Pak Sutar: Selaras Dengan Alam

Sebagaimana para petani pada umumnya, meningkatkan hasil produksi panen adalah sebuah dambaan. Tidak terkecuali Pak Sutar, (60 tahun) warga desa Ratawangi, Ciamis, Jawa Barat.

Tahun 1960, Pak Sutar dan para petani di desanya hanya mampu menghasilkan dua kuintal beras setiap masa penennya untuk lahan seluas sekitar 1000 meter. Saat itulah awal mulanya Pak Sutar merasa “geregetan”.

“Dulu kami sama sekali tidak mengenal pupuk kimia yang dapat meningkatkan hasil produksi, makanya kehadiran pupuk buatan kimia sekitar tahun 1970-an sangat kami sambut baik” cerita Pak Sutar mengenang. Dengan bantuan pupuk-pupuk tersebut, hasil produksi pada saat itu mulai meningkat, yaitu dari dua kuintal melonjak hampir tiga kali lipat, atau sekitar 5-6 kuintal untuk luas lahan yang sama.

Masalah Baru

Sayangnya masa manis tersebut tidak berlangsung lama. Mulai tahun 1985, Pak Sutar menemukan permasalahan baru, tanah sulit diolah kembali setelah panen selesai. Masalah yang tadinya hanya masalah produksi, kini bertambah dengan tanah kering, retak-retak, daya serap airnya berkurang dan sangat keras jika dicangkul. Masalah lain yang timbul adalah serangan hama, terutama hama wereng dan hama keong. Padahal dosis obat anti hama sudah diberikan jauh lebih tinggi daripada biasanya, tetapi hama terus menyerang.

“Kami sudah konsultasi ke sana kemari. Baik dengan dinas-dinas terkait ataupun bertukar pengalaman dengan rekan-rekan petani lainnya.” Cerita Pak Sutar. Namun pada masa itu belum ada solusi ampuh yang dapat menyelesaikan permasalahan ini.

Merasa mentok, Pak Sutar nekat kembali ke cara-cara lama yang dulu dikenalnya. Pengolahan tanah kembali dengan cara organik dengan pupuk kandang hasil ternak, pengomposan dari daun-daun yang membusuk.

Ternyata dari hasil uji cobanya itu tanah kembali dapat lebih gembur dan mudah dicangkul. Sejak itu Pak Sutar memutuskan untuk menggunakan cara pengelolaan lahan organik.

Teladannya mulai diikuti oleh rekan-rekan petani di kampungnya.

Belakangan Pak Sutar mulai mendengar bahwa penggunaan pupuk buatan yang berlebihan dapat mengganggu kehidupan dan keseimbangan tanah, meningkatkan dekomposisi bahan organik, yang kemudian menyebabkan penurunan struktur tanah sehingga mengakibatkan kerentanan yang lebih tinggi terhadap kekeringan dan menurunnya hasil panen.

Hanya saja, upaya Pak Sutar untuk “kembali dan selaras dengan alam” pada masa itu bagi pihak tertentu dianggap malah membawa masalah baru. Pak Sutar mengaku pernah diancam, bahkan ancaman rumah akan dibakar dan nyawa dihilangkan pernah diterimanya.

“Saya susah payah menjelaskan bahwa saya inikan petani, saya tidak punya maksud lain, apalagi sampai menghalangi penjualan produk tertentu untuk mengolah lahan. Saya cuma ingin belajar mengolah tanah, membuat pupuk sendiri untuk lahan saya. Tetapi malah para petani lainnya mengikuti jejak saya” Kenang Pak Sutar.

Pak Sutar terus berupaya mencari jalan dan upaya-upaya yang dapat membantu pengolahan lahan dan peningkatan hasil tani di desanya. Termasuk mengajukan permohonan ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk membuatkan bendung di desanya. Ketika permohonan tersebut mendapatkan persetujuan oleh Dinas PU dan Bupati Ciamis pada tahun 2000, tidak terkira kegembiraan Pak Sutar dan para petani lainnya. Bendung dibangun di Sungai Kawasan Kedungmalang dan dapat mengairi lahan seluas 150 hektar di seputar desanya.

Petani Fasilitator

sutar02Tidak lama setelah itu, kebetulan PU memiliki program lanjutan untuk penyuluhan pertanian dengan titik berat efisiensi air. Tahun 2003, PU mulai dengan pelatihan petani System Rice Intensification (SRI) dengan 4 kelas, ternyata dari penanaman metode SRI, air dapat dihemat hingga 40 persen. Tahun 2003, pelatihan 4 kelas ini bertambah menjadi 40 kelas dan terus meningkat tiap tahunnya.

Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) mulai mengadakan pelatihan petani SRI di Jatinangor, Jawa Barat sejak tahun 2007. Setiap tahunnya, sekitar 24 angkatan dengan setiap angkatan diikuti oleh sekitar 40 petani atau sekitar 800 lulusan pelatihan petani SRI setiap tahun.

Pak Sutar mulai bergabung dengan kelas pelatihan ini sejak tahun 2009. Malah kemudian beliau menjadi fasilitator tani hingga saat ini. Profesi barunya sebagai fasilitator juga membawa Pak Sutar memperoleh kesempatan mengunjungi dan bertemu dengan petani-petani dari daerah lain. Sebuah hal yang menjadi kegemarannya, karena ternyata Pak Sutar menemukan keasyikan tersendiri ketika mengajar dan berbagi.

Jika mulai bicara topik pertanian dengan Pak Sutar, maka penjelasannya akan panjang dan rinci, termasuk ketika bicara cara-cara pengendalian hama.

“Semua mahluk hidup ada ini sudah ada fungsi dan perannya masing-masing. Bagi kita kadang-kadang, hal itu menjadi hama. Tetapi ingat, sama seperti kita, mereka punya hak hidup dan keberadaannya akan mengajarkan kita cara-cara lain untuk mengolah lahan yang sejalan dengan alam, bukan merusaknya. Tinggal tergantung kita mau menyikapinya seperti apa” tuturnya dengan bijak.

Mengolah lahan sejalan dengan alam akan memberikaan kita hasil yang baik tanpa perlu merusak keseimbangan lingkungan.

Teks dan Foto: Diella Dachlan