24 Fasilitator Untuk Rencana Aksi Masyarakat (RAM) Citarum

Penurunan kualitas air Sungai Citarum saat ini telah mencapai kondisi yang memprihatinkan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak sebagai tindakan dalam upaya mengembalikan kondisi Sungai Citarum menjadi lebih baik. Program Peningkatan Kualitas Air Baku Daerah Aliran Sungai Citarum ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas air di DAS Citarum melalui perencanaan aksi masyarakat dan koordinasi yang kuat antar sektor, wilayah dan pemangku kepentingan di Wilayah Sungai Citarum. Selama 14 hari 24 fasilitator yang terdiri atas 7 fasilitator perempuan dan 17 fasilitator pria ini mendapatkan pembekalan materi, baik materi yang diberikan di kelas selama 12 hari maupun melalui kunjungan langsung ke lapangan yang dilakukan selama dua hari. 24 fasilitator ini berasal dari 8 Kabupaten dan 2 Kota di Wilayah Sungai Citarum.

 

Ir.Hermono Sigit, Asisten Deputi Pengendalian Kerusakan Ekosistem Darat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Fasilitator Masyarakat (Community Facilitator/CF) yang telah terpilih merupakan hasil dari proses seleksi beberapa waktu yang lalu berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Selama 7 bulan ke depan mereka akan terjun ke masyarakat dan memberikan dampingan dalam penyusunan strategi dan rencana aksi pengelolaan untuk meningkatkan kualitas air di lingkungan sekitarnya.  “Rekan-rekan fasilitator ini akan menjadi agen perubahan di masyarakat”, demikian kata Ir. Hermono Sigit, Direktur Pengendalian Kerusakan Perairan Darat, Direktorat Jenderal pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Pelibatan masyarakat dalam peningkatan kualitas air harus dikedepankan. Masyarakat tetap harus diajak bersama-sama untuk merencanakan apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kondisi lingkungannya berdasarkan atas kemauan dan kebutuhannya”, lanjut Hermono.

 

Para fasilitator peserta pelatihan mengungkapkan kesan dan harapannya dalam sesi  dengar pendapat selama masa pelatihan.

Selain materi pendalaman mengenai program ICWRMIP, pembekalan materi lain yang diberikan  adalah perencanaan partisipatif melalui kolaborasi pendekatan PRA dan MPA-PHAST, langkah dan sistematika dalam penyusunan RAM, prinsip-prinsip dalam penyusunan DED/RKK dan RAB, pembentukan TKM dan Poktan, pembahasan opsi-opsi RAM, serta pengorganisasian kerja di masyarakat. Adapun salah satu lokasi kegiatan kunjungan lapangan adalah mengunjungi Bank Sampah Samici di Kota Cimahi. Kegiatan kujungan ini bertujuan untuk melihat langsung praktek dan pengalaman sukses dalam mengelola program-progam peningkatan kualitas lingkungan.

“Pelatihan ini dilaksanakan untuk menyamakan persepsi mengenai langkah dan proses kerja manajemen program ICWRMIP SC.4.1, serta meningkatkan kapasitas CF khususnya pada aspek pengetahuan dan ketrampilan yang berkaitan dalam penyusunan RAM”, papar Owin Jamasy yang berperan sebagai Sociologist/Community Empowerment Specialist dalam kegiatan ini. Sedangkan perwakilan dari salah satu fasililtator mengatakan “Kami mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, dengan adanya pelatihan ini selain berbagi pengalaman kami juga mendapatkan bekal dan peningkatan kapasitas yang kami perlukan dalam menjalankan tugas kedepannya”, ungkap Fitriani yang berasal dari Kabupaten Bandung. 24 fasilitator ini akan bekerja di 24 lokasi di wilayah Kabupaten Bekasi, Karawang, Purwakarta, Cianjur, Bogor, Bandung, Bandung Barat, Sumedang, serta Kota Bandung dan Kota Cimahi dibawah pemantauan, pengawasan dan bimbingan langsung Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLHD) Provinsi Jawa Barat dan Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) di tingkat Kabupaten dan Kota di wilayah DAS Citarum, kegiatan ini dilaksanakan dibawah koordinasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

 

Lukman, salah satu peserta pelatihan mempresentasikan kegiatanpercepatan pembuatan pupuk organik yang dapat dijadikan sebagai salah satu opsi dalam penyusunan RAM.

Pada sesi akhir pelatihan ini para peserta juga membahas tentang opsi-opsi kegiatan yang dapat diterapkan dalam penyusunan RAM. Opsi tersebut antara lain adalah pertanian organik, bank sampah, koperasi sampah, budidaya cacing, kompos dengan media cacing, serta perubahan perilaku masyarakat. Tentunya opsi-opsi ini akan digali dan direncakan lebih lanjut bersama-sama dengan masyarakat, serta disesuaikan dengan potensi dan kondisi yang ada di lapangan.

Pelatihan selama 14 hari ini telah terbukti meningkatkan kapasitas para CF. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan pemetaan kapasitas pengetahuan dan peran fasilitator terhadap materi program ICWRMIP, strategi pendampingan masyarakat, penyusunan dokumen RAM, serta pendekatan PRA dan MPA-PHAST, baik sebelum dan sesudah pelatihan. Ketika disimulasikan kembali, seluruh peserta rata-rata mengisi skor pemahaman 76-100% untuk semua materi yang telah diberikan.

Pemetaan Kapasitas fasilitator sebelum pelatihan (kiri), Setelah mengikuti pelatihan peserta fasilitator mengisi skor pemahaman 76-100% (kanan).

“Dokumen Rencana Aksi Masyarakat (RAM) ini akan menjadi catatan rencana kegiatan apa yang harus dan perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas air baku di daerah aliran sungai untuk mewujudkan Sungai Citarum menjadi sungai yang bersih dan lestari”, tegas Hermono Sigit.