirasakan Dede.Ida (40) yang menjadi pegawai negeri di Kantor Desa Tarumajaya pun ikut merasakan.Ayahnya yang beternak sapi mampu menyekolahkannya hingga perguruan tinggi.

Pakan Buruk
Sapi bukanlah hal baru di Bandung Selatan, sejak zaman pendudukan Belanda wilayah ini telah dikenal sebagai sentra sapi perah. Perusahaan Belanda  De Friesche Terp, Almanak, Van Der Els dan Big Man mengelola sapi-sapi itu di Pangalengan dan memasarkannya melalui Bandoengche Melk Centrale (BMC). Pada zaman pendudukan Jepang, perusahaan itu hancur dan sapi-sapi yang masih hidup diambil oleh penduduk.Sejak saat itu peternakan sapi perah dijadikan sebagai usaha keluarga.

Masyarakat Kertasari awalnya adalah pekerja perkebunan teh, lambat laun mereka mulai beternak sapi dan bertani.Diantara masyarakat yang bekerja sebagai buruh, beternak sapi memberikan gengsi tersendiri.“Dahulu orang yang punya sapi itu dianggap kaya,” cerita Ida mengingat masa kecilnya.

Hingga tahun 2012, Kertasari telah memiliki 1.556 peternak. Di Kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Garut ini jumlah sapi mencapai 5.598 ekor dan mampu menghasilkan susu sebanyak  1.239.510 liter/bulan. Bukan angka yang kecil!

Namun angka itu terus menurun.Dedi (43), bukan nama sebenarnya, bagian pengolahan susu di Milk Cooling Center (MCC) KPBS Kertasari mengaku, tahun lalu ia masih mampu memperoleh susu 35 ton sehari dari peternak di Kertasari hingga ke Pacet.

“Tapi saat ini susu yang didapat hanya 18 ton saja, itu pun hanya dari dua desa, Cibereum dan Tarumajaya.Desa-desa lain sudah hampir habis sapi perahnya,” ujar Dedi.
Menurut Kepala desa Tarumajaya, Ayi Iskandar, kondisi tersebut telah berlangsung sejak dua tahun terakhir dan masif dalam beberapa bulan ke belakang.Sulitnya memperoleh pakan yang bagus menjadi alasan.

Hal ini pun diakui  Engkuy (63), Ketua kelopok ternak desa Tarumajaya. Lelaki yang telah beternak sapi selama 25 tahun ini menceritakan, bagaimana sapi-sapi tidak mau makan karena pakan konsentrat yang ada di pasaran bau tengik. Hal ini berdampak tidak hanya pada produktifitas sapi tetapi juga turut menurunkan kualitas susu.

Keadaan ini juga membuat harga pembelian susu di kalangan peternak menjadi tidak sama. Susu dihargai berdasarkan kualitas. Saat ini di Kertasari harga pembelian susu umumnya pada kisaran Rp.3700/liter. Namun jika kualitas susu bagus harga bisa mencapai Rp.3.800/literbahkan sampai Rp.4000/liter. Tapi  ada pula yang dibeli dibawah harga umum jika kualitasnya jelek.


Keterangan foto: Pakan konsentrat yang kualitasnya jelek.

Untuk menyiasati pakan yang jelek, konsentrat pun dicampur dengan pelet.Ketika dicampur pelet, sapi baru mau makan.Namun harga pelet yang mahal di pasaran pun dikeluhkan peternak. Peternak ingin memberikan sapi pakan konsentrat yang bagus,  akan tetapi sulit diperoleh di pasaran. Pakan berkualitas dengan protein tinggi pun semakin mahal, berkisar Rp.3.500/kg dari yang sebelumnya Rp.1.500/kg.

Meskipun telah bersiasat, produktifitas sapi tetap tidak mampudikembalikan seperti semula. Sementara harga susu tidak mengalami peningkatan yang berarti.
“Dulu dari 5 sapi, bapak bisa menghasilkan tidak kurang dari 4 juta sebulan, sekarang mah 2,5 juta  juga sulit,” keluh Engkuy dengan nada sedikit kesal.

