Masyarakat Sehat, Sejahtera Meningkat

“Senang rasanya jika masyarakat bisa hidup lebih sehat, pasti kesejahteraan mereka juga akan meningkat”. Demikian angan-angan yang disampaikan oleh Siti Aisyah yang lebih akrab disapa dengan Ai, salah seorang Community Facilitator Team (CFT) ketika ditemui di sela-sela kegiatannya mendampingi masyarakat Desa Pasir Tanjung Kabupaten Bekasi.

Keterangan foto: Para Fasilitator pendamping masyarakat di Kabupaten Bekasi,
District Fasilitator Team (berdiri belakang), Marwanto (kiri) dan Hartono.(kanan)
dan Community Facilitator Team (duduk depan)., Siti Aisyah (kiri), Asep fajar (tengah) dan Istiqamah (kanan)


Desa ini merupakan salah satu lokasi dalam lingkup kegiatan program ICWRMIP khususnya Sub Komponen 2.3 yaitu Dukungan Prakarsa Masyarakat dan LSM untuk Perbaikan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi yang berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan. Lokasi desa ini tepat berada di Bantaran Saluran Tarum Kanal Barat, salah satu saluran dari Sungai Citarum yang mensuplai kebutuhan air baku Jakarta. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat melalui pengembangan sistem sanitasi berbasis masyarakat dan perbaikan perilaku hidup sehat. Nantinya di desa ini akan di bangun sistem sanitasi komunal, pengadaan air bersih dan penanganan sampah terpadu.

Selain Desa Pasir Tanjung, desa lain di Kabupaten Bekasi yang juga termasuk dalam kegiatan ini adalah Desa Hegar Mukti dan Desa Jaya Mukti. Bersama dengan dua rekan lainnya sesama Community Facilitator yaitu Istiqomah dan Asep Fajar Supriatna mereka bahu membahu mendampingi masyarakat desa merencanakan sistem sanitasi. Ai mendampingi masyarakat khususnya di bidang Kesehatan Masyarakat.

Tugasnya adalah memberikan pengetahuan kepada warga untuk memperbaiki perilaku hidup sehat. Programnya dikenal dengan nama Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Mantan perawat ICU dari salah satu rumah sakit di Bekasi, dan jebolan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat ini tersentuh hatinya ketika melihat lingkungan di sekelilingnya belum sadar sepenuhnya akan arti kesehatan.

Ai memang merupakan warga asli dari Desa Pasir Tanjung, ia juga sempat mengalami masa-masa ketika dia juga masih bersama dengan warga lainnya melakukan aktivitas MCK di pinggir kali. “Bukan murni dari kondisi ekonomi, namun memang kebiasaan dan perilaku masyarakat yang sudah ada sejak jaman dahululah yang susah untuk dirubah”, tuturnya.

Tidak Terpaku Waktu

Maka saat ini Ai terpanggil untuk mengabdikan diri bergabung dengan kegiatan ini agar masyarakat di sekitarnya bisa hidup lebih baik. Bekerja dengan masyarakat memang banyak tantangannya. ”Kapan masyarakat membutuhkan kami, maka kami harus siap, tidak terpatok dengan jam kerja pada umumnya, misalnya pertemuan pada malam hari”, imbuh Ai. Pertemuan pengajian, PKK, arisan maupun Posyandu dimanfaatkan Ai untuk memberikan materi penyuluhan tentang kesehatan. Ai memahfumi, tingkat pengetahuan masyarakat yang rendah menjadi salah satu penyebab kurang sadarnya masyarakat akan arti pentingnya hidup sehat. Harapannya jika perilaku masyarakat bisa berubah, kesehatan lebih baik, maka nantinya kesejahteraan masyarakatpun akan meningkat.

Selaras dengan apa yang dilakukan dengan Ai, Isti, panggilan akrab Istiqamah adalah fasilitator pendamping di bidang pemberdayaan masyarakat. Ia menuturkan bahwa dalam kegiatan ini masyarakat diajak untuk ikut memberikan kontribusi yang bertujuan agar masyarakat juga merasa terlibat langsung dan merasa bertanggung jawab dalam
pelaksanaannya.

