Indra Darmawan: Lilin Kecil di Sisi Raksasa Saguling

Waduk Saguling, salah satu waduk dari tiga waduk besar di aliran Sungai Citarum adalah sebuah ironi. Di satu sisi, waduk yang dibangun pada tahun 1985 ini ibarat “raksasa” cahaya, yang mampu membangkitkan 900 MWH tenaga listrik dan sanggup menerangi Pulau Jawa dan Bali. Di sisi lain, permasalahan Citarum yang kian kronis pada 20 tahun terakhir ini membuat sang “raksasa perkasa” ini kian melemah.

Keterangan foto: Indra Darmawan di lokasi pencacahan plastik milik Koperasi Bangkit Bersama, Kampung Babakan Cianjur, Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (27/02/14).

Kiriman beratus-ratus ton sampah dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi ini berujung pada mulut waduk Saguling. Hal ini menciptakan pemandangan baru yang kian familiar bagi warga yang tinggal di sisi Sungai Citarum di Kecamatan Batujajar dan Kecamatan Cihampelas, berupa hamparan luas sampah dan eceng gondok.

“Saya lahir dan besar di  sisi Sungai Citarum adalah tempat bermain saya sebelum waduk Saguling dibangun. Dari dulu sudah ada sampah, tetapi tidak separah ini” Kata Indra Darmawan, pria 42 tahun kelahiran Kampung Babakan Cianjur, Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.

indra darmawan 01Lulusan Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjajaran, Indra merupakan satu-satunya sarjana di Kampung Babakan Cianjur pada saat itu. Ketika lulus pada tahun 1998, Indonesia saat itu sedang mengalami krisis ekonomi dan pergolakan reformasi politik. Yang terjadi adalah semakin sulitnya mencari lapangan pekerjaan. Mengaku terinspirasi dari sebuah buku karangan Robert T.Kyosashi yang memotivasi pembacanya untuk menjadi pengusaha, Indra melihat ke kampungnya terlebih dahulu.

“Apa yang bisa saya lakukan di kampung ini? Di sini banyak warga yang ekonominya pas-pasan dan pendidikannya rendah. Setelah daerah di sekitar ini ditenggelamkan untuk pembangunan Waduk Saguling sebelum tahun 1985, warga yang tadinya petani banyak kehilangan lahan garapannya” cerita Indra.

Lalu sebuah ide menyeruak masuk ke pikiran Indra. Ujung desanya yang berada di sisi Saguling penuh dengan sampah dan Indra melihat kelompok pemulung yang mengambil sampah. Indra mulai memulung sampah pada tahun 1998.

Karena ketidaktahuannya, Indra mengumpulkan sampah dan memilahnya sesuai dengan warna. Jadi ketika aneka jenis sampah dengan kelompok warna yang sama itu dibawa ke pabrik pengepul di Cigondewah, pemilik pabrik langsung menolaknya. Penolakan itu meski cukup pahit, tetapi membawa manfaat sendiri. Dari pemilik pabrik itu Indra diajari memilah sampah sesuai dengan jenisnya, karena setiap jenis sampah berbeda-beda harganya.

indra darmawan 04 Keterangan foto: Contoh demo plastik hasil cacahan, kini pemilahan sampah dilakukan berdasarkan jenisnya.

Indra lalu mulai mengajak beberapa tetangganya ikut bersama-sama mengumpulkan sampah dan memilahnya untuk kemudian dijual ke pengepul. Pada tahun 2005, Indra mendapatkan bantuan awal dari Badan Zakat Nasional untuk membeli mesin pencacah dan mendirikan bangunan setengah permanen untuk tempat pengumpulan sampah. 
Tahun 2009, Indra berinisiatif mendirikan Koperasi Bangkit Bersama. Koperasi simpan pinjam ini simpanan pokok anggotanya Rp 25,000 dan simpanan wajib Rp 10,000/bulan. Anggota koperasi pun bisa mencicil pinjaman dengan menyetorkan sampah plastiknya kepada koperasi. Kini anggota Koperasi Bangkit Bersama memiliki total hampir 100 anggota. Selain itu warga sekitar ikut bekerja memilah, mencacah atau membersihkan sampah dengan bayaran bervariasi sesuai dengan jenis pekerjaannya.