Dilema Kerusakan Lingkungan
“Saya khawatir jika sapi tidak ada di Kertasari, masyarakat akan kembali merambah hutan di gunung wayang,” ungkap Ayi Iskandar, suatu sore di kantornya. Kekhawatiran Ayibukan tidak beralasan.Kertasari mempunyai sejarah terkait perambahan hutan.Pasca reformasi, masyarakat diwilayah ini masuk hutan dan membuka lahan pertanian disana.Rendahnya kesejahteraan penduduk dan ketiadaan lahan membuat masyarakat merambah hutan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Dengan jumlah penduduk mencapai 67.010 jiwa dan dan tigaperempatnya bergantung dari pertanian, kesediaan lahan menjadi penting.Pemanfaatan lahan di Kecamatan Kertasari dibagi untuk hutan lindung, perkebunan dan lahan pertanian.


Keterangan foto: Petani di Kertasari tengah menggarap kebun sayur.

Alih profesi yang terjadi di kalangan peternak sapi akhir-akhir ini,menurut Ayi masih di bidang pertanian. Dari peternak menjadi petani, atau dari buruh ternak menjadi buruh tani.Namun lahan pertanian di desanya bisa dikatakan padat, bahkan sudah tidak tersedia.

“Di tingkat buruh tani  punpersaingannya sangat ketat karena hampir 40 persen masyarakat kami adalah buruh tani yakni mencapai 10.000 jiwa,” jelas Ayi.Hingga saat ini, Ayi mengaku desanya belum mendapatkan bantuan terkait penurunan produktifitas sapi.Diskusi selama ini terjadi hanya antar kelompok ternak.Ayi berharap pemerintah dapat memberikan subsidi agar pakan konsentrat dapat terjangkau oleh peternak.

Pakan Alternatif
Penurunan produktifitas sapi tidak hanya terjadi di Kertasari, namun terjadi pula di hampir seluruh wilayah Kabupaten Bandung.Pemerintah Kabupaten Bandung mengaku telah memberikan bantuan berupa pakan konsentrat kepada para peternak di wilayahnya.Menurut Kepala Seksi Produksi Ternak Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung, Endang Supardi, pakan konsentrat yang dibantukan kualitasnya di atas pakan yang ada di pasaran.“Namun kami akui tidak merata dan dipusatkan pada wilayah-wilayah yang memiliki jumlah sapi yang tinggi, ini karena anggaran yang kami miliki tidak besar,” ungkap Endang.

Endang mengaku sulit untuk mencegah pabrik untuk menaikkan harga pakan konsentrat,karena  bahan bakunya pun semakin mahal. Untuk itu penyuluhan pakan alternatif pun diberikan kepada peternak, contohnya pakan yang diolah dari jerami dimana bahan bakunya banyak tersedia.

Namun diakui Endang, jerami tidak bisa langsung diberikan kepada sapi, harus difermentasi terlebih dahulu agar menjadi pakan alternatif yang berkualitas. “Sayang, peternak disini malas untuk membuatnya padahal cara ini sangat mudah, mereka lebih senang yang bersifat instan,” ungkapnya.

Endang berharap peternak bisa lebih mandiri dan tidak bergantung pada pakan di pasaran.Dengan membuat pakan alternatif setidaknya biaya produksi pemeliharaan sapi bisa lebih ditekan.

Dalam situasi peternakan yang sedang oleng, Engkuy terus mencari solusi dan menyemangati anggota kelompok agar mempertahankan sapinya. “Kita sesama anggota harus saling mendukung, Semoga saja kejayaan sapi di Kertasari kembali, ”harap Engkuy. (Iffah Rachmi).

Teks : Iffah Rahmi
Foto : Deden Iman

Artikel terkait :
Limbah Sapi di Desa Tarumajaya
http://www.citarum.org/node/1359

Ketika Petani Hulu Hilir Citarum Bertemu Lewat Pupuk
http://www.citarum.org/node/1262