Teteh Iwa: Kekuatan yang Tak Henti Mengalir

Jika Anda berkunjung ke kampung Ciwalengke desa Sukamaju, Kabupaten Bandung, maka tidak akan susah menemukan rumah Teh Iwa. Akan ada saja warga yang bersedia menunjukkan, bahkan mengantarkan ke rumah beliau kepada Anda.

Iwa Detiyani (42 tahun), atau yang akrab dipanggil Teteh Iwa, selama ini dikenal warga kampung Ciwalengke sebagai penggiat sosial di desa mereka. Teteh merupakan panggilan akrab dalam Bahasa Sunda, yang berarti kakak perempuan. Dari urusan perencanaan desa hingga masalah orang sakit tapi tidak memiliki biaya berobat, maka biasanya Teteh Iwa membantunya untuk mengurusnya ke rumah sakit.

Kampung Ciwalengke, dilewati oleh aliran irigasi, dimana seringkali pabrik-pabrik di sepanjang aliran ini membuang limbahnya langsung tanpa diolah terlebih dahulu. Akibatnya hampir seluruh warga terkena gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya. Untuk permasalahan ini, warga pun mengadu pada Teteh Iwa, yang mencoba membantu fasilitasi membicarakannya dengan pihak pabrik, yang sayangnya belum membuahkan hasil yang positif.

Teteh Iwa bukanlah aparat desa resmi. Meskipun di desa Sukamaju, beliau terdaftar sebagai Pekerja Sosial Masyarakat (PSM). Teteh Iwa fasih berbicara mengenai permasalahan di kampong ini, termasuk upaya-upaya yang dilakukan. Sebagian berhasil, sebagian masih berharap menunggu hasil yang baik.

Salah satu hal yang membuat Teteh Iwa gemas adalah di dalam perencanaan desa, kebutuhan utama warga kampung Ciwalengke adalah akses ke sumber air bersih. Namun, ketika perencanaan diajukan, prioritas utama malah berubah menjadi pengajuan fasilitas prasarana lainnya, misalnya lapangan bola, yang meskipun kebutuhan, tapi bukan merupakan kebutuhan utama yang mendesak. “Air bersih itu merupakan kebutuhan utama masyarakat. Air di kampong kami ini sudah tidak layak digunakan. Lihatlah sendiri, untuk menggunakan air yang tercemar ini, warga hanya menyaringnya dengan kaus kaki biasa, saya kuatir dalam jangka panjang mereka akan kena masalah kesehatan yang lebih serius.” Kata Teteh Iwa prihatin.

Karena dipercaya oleh masyarakat, warga sering meminta Teteh Iwa untuk menjadi ketua RT atau Ketua RW di desa itu, tetapi sering ditolak oleh Teteh iwa. “Saya sih yang penting membantu masyarakat, syukurlah kalau masih dipercaya oleh warga disini”.

Teteh Iwa, istri dari Alit Supriyatna (42 tahun), karyawan di salah satu pabrik tekstil di Majalaya, merupakan ibu dari dua orang anak. Anak sulungnya, Dimas (19 tahun) telah lulus SMA, tetapi tidak bisa meneruskan ke bangku kuliah karena tidak adanya biaya, sedangkan anak bungsunya, Dita (12 tahun) masih duduk di bangku kelas 6 SD. Dulunya Teteh Iwa adalah lulusan Institut Perhotelan dan Pariwisata Bandung. Karena Bahasa Inggrisnya yang cukup lancer, beliau sempat ditawari untuk bekerja di Australia. Namun karena kecelakaan yang dialaminya, rencana itu harus ditunda, dan Teteh Iwa menjadi salah satu tokoh masyarakat di kampungnya yang  dengan suaranya jernih dipercaya untuk membantu permasalahan masyarakat.

Jika musim kemarau, banyak sumur warga yang kering dan biasanya warga ikut mengambil air di sumur rumah keluarga Teteh iwa. “Syukurlah sumur ini tidak pernah kering. Berbeda dengan air sumur warga disini yang biasanya sudah tercemar dan bau, sumur di rumah ini airnya jernih. Semoga terus begini, sehingga bisa bermanfaat bagi orang banyak.” Kata Teteh iwa berharap.

Seperti layaknya sumur di rumah beliau, semoga semangat Teteh Iwa tetap menjadi sumber kekuatan yang tidak pernah padam bagi warga kampungnya.