Beri Tohari: Sang Petani Muda

Berbeda dari teman-teman sebayanya di Karawang yang memiliki bayangan menjadi karyawan dan buruh pabrik, cita-cita Beri Tohari membuatnya sering ditertawakan. Cita-citanya yaitu menjadi Petani. “Buat apa jadi petani? Sudah kerjanya capek, susah, kalau panen gagal makin bangkrut, gak keren lagi” biasanya hal ini yang dikatakan oleh teman-temannya.

Beri Tohari memang tidak seperti pemuda biasanya. Ia tidak goyah dengan pendapat orang lain tentang pilihannya menjadi petani. Lulus STM Jurusan mesin pada tahun 2007, pemuda yang tinggal di desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang ini memilih menunda masuk kuliah. Ayahnya yang juga petani meninggal dunia. Sang Ibu dan ke-empat kakaknya memiliki pilihan meneruskan mengolah lahan sebagai petani atau menjualnya. “Awalnya saya kasihan sama Mamah. Kita kan punya lahan, masa tidak diolah. Apalagi dari dulu saya suka diajak ke sawah, sedikit-sedikit saya jadi belajar” Kata Beri.

Beri


Beri, sang petani muda
Ketika mulai menggarap lahan, Beri berhasil meningkatkan hasil panen dari 4 ton hingga 7 ton per hektarnya. Hal itu membuatnya bertambah semangat. Mendengar tentang SRI, Beri pun mendaftar ikut sekolah lapang tani binaan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) di Jatinangor. Tetapi karena lahan sawahnya yang rendah dan sulit mengatur keluar masuk air, Beri memutuskan belum menerapkan metode tanam SRI di sawahnya.

Lahan sawah yang dikelola Beri sekitar 4 hektar. Di umur baru 24 tahun, Beri memutuskan untuk meragamkan jenis tanamannya. Ia bertanam jati dan sengon serta  beternak bebek. Ia memungut keong emas, hama yang kerapkali menyerang sawahnya sebagai campuran pakan bebeknya.

“Saya dapat bimbingan banyak dari para petani senior di sini” Kata Beri. Sebaliknya ketika dikonfirmasi, petani senior seperti Pak Udin Samsudin, ketua kelompok Tani Tirta Saluyu di Desa Sarijaya mengatakan bahwa beliau dan teman-temannya justru heran campur kagum dengan Beri. “Jarang sekali ada anak muda memutuskan secara sadar ingin jadi petani. Lihat kami ini, rata-rata sudah 50-60 tahunan. Anak-anak kami tidak ada yang mau jadi petani, karenanya kami sangat senang ketika ada petani muda seperti Beri” Kata Udin Samsudin.

“Jam kerja” Beri di sawah setiap hari mulai dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore. Selepas makan siang biasanya Beri mengatur petani untuk mencangkul dan mengolah lahan, mengatur penanaman, mengurus ternaknya. Kadang Beri turun sendiri mencangkul lahan. Saat ini Beri sedang kuliah jurusan pertanian di salah satu universitas swasta di Karawang. “Tapi saya lebih suka kuliah di lapangan, lebih variatif, lebih banyak yang dipelajari dan bukan cuma teori melulu” Cerita Beri.

Beri membuktikan menjadi petani tidak selalu kalah dengan penghasilan karyawan atau buruh. Sebaliknya, jika dengan pengelolaan yang baik, penghasilannya sebagai petani dirasakan sudah lebih dari memadai. Dari 1 hektar lahannya dengan panen 6 ton, Beri bisa mendapat penghasilan sekitar Rp 24 juta.

Meskipun demikian, Beri sangat menyadari bahwa menjadi petani memang banyak tantangannya. Hama, penyakit, kekhawatiran gagal panen, kekeringan dan banjir adalah beberapa tantangan yang dihadapi petani yang juga dirasakan oleh Beri. Selain itu kekhawatiran Beri lainnya yaitu semakin menyusutnya lahan pertanian di Karawang. Padahal bagi Beri lahan sawah adalah anugerah dan harus dikelola dengan baik agar berguna bagi orang lain dan bagi pemiliknya.

Ketika ikut pelatihan di Jatinangor, Beri pernah mengunjungi Sungai Citarum. Meskipun ketika aliran Sungai Citarum sampai ke desanya, sampah di sungai tidak sebanyak yang ia lihat di wilayah hulu, namun bagi Beri sampah di saluran irigasi pun menjadi tantangan. “Padi kami bisa terganggu pertumbuhannya kalau sampah ikut masuk ke sawah. Selain itu kasihan petaninya pada gatal-gatal kena air penuh sampah. Belum lagi kami harus selalu menyingkirkan sampah dari tangan-tangan iseng yang buang sampah sembarangan” Kata Beri serius.

Beri berharap lebih banyak anak muda menjadi petani, hingga ia bisa punya lebih banyak teman dan membentuk jejaring. Jika tidak sedang sibuk di sawah, hobi Beri lainnya adalah menonton Jaipongan dan Wayang Golek.

Teks: Diella Dachlan, Foto: Ng Swan Ti/Dok.Cita-Citarum