Sunardhi Yogantara: Reconnecting People with Their River

Sunardhi Yogantara atau yang akrab dipanggil Pak Yoga ini bukan warga asli Desa Sangkanhurip. Pindah ke desa ini pada tahun 1980-an, Pak Yoga bercerita bahwa Sungai Citarum yang berada dekat dengan tempat tinggalnya masih sering dijadikan warga sebagai tempat mengambil air, mencuci dan mandi.

Namun sejak tahun 1990-an, kondisi Sungai Citarum terus menurun. Bukan hanya sampah yang sering mengambang di badan sungai, namun air sungai juga berwarna kehitaman, dan berbau, karena limbah industri  ikut dibuang ke sungai. Perlahan, warga tidak berani lagi menjadikan sungai ini untuk kegiatan sehari-harinya. Lebih buruk lagi, sungai pun menjadi tempat sampah baru, yang semakin hari semakin terjejal oleh sampah.

Keprihatinan Pak Yoga terhadap perubahan ini membuatnya mulai mengajak warga untuk mulai berpikir bersama untuk mengatasi perubahan ini. “Awalnya mulai dengan mengobrol bersama di warung, lalu di mesjid bersama ustad, ternyata banyak juga warga yang berpikiran serupa. Akhirnya dari obrolan itu, berlanjut ke aktivitas seperti membuat selebaran tentang anjuran membuang sampah pada tempatnya” cerita Pak Yoga. Tahun 2000, Warga Peduli Lingkungan terbentuk menjadi sebuah kelompok komunitas.

“Bersama masyarakat, kita juga mulai merencanakan lokasi pembuangan sampah, pengangkutan rutinnya dan infak atau sedekah untuk biaya angkut”. Menurut Pak Yoga, mekanisme iuran itu menggunakan subsidi silang. Yang mampu membantu yang kurang mampu. “Yang menarik, ternyata ada juga warga miskin yang teratur membayar sedekah, malah ikut aktif untuk ikut membersihkan sampah”.

Sepuluh tahun WPL berdiri, kegiatannya semakin berkembang. Selain peduli pada kegiatan di kampungnya, WPL juga melakukan berbagai kegiatan pendampingan dan pemberdayaan. Misalnya penanaman bambu dan vetiver di lahan kritis desa Mekarjaya, Kecamatan Bandung, pengelolaan sampah mandiri, pendidikan lingkungan dan lain sebagainya.

Menurut pak Yoga, kegiatan Festival Citarum ini sudah dilaksanakan selama 4 kali, yaitu 2001,2003 dan 2006. Kegiatan ini untuk sosialisasi dan kampanye kepedulian terhadap sumber air dan sungai yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, khususnya masyarakat yang berlokasi di sepanjang Sungai Citarum.

“Penataan sempadan sungai di sepanjang sungai ini bersama masyarakat dan pemerintah bukan berarti sempadan sungai ini harus steril dari kegiatan masyarakat. Sebaliknya, sempadan dapat menjadi ruang terbuka masyarakat dan dapat tetap digunakan, misalnya untuk berolahraga, bersantai, menanam dan lain sebagainya” Pak Yoga menjelaskan.

“Kegiatan ini berusaha menyambungkan kembali masyarakat dengan sungainya. Reconnecting People with Their River. Setidaknya kalau memulihkan sungai ini seperti kondisi sediakala sepertinya mustahil, minimal kita bersama dapat mencegah laju pencemaran dan degradasi sungai kita ini”. Kata Pak Yoga berharap.