Ibu Ita Purwanti : Upaya Menggagas Perubahan

Selama ini Ibu Ita mengaku sangat prihatin dengan sampah yang dibuang ke sungai. Bukan hanya mengenai limbah industri yang seringkali dibuang ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu, tetapi juga limbah rumah tangga yang juga berkontribusi cukup besar dalam pencemaran sungai.

“Kalau dibuang di tempat sampah, sudah ada dinas yang mengurusnya. Sementara kalau sudah dibuang ke sungai, siapa yang mau bertanggungjawab?”. Ketika banjir, kita semua dirugikan” Kata Ibu Ita prihatin.

Sebagai Kepala Bidang Drainase, Sumber Daya Air (SDA) Pertambangan Energi Kabupaten Bandung, Ibu Ita aktif turun ke lapangan dalam sosialisasi langsung kepada masyarakat yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sungai.

Menurut Ibu Ita, daripada sekedar menyalahkan, sebaiknya memang ada upaya baik dari masyarakat maupun pemerintah. “Pokoknya kita melakukan apa yang kita bisa dulu bersama-sama”.

Bersama Pak Asep Kuryana dari Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC), Ibu Ita cukup sering ikut sosialisasi mengenai topik-topik yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan air sungai.
Sosialisasi seperti ini juga melibatkan berbagai instansi pemerintahan agar dalam satu pertemuan, masyarakat bisa mendapatkan informasi dari masing-masing bidang sektor pemerintah.

Pengalaman sebelumnya selama sepuluh tahun (1998-2008) bekerja di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung sebagai Kepala Seksi Pencemaran Air, cukup banyak membantu Ibu Ita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat mengenai jenis-jenis limbah dan pencemaran.

Ibu Ita mengaku sangat menikmati waktunya bertemu langsung dengan masyarakat. “Saya bisa belajar dari mereka, mendengar apa yang menjadi kebutuhan mereka dan apa yang harus kita tingkatkan untuk memperbaiki diri membantu kebutuhan masyarakat”.

Ketika baru ditugaskan pada jabatannya yang sekarang, Ibu Ita aktif mencari peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pengelolaan sungai. Termasuk mencari informasi dan data “door to door” ke berbagai instansi terkait. Karena upayanya itu, Ibu Ita berinisiatif membuat buku himpunan peraturan pengelolaan sungai, yang juga diharapkan dapat mempermudah orang-orang yang membutuhkan informasi mengenai peraturan tersebut.

Menurut Ibu Ita, salah satu faktor yang paling penting di dalam sebuah organisasi adalah sumber daya manusianya. Pengalaman itu dialaminya sendiri ketika baru menjabat di posisinya sekarang.

Empat belas stafnya yang seluruhnya laki-laki pada saat itu tidak dapat mengoperasikan komputer sama sekali. Sehingga tahun pertama, membangun kapasitas stafnya adalah agenda utama Ibu Ita. Bukan hanya komputer, tapi juga bagaimana melakukan paparan dan presentasi juga membuat laporan yang baik.

“Alhamdulillah, sekarang sudah banyak kemajuan. Staf sudah bisa mengoperasikan komputer, bahkan sudah bisa membuat Surat Pertanggungjawaban (SPJ) Proyek dan sudah bisa melakukan paparan dan presentasi serta membuat laporan”

Sebaliknya Ibu Ita sendiri tidak pernah segan untuk belajar pada siapapun. “Dalam belajar, saya tidak pernah memandang strata pendidikan, jabatan atau golongan. Pada siapapun kita bisa belajar”.

Salah satu tantangan yang dihadapi Ibu Ita adalah memotivasi stafnya untuk melihat sebuah pekerjaan itu dari basis kinerja dan bukan sebagai proyek semata. “Tantangannya sekarang ini adalah mengubah pola pikir dan sikap. Pendekatannya jangan melulu proyek. Yang penting kita tanyakan dulu apa yang bisa kita kerjakan dan bisa kita hasilkan dari pekerjaan ini serta bermanfaat bagi orang banyak, dan bukannya apa yang akan menguntungkan dan mendahulukan kepentingan pribadi”

Ibu Ita berharap adanya semacam matrix sharing untuk penanganan sungai di tingkat kabupaten, propinsi dan pusat juga akan membantu di dalam pembagian kewenangan dan tugas pokok untuk menghindari overlapping atau malah tidak ada penanganan sama sekali.