Isti bertugas untuk menggali permasalahan, usulan dan apa sebenarnya yang diinginkan masyarakat dari kegiatan ini. “Kalau kegiatan ini memang benar-benar berdasarkan dari aspirasi mereka diharapkan keberlanjutan dari kegiatan ini dapat terjaga dengan baik”, ujarnya. “Jangan sampai jika kegiatan ini sudah selesai apa yang sudah dibangun bersama terlantar sia-sia tidak dirawat dan tidak dipergunakan dengan baik karena masyarakat tidak merasa memiliki dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah diupayakan dengan kerja keras”, kata Isti.

Sama dengan Ai, terjun di dunia masyarakat memang memberikan warna tersendiri bagi wanita 2 dari 3 bersaudara berusia 28 tahun ini. Tantangannya pun tidak sedikit, awalnya warga masih belum yakin sepenuhnya mengenai kegiatan ini. Namun dengan pendekatan yang kekeluargaan akhirnya masyarakat saat ini sudah lebih mudah untuk diajak bekerja sama. “Seperti menemukan keluarga baru”, tambah Isti bersemangat.

Masyarakatpun tidak sungkan-sungkan lagi memberikan pendapat dan usulan mereka. Ini dapat dilihat dari senda gurau mereka dengan masyarakat setempat ditengah-tengah acara rembug warga dalam perencanaan perbaikan sanitasi di lingkungan setempat. “Mudah-mudahan kerja keras kami nanti sebanding dengan hasil yang diharapkan, agar lingkungan nantinya bisa lebih bersih dan masyarakat hidup lebih sehat”, begitu harapannya.

sosialisasi-pstanjung-05 Keterangan foto: Para fasilitator dengan masyarakat binaan di desa Pasir Tanjung

Menampung Ide

Fasilitator Asep Fajar Supriyatna, pemuda yang kerap dipanggil Asep ini juga menuturkan hal yang senada. Berbeda dengan Ai dan Isti yang melakukan pendampingan
kesehatan, maka Asep lebih pada memberikan pendampingan di bidang teknis. Nantinya di Desa Pasir Tanjung ini akan ada sistem penyediaan air bersih 2 unit, sistem sanitasi komunal 3 unit dan sistem pengelolaan sampah 1 unit. Asep-lah yang bertugas mendampingi masyarakat menyusun rencana teknisnya. “Apa yang akan dibuat oleh masyarakat ini harus dari usulan mereka sendiri, apa yang mereka mau mereka sendirilah yang menentukan”, kata Asep. Tugas fasilitator pendamping
juga menampung ide-ide dan usulan masyarakat.

Mengumpulkan masyarakat adalah tantangan terbesar bagi pemuda asal Majalengka ini. Latar belakang pekerjaan masyarakat yang mayoritas petani, membuat jam pertemuan kadang tidak menentu. “Saya sekarang tinggal di kawasan sekitar sini, selain jarak yang tidak terlalu jauh, rasanya senang tinggal dekat dengan masyarakat”, ujar Asep tersenyum. Asep menambahkan, merupakan kebanggaan tersendiri bagi dirinya dan rekan-rekannya apabila yang mereka perjuangkan saat ini dapat berhasil dan memberikan dampak bagi yang berarti untuk memperbaiki kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ketiga fasilitator ini merupakan tim fasilitator masyarakat yang bekerja di tingkat desa dan dibawahi oleh tim konsultan tingkat kabupaten. Pemilihannya dilakukan melalui seleksi yang cukup ketat. Sebelum terjun ke lapangan mereka diberikan pelatihan mengenai materi-materi yang akan disampaikan ke masyarakat oleh tim tersendiri yang telah ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan dalam kerangka kegiatan.

Tulisan: Nancy Rosma Rini, Foto: Ng Swan Ti/Dok.Cita-Citarum


Artikel ini merupakan bagian dari:
Laporan Foto: Proses Awal Sebuah Upaya, (PDF, 20 MB)