Untuk urusan sampah, Koperasi membeli sampah dari para “koordinator” sampah yang mengumpulkannya dari para pemulung. Para koordinator sampah ini diberi modal awal terlebih dahulu oleh koperasi untuk membeli sampah dari para pemulung.

indra darmawan 03 indra darmawan 05 Keterangan foto: (kiri) Lokasi pengumpulan sampah koperasi di Kampung Babakan Cianjur, Desa Cihampelas, Kab.Bandung Barat (kanan) anggota koperasi sibuk bekerja memilah sampah.

Eceng Gondok dan Hutan Komunitas
Hal lain yang mulai menjadi perhatian Indra adalah eceng gondok yang menurut Indonesia Power, unit pengelola waduk Saguling, hamparannya di Sungai Citarum mencapai 12 hektar. Indra dan Koperasi Bangkit Bersama ini juga mendapat bantuan dan menjadi binaan Waduk Saguling pada tahun 2008. Berbekal tekad, Indra dan warga Kampung Babakan Cianjur mengambil eceng gondok, mengeringkannya dan mencoba menjadikannya berbagai kerajinan.

“Kemampuan dan tenaga kami untuk mengambil dan mengolah eceng gondok masih terbatas” tutur Indra. Meskipun demikian, barang kerajinan eceng gondok warga sempat dibawa ke berbagai pameran. Salah satunya adalah satu set meja dan kursi eceng gondok yang dibanderol seharga Rp 5 juta.

Langkah Indra belum terhenti sampai di situ. Inisiatif Indra berikutnya terinspirasi dari pemandangan bukit-bukit gersang di sekitar waduk Saguling. “Akibatnya, kalau musim kemarau, kita bisa melihat lumpur sangat tebal di daerah ini. Sungainya menjadi dangkal” kata Indra.  Hutan komunitas adalah upaya Indra dan warga untuk menghijaukan kembali pinggiran desa mereka yang agak berbukit dan bersisian dengan waduk Saguling. Mereka menanam aneka pohon besar yang nantinya bisa dimanfaatkan warga dengan menggantinya dengan pohon baru beberapa tahun sebelumnya jika akan menebang. Warga juga menanam tanaman pertanian lainnya secara tumpang sari di hutan ini.

Karena upayanya, Indra terpilih dan dinobatkan menjadi salah satu Pahlawan Untuk Indonesia Tahun 2013 versi MNC TV pada bulan September 2013 lalu, menyisihkan 300 kandidat dari seluruh Indonesia.

Berhentikah Indra? Rupanya ayah dua anak ini belum lelah bermimpi. Ia ingin mengembangkan usahanya dan mulai memikirkan konsep ekowisata yang ia harapkan bisa menjadi penggerak ekonomi baru yang bisa memberi manfaat bagi kesejahteraan warganya dan kelestarian lingkungan.

“Saya ingin warga nantinya sejahtera. Kalau mereka sekarang jadi pemulung, di masa depan mereka bisa jadi pengusaha. Kalau mereka sekarang pendidikannya SD, nantinya akan banyak sarjana baru di desa ini” kata Indra tentang impiannya.

Indra adalah ibarat sebatang lilin yang memantik lilin-lilin kecil lainnya di lingkungannya, berupaya dan berdaya bersama, menjadi seberkas cahaya penerang dari kelamnya permasalahan Citarum.

indra darmawan 06 Keterangan foto: Sungai Citarum yang tertutup eceng gondok dan sampah, Photo by Ng Swan Ti/Doc.Cita-Citarum, 2013).

Teks: Diella Dachlan, Foto: Ng Swan Ti, Deden Iman/Dok.Cita-Citarum