Ibu Suryati: Kisah Pemulung di Cikapundung

Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat rekor terbesar untuk kegiatan Kukuyaan terbesar yang dilaksanakan di Sungai Cikapundung, Jawa Barat, pada hari Minggu, 19 Juni 2011. Kukuyaan dalam bahasa Sunda berarti kura-kura. Kegiatan Kukuyaan ini dikenal sebagai kegiatan mengalun di sungai menggunakan ban dalam dan kedua tangan mengayuh seperti layaknya kura-kura.

Ibu Suryati (50 tahun), pemulung sampah di Sungai Cikapundung dari tahun 1979, menyaksikan keramaian dan kemeriahan acara dari atas atap bangunan Paskam di sisi Sungai Cikapundung. Hari itu beliau tidak bekerja memulung sampah di sungai. Kesempatan itu digunakan Ibu Suryati untuk menjemur pakaian dan peralatan memulungnya. “Saya senang jika Sungai Cikapundung Bersih kembali. Dulu air Cikapundung bisa untuk minum dan mandi. Sejak akhir tahun 1980-an air sangat kotor dan sampah menjadi semakin banyak” katanya membuka pembicaraan.

Sejak tahun 1980-an Ibu Suryati sudah menjadi pemulung di Cikapundung. Dulu, beliau dan keluarganya tinggal di Cigondewah, Kopo.  Ibu Suryati adalah anak tunggal, begitu kedua orang tuanya meninggal dunia, hidupnya pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hingga kini di Cikapundung, beliau tinggal di bawah pohon kersen yang tumbuh di sisi sungai. “Rumah”nya adalah sehelai terpal biru berukuran 10 meter yang menjadi atap jika masing-masing ujungnya dikaitkan ke sisi-sisi pohon.

“Jam kerja saya malam hari” Kata Ibu Suryati setengah berkelakar. “Saya memulung mulai dari jam 6.30 malam hingga jam 12 malam. Kalau cape, saya tinggal buka rumah. Lebih enak memulung malam hari, tidak terlalu panas.”

Rekan-rekan pemulung di sungai Cikapundung sebagian besar pria. Untuk mengumpulkan sampah yang mengalun dengan aliran sungai, Ibu Suryati mengaku spesialisasinya adalah plastik. Botol kemasan air minum dan jenis plastik yang beliau sebut sebagai “emberan” memberikan harga jual paling tinggi.
Untuk harga botol kemasan, per kilogram-nya bisa mencapai Rp 7.000. Sedangkan emberan, per kilogram-nya sekitar Rp 1,500. Hasilnya itu dijual ke penampung. Dalam seminggu, penghasilan Ibu Suryani sekitar Rp 150,000.

Selain plastik, apa yang paling banyak ditemukan di sungai?. Ibu Suryati mengaku sering menemukan lintah atau ular sepanjang setengah meter berwarna putih dan hitam. Terutama setelah hujan. Tetapi yang paling mengejutkan beliau adalah menemukan mayat perempuan yang ddalam keadaan terpotong yang dijejalkan dalam sebuah kardus.

Ibu Suryati merupakan ibu dari empat orang anak yang sudah dewasa. Dua laki-laki dan dua perempuan. Anaknya paling kecil sudah berusia 27 tahun dan sudah berumahtangga. Tapi, menurut Ibu Suryati, sebagai keluarga pun mereka jarang bertemu. “Mungkin mereka malu mempunyai ibu gembel seperti saya” kata Ibu Suryati dengan nada datar.

“Saya akan terus bekerja di Cikapundung. Saya sudah kenal sungai ini sejak lama dan ini seperti rumah saya. Harapan saya pun kalau bisa, saya ingin punya modal, buka warung. Tapi kalau bisa, tidak jauh-jauh dari tempat sekarang ini”. Ibu Suryati berbagi tentang harapannya.

Meskipun hidup sederhana dan seringkali kekurangan, Ibu Suryati menegaskan dengan tegas bahwa dirinya tetap tidak ingin menjadi peminta-minta. “Saya memang gembel, tetapi bukan penegemis. Saya ini pemulung”. Demikian tegasnya menutup kisahnya sebagai seorang pemulung di Sungai Cikapundung.
Teks dan foto: Diella Dachlan)

suryati03

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 
suryati02