Tiga Kementerian Kunjungi DAS Hulu Citarum

Saat ini salah satu penjabaran fokus kegiatan dalam RPJMN 2015-2019 adalah ketahanan air dan pemulihan kesehatan 5 DAS Prioritas, yaitu DAS Ciliwung, DAS Citarum, DAS Serayu, DAS Solo dan DAS Brantas. DAS Citarum menjadi salah satu DAS prioritas yang perlu ditangani segera. Kompleksnya permasalahan yang terjadi memerlukan penanganan dari hulu ke hilir secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait.

 

Rombongan melintasi titik Km 10 hulu Sungai Citarum, salah satu lokasi kegiatan “Greenbelt Citarum”.  

Basah Hernowo, Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas selaku inisiator dalam kegiatan ini menyampaikan, “Dengan mengetahui permasalahan secara langsung, harapannya kita bisa mendapatkan solusi dan komitmen bersama terkait implementasi pemulihan DAS Citarum berdasarkan rencana yang pernah disusun”.  

Kurang lebih 30 orang dari berbagai instansi turut terlibat dalam kunjungan lapangan bersama ini, antara lain dari Dierktorat Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air,  Direktorat Pengairan dan Irigasi, Direktorat Lingkungan Hidup, Direktorat Pangan dan Pertanian Bappenas. Sementara itu dari Kementerian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan terlibat Direktorat Perencanaan dan Evaluasi PDAS, Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung, Asisten Deputi Pengendalian Kerusakan Ekosistem Perairan Darat, Asisten Deputi Pengendalian Pencemaran Manufaktur, Prasarana dan Jasa, Biro Perencanaan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai  Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat, BPDAS Citarum-Ciliwung. Sedangkan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat diwakili oleh Balai Besar Wilayah Sungai Citarum. Turut pula dalam rombongan ini Perum Perhutani Regional III, BPLHD Provinsi Jawa Barat dan Dinas Kehutanan Jawa Barat.  

Selain mengunjungi mata air Situ Cisanti (kiri), diskusi dengan masyarakat dan tokoh setempat juga diadakan untuk menjaring aspirasi dan mengetahui permasalahan yang terjadi di lapangan (kanan).

Kunjungan di hari pertama, rombongan mengunjungi kegiatan ICWRMIP yaitu Model Desa Konservasi dan Pengembangan Pertanian Organis di Desa Cihawuk Kecamatan Kertasari. Selain itu rombongan mengunjungi Situ Cisanti, mata air utama Sungai Citarum. Dalam kesempatan ini juga dilakukan dialog dengan aparat setempat dan juga tokoh-tokoh masyarakat untuk mengetahui kondisi dan perkembangan kegiatan yang telah dilaksanakan selama ini. Pada hari yang sama rombongan juga berkesempatan mengunjungi uji coba instalasi pengolah air limah bantuan dari salah satu pengusaha textil yang dipasang di salah satu kawasan pemukiman di Majalaya.

  

Uji coba instalasi pengolah limbah pabrik yang dipasang di salah satu kawasan pemukiman di Majalaya. 

Pada hari kedua rombongan mengunjungi Sungai Cikapundung, salah satu anak Sungai Citarum yang melintasi Kota Bandung. Lokasi yang ditinjau adalah kawasan  Pulosari yang merupakan kawasan perkotaan padat penduduk. Di kawasan ini rombongan diterima oleh aparat setempat dan komunitas Cikapundung Recovery Program (CRP). Rombongan sempat berdialog dengan camat dan kepala desa setempat dan melihat kegiatan komunitas yang aktif dalam upaya pemeliharaan Sungai Cikapundung. Kawasan Batuloceng-Desa Suntenjaya adalah lokasi berikutnya yang dikunjungi oleh rombongan, daerah ini merupakan hulu Sungai Cikapundung. Salah satu kegiatan yang ditinjau adalah kegiatan kelompok masyarakat yang mengolah limbah ternak sapi untuk mengurangi pencamaran Sungai Cikapundung.

  

Rombongan mengunjungi Sungai Cikapundung, anak Sungai Citarum yang melewati Kota Bandung (kiri), selain itu juga mengunjungi kegiatan komunitas di Batuloceng Desa Sunten jaya (kanan). 

Kegiatan peninjauan lapangan ini ditutup dengan mengunjungi lokasi kegiatan komunitas di kilometer 77 Sungai Citarum. Kawasan inlet Waduk Saguling saat ini menjadi tempat berkumpulnya sampah padat dari kawasan hulu dan kawasan perkotaan serta limbah hasil kegiatan industri yang dibuang langsung ke sungai. Pada kesempatan ini rombongan juga diajak untuk melihat kegiatan kelompok komunitas yang memanfaatkan sampah dan eceng gondok menjadi komoditas yang bernilai jual.

  

Selain melihat kondisi inlet Waduk Saguling di Citarum km 77, rombongan juga melihat kegiatan komunitas Koperasi Bangkit Bersama yang memanfaatkan limbah yang ada di Sungai Citarum. 

“Kegiatan ini merupakan langkah awal, ke depannya koordinasi dalam penyusunan rencana tindak lanjut akan terus dikawal agar permasalahan Sungai Citarum ini dapat dikerjakan secara bersama-sama dan terintegrasi antar pihak, sehingga dapat mempercepat upaya pemulihan Sungai Citarum “, demikian ungkap Basah Hernowo dalam diskusi penutupnya.

 

Tulisan: Nancy Rosma, Dokumentasi: Iffah Rachmi untuk Cita-Citarum.